TQN PP.Suryalaya

TQN PP.Suryalaya
Website ini untuk Syiar Islam & ragam info bukan untuk profit bisnis
 

Hampir seluruh umat Islam di seluruh dunia, mengenal sistem kalender Masehi. Bahkan, ketika diminta untuk menyebutkan nama-nama bulan Masehi, mereka dengan mudah mengucapkannya.Sebaliknya, ketika dimintai pendapatnya tentang kalender Islam atau hijriyah, kebanyakan mereka akan menggelengkan kepala, tanda tak tahu. Sungguh sangat memprihatinkan, sebab mereka tidak mengetahui kalendernya sendiri. Bahkan bulan apa yang pertama dari kalender hijriyah, mereka pun tak tahu. Hal ini dikarenakan minimnya sosialisasi keberadaan kalender hijriyah pada umat Islam.
Sistem penanggalan Islam dimulai pada saat Rasulullah S.A.W. berhijrah dari Makkah ke Madinah. Perpindahan (hijrahnya) Rasulullah ini, menunjukkan adanya tujuan dalam menggapai kedamaian bagi umat Islam. Intinya, meninggalkan keburukan menuju pada kebaikan. Seperti diketahui, peristiwa hijrah Rasulullah itu terjadi pada Kamis, bertepatan dengan 15 Juli 622 Masehi. Sejak itulah dihitung sebagai tahun hijriyah. Berbeda dengan tahun Masehi yang dimulai pada 1 Januari, sistem penanggalan Islam diawali pada 1 Muharram. Dan dalam setahun, sama-sama berisi 12 bulan.
Kendati penerapan kalender hijriyah, merujuk pada tahun hijrahnya Rasulullah dari Makkah ke Madinah, namun penanggalan itu baru resmi digunakan setelah 17 tahun kemudian saat sistem pemerintahan Islam dipimpin Khalifah kedua, Umar bin Khattab. Penetapan awal tahun Hijriyah yang dilakukan Khalifah Umar ini, merupakan upaya dalam merasionalisasikan berbagai sistem penanggalan yang digunakan pada masa pemerintahannya. Terkadang sistem penanggalan yang satu tidak sesuai dengan sistem penanggalan yang lain sehingga sering menimbulkan persoalan dalam kehidupan umat.
Bila menilik sejarahnya, sebelum datangnya Islam, bangsa Arab telah menggunakan kalander tersendiri. Hanya saja, mereka belum menetapkan tahun, namun sudah mengenal nama-nama bulan dan hari. Kalau pun harus menggunakan tahun, itu hanya berkaitan dengan peristiwa yang terjadi, seperti tahun gajah yang dinisbatkan pada masa penyerbuan Abrahah ketika akan menghancurkan Ka'bah.
Karena kesulitan dalam menetapkan tahun tersebut dan seiring dengan makin banyaknya persoalan yang ada terkait dengan sistem kalender yang baku, maka Khalifah Umar berinisiatif menetapkan awal hijrah sebagai permulaan tahun Masehi, setelah melakukan musyawarah dengan sejumlah sahabat.
Dari sini disepakati bahwa tahun hijrahnya Nabi Muhammad S.A.W beserta para pengikutnya dari Makkah ke Madinah adalah tahun pertama dalam kalender Islam. Sedangkan nama-nama bulan tetap digunakan sebagaimana sebelumnya, yakni diawali pada bulan Muharram dan diakhiri dengan bulan Dzulhijjah.
Peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad beserta para pengikutnya dari Makkah ke Madinah yang dipilih sebagai titik awal perhitungan tahun, tentunya mempunyai makna yang amat dalam bagi umat Islam. Peristiwa hijrah dari Makkah ke Madinah tersebut, merupakan peristiwa besar dalam sejarah awal perkembangan Islam. Peristiwa hijrah adalah pengorbanan besar pertama yang dilakukan nabi dan umatnya untuk keyakinan Islam, terutama dalam masa awal perkembangannya. Peristiwa hijrah ini juga melatarbelakangi pendirian kota Muslim pertama.
Tahun baru dalam Islam mengingatkan umat Islam tidak akan kemenangan atau kejayaan Islam, tetapi mengingatkan pada pengorbanan dan perjuangan tanpa akhir di dunia ini.

