TQN PP.Suryalaya

TQN PP.Suryalaya
Website ini untuk Syiar Islam & ragam info bukan untuk profit bisnis
 

Lafadz كُلُّ Mempunyai ma'na dua, khusus dan umum.
Hal ini sesuai pula jika ditinjau dari ilmu nahwu.

Pertama.
Kalimat bid'ah (بدعة) di sini adalah bentuk ISIM (kata benda) bukan FI'IL (kata kerja) 
Dalam ilmu nahwu menurut kategorinya Isim terbagi dua yakni Isim Ma'rifat (tertentu) dan Isim Nakirah (umum)

Kedua
Kata BID’AH bukanlah
1.      Isim dhomir
2.      Isim alam
3.      Isim isyaroh
4.      Isim maushul
5.      Ber alif lam
yang merupakan bagian dari Isim Ma'rifat.
Jadi kalimat bid'ah di sini adalah Isim Nakiroh dan KULLU di sana berarti tidak ber-idhofah (bersandar) kepada salah satu dari yang 5 di atas.
Seandainya KULLU (كُلُّ) beridhofah kepada salah satu yang 5 di atas maka ia akan menjadi ma'rifatTapi pada KULLU (كُلُّ), ia beridhofah kepada nakiroh. Sehingga dholalahnya  adalah bersifat ‘am (umum), sedangkan setiap hal yang bersifat umum pastilah menerima pengecualian.
Shoraf, NahwuManthiq, Ma’ani, Ba'di, Bayan, Adab/ahlak, Fiqih, Usulul Fiqih, FaraidhHisab, Hadits, Usul Hadits, Tafsir, Hikmah, A’rodh, Kalam/LughohSirah, Qiro'at, Suluk/Tasawwuf, Kutub/Ahkam, Rijal, Mustholah.
Di tinjau ilmu Balaghoh dikatakan.

حدف الصفة على الموصوف
(Membuang sifat dari benda yang bersifat).
Jadi jika ditulis lengkap dengan sifat dari bid'ah kemungkinannya adalah

A. Kemungkinan pertama :

كُلُّ بِدْعَةٍ حَسَنَةٍ ضَلاَ لَةٌ وَكُلُّ ضَلاَ لَةٍ فِى النَّارِ

Semua bid’ah hasanah sesat (dholalah), dan semua yang sesat (dholalah) masuk neraka.

Hal ini tidak mungkin, bagaimana sifat baik dan sesat (dholalah) berkumpul dalam satu benda dan dalam waktu dan tempat yang sama, hal itu tentu mustahil.
mustahilkan bila yang baik masuk neraka....

B. Kemungkinan kedua :

كُلُّ بِدْعَةٍ سَيِئَةٍ ضَلاَ لَةٍ وَكُلُّ ضَلاَ لَةٍ فِىالنَّاِر
"Semua "bid’ah yang jelek" itu sesat (dholalah) dan semua yang sesat (dholalah) masuk neraka".

Jadi kesimpulannya bid'ah yang sesat masuk neraka adalah bid'ah sayyiah (bid'ah yang jelek) Arti kata sunnah dalam sunnah hasanah atau sunnah sayyiah bukanlah sunnah Rasulullah atau hadits atau sunnah (mandub) karena tentu tidak ada sunnah Rasulullah yang sayyiah, tidak ada hadits yang sayyiah dan tidak ada perkara sunnah (mandub) yang sayyiah.
Jadi arti kata sunnah dalam sunnah hasanah atau sunnah sayyiah adalah contoh atau suri tauladan atau perkara baru, sesuatu yang tidak dilakukan oleh orang lain sebelumnya.
Imam Nawawi membaginya dalam 5 status hukum.

أن البدع خمسة أقسام واجبة ومندوبة ومحرمة ومكروهة ومباحة
"Sesungguh nya bid’ah terbagi menjadi 5 macam. Bid’ah yang wajib, mandzubah (sunnah), muharramah (bid’ah yang muharamah), makruhah (bid’ah yang makruhah), dan mubahah (mubahah)."
[Syarh An-Nawawi ‘alaa Shahih Muslim, Juz 7, hal 105]


Kesimpulannya:

Sunnah hasanah adalah contoh atau suri tauladan atau perkara baru di luar perkara syariat yang tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadits dan ijma , termasuk kedalam bid’ah hasanah yang baik.

Sunnah sayyiah adalah contoh atau tidak ada suri tauladan atau perkara baru di luar perkara syariat yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadits dan ijma, termasuk ke dalam bid’ah dholalah yang buruk.
Imam Madzhab yang empat yang bertalaqqi (mengaji) dengan Salaf Sholeh, contohnya Imam Syafi’i Rohimahulloh menyampaikan.

قاَلَ الشّاَفِعِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ -ماَ أَحْدَثَ وَخاَلَفَ كِتاَباً أَوْ سُنَّةً أَوْ إِجْمَاعاً أَوْ أَثَرًا فَهُوَ البِدْعَةُ الضاَلَةُ ، وَماَ أَحْدَثَ مِنَ الخَيْرِ وَلَمْ يُخاَلِفُ شَيْئاً مِنْ ذَلِكَ فَهُوَ البِدْعَةُ المَحْمُوْدَةُ
(حاشية إعانة 313 ص 1الطالبين -ج )

Imam Syafi’i ra berkata :
Segala hal yang baru tidak terdapat di masa Rasulullah dan bertentangan dengan Al-Qur’an, Al-Hadits, Ijma’ , sepakat Ulama dan Atsar pernyataan shahabat adalah bid’ah yang sesat bid’ah dholalah.
Dan segala kebaikan yang baru tidak terdapat di masa Rasulullah dan tidakbertentangan dengan pedoman tersebut, maka ia adalah bid’ah yang terpuji bid’ah mahmudah atau bid’ah hasanah, bernilai pahala.
(Hasyiah I'anathuth Tholibin Juz 1 hal. 313)

Jadi kullu bid'ah menerima pengecualian pada bid'ah di luar perkara syariat yang tidak bertentangan dengan Al Qur'an dan Hadits dan Ijmaitulah bid'ah yg baik yg dinamakan bid'ah hasanah. 

Sumber: benderaaswaja.com

Poskan Komentar

 
Top