TQN PP.Suryalaya

TQN PP.Suryalaya
Website ini untuk Syiar Islam & ragam info bukan untuk profit bisnis
 

         
(Sambungan dari bagian kedua)

Diceritakan seorang pemuda Naisabur yang dikenal memiliki jiwa satria mengadakan perjalanan menuju kota Nasa. Ditengah istirahatnya disebuah penginapan, seorang pria bersama kawan-kawanya bertamu kepadanya untuk meminta jamuan. Para undangan itupun datang dan mereka makan bersama-sama. Selesai makan, seorang pelayan wanita keluar ke ruangan jamuan sambil membawa minuman. Dia menuangkan minuman ke masing-masing gelas di tangan para undangan. Namun begitu sampai kepada tuan rumah, dia menarik tangnnya dan mengambil wudhu. Para undangan keheranan dan bertanya-tanya. Pemuda itu mendekat seraya berkata, “Bukan termasuk orang yang satria jika membiarkan pelayan wanita menuangkan air ke dalam gelas di genggaman kaum pria”.
          “Saya semenjak beberapa tahun memasuki rumah ini,” Kata seorang pengunjung,’ belum pernah melihat seorang wanitapun yang menuangkan air minuman ke dalam gelas di tangan kaum pria”.
          Manshur Al-Maghribi berkata, “Seseorang bermaksud menguji Nuh Al-Ayyari An-Naisaburi, seorang ulama sufi naisabur. Orang itu kemudian membeli seorang budak wanita yang diberi pakaian laki-laki, dan memang budak itu dirias sehingga tampak seperti seorang pria tampan. Wajahnya sangat elok dan sikapnya menggemaskan. Budak itu dibawa ke rumah Nuh selama beberapa bulan. Selang beberapa waktu, bekas tuannya datang dan bertanya, “Apakah tuanmu (Nuh) telah mengetahui bahwa engkau adalah seorang budak wanita ?”
          “Tidak, dia tidak pernah menyentuhku sama sekali. Dia hanya membayangkan bahwa aku adalah seorang budak laki-laki”.

          Dikisahkan bahwa seorang laki-laki keji dan licik diminta istana untuk menyerahkan seorang budak guna melayani raja. Laki-laki itu menolak, maka raja memaksanya dengan memberi hukuman seribu cambuk, dan laki-laki itu tetap pada pendiriannya. Dia tidak mau menyerahkan budaknya meski dihukum berat. Bersamaan dengan itu, dimalam harinya dia bermimpi sampai mengeluarkan air mani. Dia tidak segera mandi jinabat hingga pagi hari karena udaranya sangat dingin. Seseorang yang meilhatnya bertanya, “engkau telah mempertaruhkan jiwamu.” Lalu dijawab, “saya sebenarnya malu kepada Alloh yang hanya mampu bersabar menerima pukulan seribu cambukan hanya karena makhluk, sementara untuk mandi jinabat dengan air yang dingin saja saya tidak mampu, padahal itu untuk memenuhi syariatnya.”
          Sekelompok pemuda berkunjung ke rumah seorang pemuda yang dikenal memiliki jiwa satria. Pemuda itu menerima mereka dan mengajaknya bepergian. Di tengah perjalanan mereka menghentikan langkah. Masing-masing mempersilahkan berangkat duluan,”Silahkan anda berangkat duluan’. Mereka diam tidak melangkah. Disusul orang kedua dan ketiga yang juga mengatakan hal yang sama, dan mereka tetap juga tidak bergeming dari posisinya. Hal itu berjalan cukup lama sampai tiap-tiap pengunjung saling berpandang-pandangan.
          “Tidaklah satria seseorang yang mempekerjakan orang yang melanggarnya dalam mendahului perjalanan,” kata sebagian mereka.
          “Lantas mengapa anda sendiri memperlambat langah ?” tanya seeorang kepada pemuda yang memiliki jiwa satria tadi.
          “Dia menjawab, “Di tengah jalan saya dihadang seekor semut. Tidaklah termasuk orang yang sopan jika ia saling mendaului, sementara seekor semut dibiarkan tertinggal  di belakang ; juga bukan seorang satria / perwira seseorang yang menyingkirkan semut dari jalan yang sedang dilaluinya. Karena itu saya diam menanti sampai semut itu merayap menghilang”.
          “alangkah baiknya engkau wahai pemuda !” para tamu itu kagum melihat kemuliaan akhlak pemuda itu. “Seperti engkaulah orang yang patut disebut satria”.

          Dikisahkan juga tentang seorang jama’ah haji yang ketiduran di kota Madinah. Dalam setengah sadarnya, ia dikejutkan oleh bayangan yang seakan-akan berhasil mencuri kantong uang dinarnya. Laki-laki tersebut lagsung terjaga dari tidurnya, lalu keluar dan diluar tenda dia melihat Ja’far Ash-Shadiq. Dia mencurigai Ja’far karena dialah orang yang pertama kali dilihatnya.
          “Engkau mencuri kantongku ?” Tuduhnya.
          “Apa isi kantongmu ?”
          Seirbu uang dinar.”
          Ja’far tidak menyangkal. Beliau langsung pulang mengambil sejumlah uang yang dinyatakan hilang dan memberikannya kepada laki-laki tadi. Lelaki itu kemudian membawanya pulang dan di dalam rumahnya ia melihat kantong uang dinarnya yang disangkanya hilang. Dia menyesal karena telah gegabah menuduh seseorang mencurinya, padahal ia tidak mengenal siapa lelaki itu. Dia kemudian mendatangi lelaki itu dan meminta maaf kepadanya, lalu mengembalikan uang dinar yang diterima darinya.  Syaikh Ja’far ra. Sang Pangeran Sufi itu menolak seraya mengatakan,”Sesuatu yang telah saya keluarkan dari tangan saya tidak mungkin saya minta kembali”.
          Musafir ini merasa tidak enak, dia tidak tahu siapakah lelaki aneh  yang telah dituduhnya mencuri, “Siapakah beliau ?” tanyanya kepada seseorang.
          “Ja’far  Ash-Shadiq” jawabnya.
lelaki itu pun tersungkur malu dan berlinang air mata menyesali perbuatannya.  Bahwa perbuatan yang dimulai dengan prasangka buruk akan berakibat penyesalan.

          Syaqiq Al-Balkhi pernah bertanya kepada Ja’far bin Muhmmad tentang alfutuwah ((jiwa satria)
          “Menurutmu sendiri apa “
          “Jika kami diberi, kami berterimakasih, jika tidak diberi kami bersabar”.
          “Anjing-anjing di kota kami juga berbuat seperti itu,”Timpal Ja’far.
          Wahai cucu RasuluLloh, kalau begitu menurut tuan apa makna alfutuwah ?”
          “Jika diberi kami memuliakannya, jika tidak diberi kami berterimakasih”.
          AbduLlah AL-Murta’isyi bercerita : Bersama Abu Hafsh kami serombongan menjenguk seorang ulama yang sedang menderita sakit keras.
          “Apakah tuan ingin sembuh ?”
          “ya”
          “Pukulah dia”. Perintah Abu Hafsh
          Si orang yang sakit tersebut kemudian berdiri lalu keluar bersama kami. Akhirnya, kami semua menjadi penghuni tempat tidur orang yang sakit dan kami menjadi orang yang dikunjungi.


sumber: manakib.wordpress.com

Poskan Komentar

 
Top