Rotasi Bulan

Hanya saja, bila dalam tahun Masehi terdapat sekitar 365-366 hari dalam setahun, dalam tahun hijriyah hanya berjumlah sekitar 354-355 hari. Menurut Izzudin, perbedaan ini dikarenakan adanya konsistensi penghitungan hari dalam kalender hijriyah.
Rata-rata jumlah hari dalam tahun hijriyah antara 29-30 hari. Sedangkan tahun masehi berjumlah dari 28-31 hari. Inilah yang membedakan jumlah hari antara tahun masehi dengan tahun hijriyah.
Pada sistem kalender Hijriyah, sebuah hari atau tanggal dimulai ketika terbenamnya matahari di tempat tersebut. Kalender Hijriyah dibangun berdasarkan rata-rata silkus sinodik bulan, memiliki 12 bulan dalam setahun. Dengan menggunakan siklus sinodik bulan, bilangan hari dalam satu tahunnya adalah (12 x 29,53059 hari = 354,36708 hari). Hal inilah yang menjelaskan hitungan satu tahun kalender Hijriyah lebih pendek sekitar 11 hari dibanding dengan penghitungan satu tahun dalam kalender Masehi.
Faktanya, siklus sinodik bulan bervariasi. Jumlah hari dalam satu bulan dalam kalender Hijriyah bergantung pada posisi Bulan, Bumi dan Matahari. Usia bulan yang mencapai 30 hari bersesuaian dengan terjadinya bulan baru (new moon) di titik apooge, yaitu jarak terjauh antara bulan dan bumi, dan pada saat yang bersamaan, bumi berada pada jarak terdekatnya dengan matahari (perihelion).
Sementara itu, satu bulan yang berlangsung 29 hari bertepatan dengan saat terjadinya bulan baru di perige (jarak terdekat bulan dengan bumi) dengan bumi berada di titik terjauhnya dari matahari (aphelion). Dari sini terlihat bahwa usia bulan tidak tetap melainkan berubah-ubah (antara 29 hingga 30 hari) sesuai dengan kedudukan ketiga benda langit tersebut (Bulan, Bumi, dan Matahari).
Penentuan awal bulan ditandai dengan munculnya penampakan Bulan Sabit pertama kali (hilal) setelah bulan baru (konjungsi atau ijtimak). Pada fase ini, Bulan terbenam sesaat setelah terbenamnya Matahari, sehingga posisi hilal berada di ufuk barat. Jika hilal tidak dapat terlihat pada hari ke-29, maka jumlah hari pada bulan tersebut dibulatkan menjadi 30 hari. Tidak ada aturan khusus bulan-bulan mana saja yang memiliki 29 hari, dan mana yang memiliki 30 hari. Semuanya tergantung pada penampakan hilal.

