TQN PP.Suryalaya

TQN PP.Suryalaya
Website ini untuk Syiar Islam & ragam info bukan untuk profit bisnis
 

 Tafsir Surah Ali ‘Imran (144) : Kematian para Rasul adalah Ujian
Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat, atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa berbalik ke belakang, ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikit pun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.

Kita telah memaklumi, sebelum Nabi Muhammad SAW diutus, Allah SWT telah mengutus ba­nyak rasul. Sesuai sunnatullah, pada saat­nya masing-masing rasul itu meng­alami kematian, sebagaimana manusia yang lain, dan sebagian di antara para ra­sul itu ada yang mati terbunuh. Ke­matian yang dialami oleh para rasul, baik kematian biasa maupun terbunuh, me­rupakan ujian bagi umatnya. Ada yang tetap berpegang pada ajarannya dan melanjutkan perjuangannya, tapi ada pula yang kemudian berbelok arah.

Ayat 44 surah Ali ‘Imran yang akan kita kaji berikut ini berkaitan dengan hal tersebut. Marilah kita simak ayat ini dan kita perhatikan pula penafsirannya se­bagaimana disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya.
Allah SWT berfirman:
Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat, atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa berbalik ke belakang, ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikit pun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.
Setelah kaum muslim kalah dalam Perang Uhud dan sejumlah orang ter­bunuh, ada pendapat yang mengatakan bahwa setan berseru, “Ketahuilah, se­sungguhnya Muhammad telah mati.” Maka hal itu masuk dalam hati banyak orang. Mereka berkeyakinan bahwa Nabi SAW telah terbunuh dan mereka menganggap bahwa  terbunuhnya Nabi SAW merupakan hal yang mungkin saja terjadi, sebagaimana Allah telah mem­beritahukan ihwal terbunuhnya para nabi terdahulu akibat perang. Maka timbullah kelemahan dan rasa takut. Sehubungan dengan itu, Allah Ta`ala menurunkan ayat yang artinya, “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh se­belumnya telah berlalu beberapa orang rasul.” Yakni, terdapat contoh pada mereka dalam hal kerasulan dan kemungkinan dibunuh.

Ibnu Abi Najih meriwayatkan dari ayahnya bahwa seorang muhajirin lewat di hadapan seorang Anshar yang ber­lumuran darah. Orang Muhajirin itu ber­kata kepada orang Anshar, “Hai Fulan, tahukah kamu bahwa Muhammad telah dibunuh?”
Orang Anshar berkata, “Jika Muham­mad telah terbunuh, berarti ia telah me­nyampaikan risalahnya. Maka berpe­rang­lah kalian demi membela agama kalian.” (Keterangan ini diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Dala`il An-Nubuwwah).
Kemudian Allah Ta‘ala berfirman se­raya mengingkari orang yang lemah, yang artinya, “Apabila dia wafat atau dibunuh, apakah kalian akan berbalik ke belakang?” Yakni, kalian akan murtad. “Barang siapa berbalik ke belakang, hal itu tidak akan memudharatkan Allah sedikit pun, dan Allah akan membalas orang-orang yang bersyukur.” Yakni orang-orang yang melaksanakan ketaat­an, berperang untuk mempertahankan agamanya, dan mengikuti ajaran Rasul-Nya, baik ketika ia masih hidup maupun sudah wafat.

Al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Syihab, “Abu Salamah menceritakan ke­padaku bahwa Aisyah memberitahukan kepadanya bahwa Abu Bakar datang dengan mengendarai kuda, kemudian turun, lalu masuk ke masjid. Ia tidak ber­bicara kepada orang-orang hingga ma­suk ke tempat Aisyah. Lalu Abu Bakar menuju tempat Rasulullah SAW. Ia sing­kapkan wajah beliau, kemudian ia tatap dan ia cium, lalu menangis dan berkata, ‘Demi Allah, Allah tidak akan menyatu­kan dua kematian pada engkau. Adapun kematian yang telah ditetapkan kepada engkau telah engkau jalani’.”
Az-Zuhri berkata, “Abu Salamah men­ceritakan kepadaku dari Ibnu Abbas bahwasanya Abu Bakar keluar, semen­tara Umar sedang berkata kepada orang-orang. Lalu Abu Bakar mengata­kan, ‘Duduklah, wahai Umar.’ Kemudian Abu Bakar berkata, `Amma ba`du. Ba­rang siapa menyembah Muhammad, se­sung­guhnya Muhammad sudah mening­gal. Dan barang siapa menyembah Allah, sesungguhnya Allah Mahahidup dan tidak akan mati’.”

Allah Ta‘ala berfirman yang artinya, “Muhammad tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Barang siapa ber­balik ke belakang, hal itu tidak akan me­mudharatkan Allah sedikit pun, dan Allah akan membalas orang-orang yang ber­syukur.” Az-Zuhri berkata, “Demi Allah, sungguh seolah-olah orang-orang tidak mengetahui bahwa Allah telah menurun­kan ayat ini sampai Abu Bakar mem­bacakannya kepada mereka. Maka se­mua orang membaca ayat itu dari Abu Bakar. Tidaklah ia memperdengarkan­nya kepada seseorang melainkan ia mem­bacanya. Sa‘id bin Musayyab mem­beritahukan kepadaku bahwa Umar ber­kata, ‘Demi Allah, tiada lain kejadian itu melainkan aku mendengar Abu Bakar mem­bacanya, lalu aku keringatan se­hingga kedua kakiku lemas, kemudian aku terjatuh ke tanah’.”

Sumber: majalah-alkisah.com


Poskan Komentar

 
Top