TQN PP.Suryalaya

TQN PP.Suryalaya
Website ini untuk Syiar Islam & ragam info bukan untuk profit bisnis
 

Haris    seorang   Badawi,   dan   istrinya   Nafisa   hidup berpindah-pindah tempat membawa tendanya yang tua. Dicarinya tempat-tempat  yang ditumbuhi beberapa kurma, rumputan untuk untanya, atau yang mengandung sumber air betapapun kotornya. Kehidupan semacam itu telah dijalani bertahun-tahun lamanya,dan  Haris  jarang  sekali   melakukan   sesuatu   di   luar kebiasaannya.   Ia   biasa   menjerat  tikus  untuk  diambil kulitnya, dan memintal tali dari serat pohon kurma untuk  di jual kepada kafilah yang lewat. 

Namun,  pada  suatu  hari sebuah sumber air muncul di padang pasir, dan Haris pun mencicipi  air  itu.  Baginya  air  itu terasa  bagaikan air sorga, sebab jauh lebih bersih dari air yang biasa  diminumnya.  Bagi  kita,  air  itu  akan  terasa memuakkan karena sangat asin. "Air ini," katanya, "harus aku bawa keseseorang yang bisa menghargainya."
Karena itulah  ia  berangkat  ke  Bagdad,  ke  Istana  Harun al-Rasyid;  ia  pun  berjalan  tanpa  berhenti kecuali kalau makan beberapa butir kurma. Haris membawa dua kantong  kulit kambing  penuh  berisi air: satu untuk dirinya sendiri, yang lain untuk Sang Kalifah.
 Beberapa hari kemudian, ia  mencapai  Bagdad,  dan  langsung menuju istana. Para penjaga istana mendengarkan kisahnya dan hanya karena begitulah aturan di istana mereka membawa Haris ke hadapan Raja.
"Pemimpin  Kaum  yang  Setia,"  kata  Haris,  "Hamba seorang Badawi miskin, dan mengetahui segala  macam  air  di  padang pasir,  meskipun  mungkin  hanya  mengetahui sedikit tentang hal-hal lain. Hamba baru saja menemukan Air Sorga  ini,  dan menyadari bahwa ini merupakan hadiah yang sesuai untuk Tuan, hamba pun segera membawanya kemari sebagai persembahan."
Harun Sang Terus terang mencicipi air  itu  dan,  karena  ia sepenuhnya memahami rakyatnya, diperintahkannya para penjaga membawa pergi Haris dan mengurungnya di suatu tempat  sampai ia   mengambil   keputusan.   Kemudian  dipanggilnya  kepala penjaga, katanya,  "Apa  yang  bagi  kita  sama  sekali  tak berguna,  baginya  berarti  segala-galanya.  Oleh karena itu bawalah ia pergi dari istana pada malam hari. Jangan  sampai ia  melihat  Sungai Tigris yang perkasa itu. Kawal orang itu sepanjang  perjalanan  menuju  tendanya   tanpa   memberinya kesempatan  mencicipi  air segar. Kemudian berilah ia seribu mata uang emas dan terima kasihku untuk persembahannya  itu. Katakan  bahwa  ia  adalah penjaga air sorga, dan bahwa atas namaku ia boleh membagikan air itu kepada kafilah yang lalu, tanpa pungutan apapun."

Demikianlah setiap orang memiliki cara berfikir dan pandangan sesuai taraf dan kapasitasnya masing-masing yang dianugrahkan Allah SWT.
____________
Kisah ini juga dikenal sebagai 'Kisah tentang Dua Dunia.' Kisah ini diceritakan oleh Abu Al-Atahiyyah dari Suku Aniza (sezaman dengan Harun Al-Rasyid dan pendiri Darwis Makhara (Kaum Suka Ria), yang namanya diabadikan dalam istilah Mascara dalam bahasa-bahasa Barat. Pengikutnya tersebar hingga ke Spanyol, Perancis, dan negeri-negeri lain. Al-Atahiyyah disebut sebagai 'Bapak puisi suci sastra Arab'. Ia wafat tahun 828.


Sumber: sangpelembuthati.wordpress.com dan media.isnet.org

Poskan Komentar

 
Top