Kalender Hijriyah
Umar bin Khattab, ketika menjadi khalifah, bercita-cita menyatukan seluruh umat Muslim di bawah naungan Islam. Salah satu caranya adalah dengan membuat kalender Islam. Maka pada tahun 637 atau tahun ke-16 hijriah, khalifah kedua itu memberlakukan penanggalan baru berdasarkan hijrah Nabi Muhammad S.A.W. Kalender tersebut kemudian populer dengan nama kalender hijriyah atau kalender Islam.
Sebelumnya, masyarakat Arab menggunakan penanggalan berdasarkan peristiwa-peristiwa besar yang terjadi di sekeliling mereka. Salah satu contohnya, peristiwa penyerangan Raja Abrahah terhadap Ka'bah yang disebut Tahun Gajah.
Bagi Umar, seperti diungkapkan oleh Husain Haekal dalam Umar bin Khattab, peristiwa hijrah Nabi S.A.W jauh lebih besar daripada peristiwa-peristiwa bangsa Arab lainnya. Meski demikian, penetapan kalender hijriyah tetap melalui musyawarah dengan para sahabat lainnya. Pada mulanya muncul banyak sekali pendapat dan perdebatan. Ada usulan agar tahun Islam dimulai dengan kelahiran Nabi Muhammad S.A.W.
Usulan itu disetujui oleh banyak sahabat. Karena sebelumnya sering terjadi suatu kelompok menghormati orang yang sangat berpengaruh dengan cara menjadikan hari kelahirannya sebagai permulaan perhitungan tahun atau kalender. Misalnya saja penanggalan Masehi yang dikenal oleh masyarakat Arab dengan istilah tahun miladi. Miladi artinya tahun kelahiran, merujuk pada kelahiran Nabi Isa AS.
Akan tetapi, meskipun banyak sahabat yang setuju dengan usulan tersebut, khalifah Umar menolaknya. Ada pula yang mengusulkan supaya peristiwa Isra Mi'raj menjadi awal kalender hijriyah. Sementara itu, yang lainnya mengusulkan supaya tahun pengangkatan Muhammad menjadi Rasul saat menerima wahyu di Gua Hira, dan lain sebagainya. Semua usulan ini ditolak oleh Umar bin Khattab. Setelah melalui musyawarah yang ketat, Ali bin Abi Thalib mengusulkan supaya kalender Islam dimulai dengan hijrah Rasulullah dari Makkah ke Madinah. Dan usulan ini akhirnya disepakati oleh seluruh sahabat termasuk Umar bin Khattab.
Menurut Cak Nur, sapaan Nurcholish Madjid, hijrah itu suatu kegiatan atau aktivitas. Sedangkan kelahiran bukanlah kegiatan, melainkan sesuatu yang diterima secara pasif. Di samping itu, katanya, memperingati hari kelahiran seseorang di dalamnya terdapat unsur pemujaan terhadap orang itu.
Oleh karena itu, Umar menolak usulan penanggalan Islam dimulai dari kelahiran Nabi SAW. Ia memberikan alasan bahwa Nabi SAW ketika lahir belum menjadi nabi, melainkan manusia biasa. Sejarah membuktikan, prestasi gemilang Rasulullah digapai setelah melakukan hijrah.
Banyak ahli tafsir yang menyatakan, surat ad-Dhuha [93] ayat 5, “Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas,” adalah kemenangan-kemenangan yang dijanjikan Allah setelah hijrah. Dan memang, ketika Nabi wafat pada tahun ke-10 Hijriyah, beliau menjadi Nabi yang paling sukses dalam sejarah umat manusia.
Oleh karena itu, Umar sangat yakin bahwa kalender hijriyah lebih baik daripada kalender Persia dan Rumawi. Letak keistimewaannya jelas, yaitu didasarkan pada peristiwa terbesar dalam sejarah manusia yang mengubah umat jahiliyah menjadi umat beradab. Di dalam hijrah tersebut, menurut Umar, terdapat pertolongan Allah kepada Rasul dan agama-Nya.
Tahun satu penanggalan hijriyah dimulai sejak datangnya Nabi di Madinah, yaitu pada tahun 622 M. Dengan demikian, 622 Masehi disebut sebagai tahun 1 Hijrah. Sebagaimana ditulis oleh John L Esposito dalam Ensiklopedi Dunia Islam Modern, kalender hijriah kemudian menjadi bagian yang prinsip di tengah umat Islam.
Setelah ditetapkan kalender hijriyah persatuan umat Islam kala itu bertambah kuat. Haekal menuturkan pada tahun penetapan kalender hijriah (637 M), pahlawan-pahlawan Islam sedang melakukan penaklukan-penaklukan di berbagai kawasan dan membawa kemenangan. Di antaranya di wilayah Madain dan Baitul Maqdis.

Sistem Penanggalan yang Digunakan di Dunia

Masyarakat dunia mengenal beberapa macam sistem penanggalan dan kalender. Sedikitnya ada empat sistem penanggalan, yaitu kalender Hijriyah, Masehi, Saka, dan Cina. Masing-masing kalender tersebut dibangun menggunakan mekanisme penghitungan yang berbeda satu sama lain.
Kalender Hijriyah atau kalender Islam, misalnya, menggunakan sistem kalender lunar (qomariyah) yang mengacu kepada siklus perputaran bulan. Kalender Masehi menggunakan basis penghitungan kalender solar(syamsiyah) yang mengacu kepada siklus peredaran matahari.
Sementara kalender Saka dan kalender Cina menggunakan sistem penanggalan syamsiyah dan qomariyah atau sering disebut dengan istilah kalender luni-solar.

