TQN PP.Suryalaya

TQN PP.Suryalaya
Website ini untuk Syiar Islam & ragam info bukan untuk profit bisnis
 

Mina adalah daerah yang sangat penting bagi Nabi Ibrahim as. dan keluarganya. Di sinilah, Ibrahim dan putranya, Ismail, diajarkan oleh Malaikat Jibril as. untuk melaksanakan haji. 
Muhammad bin Ishak menceritakan, ketika Nabi Ibrahim as telah menyelesaikan pembangunan Baitul Haram, Jibril mendatanginya dan berkata, “Tawaflah di sekelilingnya sebanyak tujuh kali putaran.” Maka, Ibrahim bersama Ismail melakukan tawaf di sekelilingnya sebanyak tujuh kali putaran. Keduanya menyentuh seluruh rukun (sudut Ka’bah) dalam setiap kali putaran. 
Setelah menyelesaikan tujuh kali putaran, mereka mengerjakan shalat dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim. Kemudian, Jibril bangkit bersama Ibrahim. Lalu, dia memperlihatkan kepada Ibrahim manasik haji secara keseluruhan; Shafa, Marwah, Mina, Muzdalifah, dan Arafah.
Ketika Ibrahim telah memasuki Mina dan turun dari Bukit Aqabah, mendadak iblis menampakkan dirinya di sisi Jumrah Aqabah. Maka, Jibril berkata kepadanya, “Lemparilah dia!” Lalu, Ibrahim melemparinya dengan tujuh butir kerikil dan iblis pun menghilang darinya.
Kemudian, Iblis itu muncul kembali pada Jumrah Wustha. Maka, Jibril berkata kepadanya, “Lemparilah dia!” Lalu, Ibrahim melemparinya dengan tujuh butir kerikil dan iblis pun menghilang darinya. 
Kemudian, iblis itu muncul kembali pada Jumrah Ula. Maka, Jibril berkata kepada Ibrahim, “Lemparilah dia!” Lalu, Ibrahim melemparinya dengan tujuh butir kerikil sebesar kerikil yang lazim dipergunakan untuk melempar jumrah dan iblis pun menghilang darinya. Kemudian, Ibrahim melanjutkan ibadah hajinya. 
Berikutnya, Jibril menghentikan dia di atas mawaqif (tempat wukuf) dan mengajarinya manasik haji hingga sampai di Arafah. Ketika Ibrahim sampai di Arafah, Jibril berkata kepadanya, “Sudahkah engkau mengerti akan manasik hajimu?” Ibrahim menjawab, “Araftu (Ya, aku tahu)!” Tempat itu kemudian disebut Arafah karena ucapan Jibril, arafta manasikaka? (Sudahkah engkau mengerti akan manasik hajimu). 
Kemudian, Ibrahim disuruh berseru kepada manusia untuk mengerjakan haji. Maka, Ibrahim berkata, “Ya Tuhan, apa yang dapat menyampaikan suaraku?” Allah SWT berfirman, “Berserulah, sementara aku yang menyampaikannya.”
Ibrahim pun naik ke atas maqam (yang dimaksud bukan makam –Red), dan maqam itu terus naik bersama dia sehingga menjadi sebuah gunung yang tertinggi. Maka, waktu itu bumi mengumpulkan lembahnya, gunung, daratan, lautan, manusia, dan jin sehingga Ibrahim dapat memperdengarkan seruannya kepada mereka semua. 


Sumber: republika.co.id

Poskan Komentar

 
Top