TQN PP.Suryalaya

TQN PP.Suryalaya
Website ini untuk Syiar Islam & ragam info bukan untuk profit bisnis
 

Allah SWT berfirman, “Adapun orang-orang yang takut dengan kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah menjadi tempat tinggalnya”. (An-Naazi’aat 40-41).
Diceritakan dari Jabir bin AbdiLlah bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Saya peringatkan umatku terhadap sesuatu yang saya takuti, yaitu mengikuti hawa nafsu dan panjang angan-angan. Mengikuti hawa nafsu akan menjauhkan diri dari kebenaran sedangkan panjang angan-angan akan melupakan akhirat.  Kemudian katakanlah, ‘sesungguhnya mencegah hawa nafsu adalah fondasi ibadah”.

Salah seorang dari para guru sufi pernah ditanya tentang Islam maka beliau menjawab, “Menyembelih nafsu dengan pedang yang mampu mencegahnya. Oleh karena itu katakanlah, orang yang memperlihatkan bekas (pengaruh) hawa nafsunya, maka cahaya kelembutan akan sirna dari hatinya”.
Menurut Dzunun Al Mishri, kunci ibadah adalah berfikir, tanda-tanda cobaan / ujian adalah mencegah hawa dan nafsu, sedangkan mencegah keduanya harus meninggalkan keinginan keduanya. Manurut Ibnu Atha’ Nafsu akan didaki di atas buruknya budi pekerti, dan seorang hamba diperintah agar terus menerus berbudi pekerti yang baik. Oleh karena itu nafsu akan berjalan di medan penentangan kebaikan karena kelobaannya dan seorang hamba akan menolak keburukan tuntutannya dengan sungguh-sungguh. Barang siapa melepas tali kekangnya (yaitu hawa nafsu) maka ia akan menjadi temannya dalam membuat kerusakan. Sedangkan menurut Al-Junaid, nafsu amarah akan selalu memerintah berbuat jahat, mendorong pada perbuatan merusak yang dipancing oleh musuh-musuh, mengiuti keinginan nafsu, dan penghiasan diri dengan sifat-sifat buruk.
Abu Hafs mengatakan, “Barang siapa yang tidak mempedulikan nafsunya sepanjang masa, tidak mencegahnya dalam segala hal, dan tidak menariknya dari segala hal yang dibenci, maka dia adalah orang yang tertipu. Barang siapa yang menganggap baik, maka ia akan dirusak. Bagaimana mungkin orang yang berakal sehat rela terhadap hawa nafsunya”. Karim bin Karim bin Karim bin karim Yusuf bin ya’qub bin Ibrahim AL Khalil mengomentari dengan menggunakan firman Allah,”Dan aku tiada melepaskan hawanafsuku, karena sesungguhnya nafsu itu selalu mememrintahkan kepada keburukan”. (QS. Yusuf : 53)
Al-Junaid menceritakan bahwa pada suatu malam ia sedang terjaga dan mengambil bunga warna merah. Dia belum pernah mendapatkan kenikmatan yang sekarang sedang diprolehnya. Dia ingin tidur tetapi tidak bisa. Kemudian ia membuka pintu dan keluar. Tiba-tiba ada seorang laki-laki yang terbungkus dalam selimut yang terbuang di tengah jalan. Ketika mengetahuinya, laki-laki itu mengangkat kepalanya kemudian berteriak memanggil, “Wahai Abu Qasim datanglah kepada saya sejenak”. 
“Wahai tuan, tanpa ada perjanjian “.
“Tentu saya bertanya tentang penggerak hati yang hatimu ingin bergerak (datang) kepadaku”.
“Itu telah terjadi, lantas apa kepentinganmu ?”
“Kapan penyakit nafsu menjadi obat ?”
“Apabila engkau mampu mencegah keinginan nafsumu, maka penyakitnya menjadi obat”.

Setelah itu ia menghadapkan dirinya pada nafsunya. Dia mencoba berkonsentrasi sebelum akhirnya mengatakan, “Wahai nafsu, dengarkanlah ! Saya telah menjawabmu dengan jawaban ini sebanyak tujuh kali, kemudian saya menolakmu kecuali engkau mau mendengarkan jawaban dari Junaid. Saya telah mendengarkannya. Untuk itu pergilah dariku . saya tidak mau tahu dan tidak mau memberimu posisi”.
Menurut Abu Bakar At-Thamatsani, kenikmatan yang terbesar adalah kemampuan diri untuk menghindar dari keinginan nafsu. Ia akan menjadi penghalang yang paling kuat antara diri hamba dengan Allah. Menurut Sahal bin AbduLlah, orang yang tidak dapat beribadah kepada Tuhan seperti orang yang tidak mampu mencegah nafsu dan dorongannya. Ibnu Atha pernah ditanya tentang sesuatu yang paling mendekati kemarahan Allah. Dia menjawab, “memperhatikan nafsu dan hal ihwalnya. Lebih hebat dari itu mengetahui tujuan dari aktivitasnya (nafsu).
Ibrahim Al-Khawas mengatakan, “Saya berada di Gunung Lukam. Ketika itu saya melihat sebuah delima. Saya sangat menginginkannya. Saya mendekat dan mengambilnya sebuah. Saya belah dan saya makan, tetapi rasanya masam. Kemudian saya berlalu dan meninggalkan delima itu. Setelah itu saya melihat seorang laki-laki terlempar dengan membawa rebana. Saya mengucapkan salam kepadanya, kemudian dia menjawab, “Wa’alaikum salam yaa Ibrahim”.
“Bagaimana engkau mengetahui namaku ?”
“Orang yang oleh Allah telah diberikan pengetahuan ma’rifat maka tidak ada sedikitpun yang samar / tersembunyi baginya.”
“Saya selalu melihat keadaanmu selalu bersama Allah. Bagaimana seandainya saya menanyakan penyakit yang melarang dan menjagamu agar terhindar dari beberapa tuduhan “.
“Saya selalu melihat keadaanmu selalu bersama Allah. Bagaimana seandainya saya menanyakan penyakit yang menjagamu agar terhindar dari keinginan terhadap buah delima. Sesungguhnya sakit sengatan delima akan ditemukan oleh orang di akhirat. Sedangkan sakit sengatan beberapa tuduhan akan ditemukan oleh orang di dunia.’ Setelah itu saya (Ibrahim Al-Khawash) berlalu dan meninggalkannya.

Bersambung ke bagian Kedua

Sumber:  manakib.wordpres.com

Poskan Komentar

 
Top