•    Penanggalan Hijriyah
Dalam menentukan tanggal atau bulan yang berkaitan dengan ibadah atau hari-hari penting lainnya, umat Islam berpatokan pada sistem penanggalan Hijriyah. Bahkan, di banyak negara yang berpenduduk mayoritas Islam, kalender Hijriyah digunakan sebagai sistem penanggalan sehari-hari.
Kalender ini dinamakan kalender Hijriyah, karena pada tahun pertama kalender ini adalah tahun dimana terjadi peristiwa Hijrah-nya Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah, yakni pada tahun 622 Masehi (M). Namun penentuan kapan dimulainya tahun 1 Hijriyah baru dilakukan enam tahun setelah wafatnya Nabi Muhammad S.A.W, atau 17 tahun setelah hijrah, yakni semasa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab.
Namun demikian, sistem yang mendasari penghitungan kalender Hijriyah telah ada sejak zaman pra-Islam, dan sistem ini direvisi pada tahun ke-9 setelah Hijrahnya Nabi SAW. Revisi sistem ini dilakukan setelah turunnya wahyu Allah, ayat 36-37 Surat At-Taubah, yang melarang menambahkan hari (interkalasi) pada sistem penanggalan.

•    Kalender Masehi
Kata Masehi (disingkat M) dan Sebelum Masehi (disingkat SM) biasanya merujuk kepada tarikh atau tahun menurut Kalender Gregorian. Awal tahun Masehi merujuk kepada tahun yang dianggap sebagai tahun kelahiran Nabi Isa al-Masih, karena itu kalender ini dinamakan Masihiyah. Kebalikannya, istilah Sebelum Masehi (SM) merujuk pada masa sebelum tahun tersebut.
Sebagian besar orang non-Kristen biasanya mempergunakan singkatan M dan SM ini tanpa merujuk kepada konotasi Kristen tersebut. Sementara penggunaannya secara internasional dalam bahasa Inggris, istilah Masehi disebut menggunakan bahasa Latin Anno Domini (AD) yang berarti Tahun Tuhan kita, dan Sebelum Masehi disebut sebagai Before Christ (BC) yang bermakna Sebelum Kristus.
Selain itu dalam bahasa Inggris juga dikenal sebutan Common Era (CE) yang berarti 'Era Umum' dan Before Common Era (BCE) yang bermakna 'Sebelum Era Umum.' Kedua istilah ini biasanya digunakan ketika ada penulis yang tidak ingin menggunakan nama tahun Kristen.
Sistem penanggalan yang merujuk pada awal tahun Masehi ini mulai diadopsi di Eropa Barat pada abad ke-8. Sistem ini mulai dirancang tahun 525, namun tidak begitu luas digunakan hingga abad ke-11 hingga ke-14. Pada tahun 1422, Portugis menjadi negara Eropa terakhir yang menerapkan sistem penanggalan ini. Setelah itu, seluruh negara di dunia mengakui dan menggunakan konvensi ini untuk mempermudah komunikasi.
Meskipun tahun ke-1 dianggap sebagai tahun kelahiran Yesus, namun bukti-bukti historis terlalu sedikit untuk mendukung hal tersebut. Para ahli menanggali kelahiran Yesus secara bermacam-macam, dari 18 SM hingga 7 SM.
Sejarawan tidak mengenal tahun 0-1 M adalah tahun pertama sistem Masehi dan tepat setahun sebelumnya adalah tahun 1 SM. Dalam perhitungan sains, khususnya dalam penanggalan tahun astronomis, hal ini menimbulkan masalah karena tahun Sebelum Masehi dihitung dengan menggunakan angka 0, maka dari itu terdapat selisih 1 tahun di antara kedua sistem.

•    Tahun Saka
Kalender Saka adalah sebuah kalender yang berasal dari India. Kalender ini merupakan sebuah penanggalan syamsiyah qomariyah (candra surya) atau kalender luni solar. Tidak hanya digunakan oleh masyarakat Hindu di India, kalender Saka juga masih digunakan oleh masyarakat Hindu di Bali, Indonesia, terutama untuk menentukan hari-hari besar keagamaan mereka.
Sistem penanggalan Saka sering juga disebut sebagai penanggalanSaliwahana. Sebutan ini mengacu kepada nama seorang ternama dari India bagian selatan, Saliwahana, yang berhasil mengalahkan kaum Saka. Tetapi sumber lain menyebutkan justru kaum Saka dibawah pimpinan Raja Kaniskha I yang memenangkan pertempuran tersebut. Peristiwa tersebut terjadi pada bulan Maret tahun 78 Masehi.
Sejak tahun 78 Masehi itulah ditetapkan adanya tarikh atau perhitungan tahun Saka, yang satu tahunnya juga sama-sama memiliki 12 bulan dan bulan pertamanya disebut Caitramasa, bersamaan dengan bulan Maret tahun Masehi. Sejak itu pula kehidupan bernegara, bermasyarakat dan beragama di India ditata ulang. Oleh karena itu peringatan Tahun Baru Saka bermakna sebagai hari kebangkitan, hari pembaharuan, hari kebersamaan (persatuan dan kesatuan), hari toleransi, hari kedamaian sekaligus hari kerukunan nasional.
Mengenai kaum Saka ada yang menyebut bahwa mereka termasuk suku bangsa Turki atau Tatar. Namun ada pula yang menyebut bahwa mereka termasuk kaum Arya dari suku Scythia. Sumber lain lagi menyebut bahwa mereka sebenarnya orang Yunani (dalam bahasa Sansekerta disebut Yavana yang berkuasa di Baktria (sekarang Afganistan).

•    Kalender Cina
Seperti halnya kalender Saka, kalendar Cina juga menggunakan sistem penanggalan //luni solar.// Menurut legenda, kalendar Cina berkembang sejak tahun ketiga sebelum Masehi. Para ahli menyepakati kalendar Cina sebagai patokan penanggalan yang paling lama digunakan di dunia. Kalendar ini dikatakan adalah ciptaan pemerintah Huang Di atau Maharaja Kuning, yang memerintah sekitar 2698-2599 SM.
Bukti arkeologi terawal mengenai kalendar Cina ditemukan pada selembar naskah kuno yang diyakini berasal dari tahun kedua sebelum Masehi atau pada masa dinasti Shang berkuasa, yang memaparkan tahun luni solar yang lazimnya 12 bulan namun kadang-kadang adanya bulan ke-13, lebih-lebih lagi bulan ke-14. Penambahan bilangan bulan dalam tahun kalendar memastikan peristiwa tahun baru tetap dilangsungkan dalam satu musim saja, sebagaimana kalender Masehi meletakkan satu hari tambahan pada bulan Februari setiap empat tahun.
Di negara Cina sekarang, kalendar Cina hanya digunakan untuk menandai perayaan orang Cina seperti Tahun Baru Cina, perayaan Duan Wu, dan Perayaan Kuih Bulan, serta dalam bidang astrologi, seperti memilih tahun yang sesuai untuk melangsungkan perkawinan atau meresmikan pembukaan bangunan baru. Sementara untuk kegiatan harian, masyarakat Cina mengacu kepada hitungan kalender Masehi.

Lain Negara Lain Sistem Kalender
Meski berpenduduk mayoritas Muslim, namun hal itu tidak menjamin sistem penanggalan dan bulan yang digunakan memiliki kesamaan. Kondisi tersebut hingga kini berlangsung di beberapa negara Muslim seperti Libya, Iran, Afganistan, Oman, dan Indonesia.

•    Libya
Negara yang terletak di kawasan Afrika Utara ini salah satu contoh negara yang menerapkan sistem kalender yang berbeda dari yang kita kenal saat ini. Dalam adat kebiasaan yang ada dan yang banyak digunakan, kita mengenal nama-nama bulan Januari, Februari, Maret, April, Mei dan seterusnya. Namun dalam hal ini Libya memiliki nama-nama tersendiri yang tidak dimiliki oleh negara lain. Penggunaan nama-nama lain tersebut memilki alasan tersendiri yaitu untuk menghapus pengaruh Yunani dan Romawi kuno yang dikenal sebagai bangsa pemuja berhala.
Libya menggunakan nama Ayyin Nar sebagai pengganti Januari. An-Nawwar pengganti Februari, Ar-Rabi' (Maret), Ath-Thair (April), Al-Mak(Mei), Ash-shaif (Juni), Nashir (Juli), Hanibal (Agustus), Al-Fatih(September), At-Tumur (Oktober), Al-Harst (November) dan Al-Kanunsebagai pengganti Desember.
Lain bulan lain pula masalah tahun. Dalam penggunaan tahun, Libya juga memiliki corak tersendiri. Ketika semuanya menggunakan tahun Masehi atau tahun Hijriyah, Libya membuat kebijakan lain. Dalam masalah tahun, Libya tidak menggunakan tahun Hijriyah, namun memakai Min wafat Ar-Rasul S.A.W. Hitungan tahun bukan dari hijrah Nabi S.A.W, namun dihitung dari wafat beliau.
Pemimpin Libya Muammar Qadafi pernah menjelaskan bahwa wafatnya Nabi S.A.W merupakan peristiwa yang sangat penting yang harus dicatat dalam sejarah. Kewafatan Nabi Muhammad adalah terputusnya wahyu dari Allah SWT karena tidak ada Nabi setelahnya. Karenanya, menurut Qadafi, kewafatan Nabi S.A.W pantas untuk dikenang dalam sejarah dan dijadikan sebagai patokan tahun.
Walaupun Libya mempunyai nama-nama bulan lain, namun nama-nama bulan Islam seperti Muharram, Safar dan seterusnya tetap dipakai untuk menandai peringatan-peringatan hari besar Islam. Sedangkan mengenai tahun, Libya cuma menggunakan tahun Maeshi dan tahun wafatnya Nabi S.A.W.

•    Oman
Kesultanan Oman menggunakan sistem penanggalan dan bulan berdasarkan kalender Hijriyah yang didasarkan pada perhitungan beredarnya bulan terhadap bumi atau orang Indonesia menyebutnya kalender Qomariyah. Sementara kalender Masehi tetap digunakan, namun terbatas di kalangan kaum imigran atau pendatang dari India atau negara-negara Eropa.

•    Indonesia
Negara di kawasan Asia Tenggara yang penduduknya mayoritas Muslim ini menggunakan sistem penanggalan dan bulan yang mengacu pada kalender Masehi, seperti kebanyakan negara di dunia. Sedangkan kalender Hijriyah digunakan secara tak resmi, yakni hanya digunakan untuk menandai peringatan hari-hari besar Islam pada kalender Masehi.

•    Iran
Meski menggunakan nama Hijriyah, namun sistem kalender di Iran berbeda dengan sistem penanggalan Hijriyah yang kita kenal selama ini. Kalender Iran adalah kalender Hijriyah Solar (kalender Hijriyah dengan perhitungan matahari). Sementara kalender Hijriyah yang kita kenal menggunakan perhitungan bulan (Qomariyah). Selain berlaku di Iran, kalender ini juga dipakai di Afganistan dan Tajikistan sebagai sesama rumpun bangsa Persia.
Kalender Iran diciptakan Raja Cyrus tahun 530 SM, dan dibuat lebih akurat pada awal abad ke-12 oleh ahli matematika dan astronomi yang juga sastrawan, Umar Khayyam (1050-1122). Tahun baru (Nawruz) selalu jatuh pada awal musim semi. Nama-nama bulan adalah Farwardin, Ordibehest, Khordad, Tir, Mordad, Shahriwar, Mehr, Aban, Azar, Dey, Bahman, dan Esfand. Enam bulan pertama 31 hari dan lima bulan berikutnya 30 hari. Bulan terakhir, Esfand, 29 hari (tahun biasa) atau 30 hari (tahun kabisat yang empat tahun sekali).
Dibandingkan dengan kalender solar yang lain, kalender Iran paling cocok dengan musim. Tanggal 1 Farwardin selalu 21 Maret (awal musim semi), tanggal 1 Tir selalu 22 Juni (awal musim panas), tanggal 1 Mehr selalu 23 September (awal musim gugur), dan tanggal 1 Dey selalu 22 Desember (awal musim dingin). Setelah bangsa Iran memeluk agama Islam, tahun hijrah Nabi (622 M) dijadikan Tahun Satu, tetapi kalender tetap berdasarkan matahari.

Sumber: republika.co.id
Oleh Syahruddin El-Fikri
(Wartawan Republika, GM Redaksi, Promosi, dan Produksi Republika Penerbit) 

Poskan Komentar

 
Top