TQN PP.Suryalaya

TQN PP.Suryalaya
Website ini untuk Syiar Islam & ragam info bukan untuk profit bisnis
 


Di bawah Pemerintahan Bashar Al-Asad, Al-Buthi tetap setia kepada pemerintah. Pada tahun 2005, ia mencap pembunuhan Rafiq ar-Hariri sebagai konspirasi AS-Zionis yang bertujuan menghancurkan Suriah dan Islam. Demikian juga, ia menggambarkan eksekusi Saddam Hussein pada tahun 2007 sebagai bagian dari rencana AS untuk membagi Sunni dan Muslim Syah.

Sejak menjabat sebagai khatib di Masjid Umayyah pada tahun 2008, Al-Buthi semakin berpengaruh di lingkungan agama dan wakaf Suriah dan dipercaya menjadi pengawas pendidikan tinggi Islam. Namun pada tahun 2011, hubungan dengan pihak  berwenang berubah asam sebagai akibat dari tindakan sekuler yang dilakukan pemerintahan partai Baath yang dimotori Alawatie, seperti larangan jilbab (niqab) di sekolah-sekolah dan universitas, serta karena siaran dari serangkaian acara bulan suci Ramadhan yang dianggap banyak menyinggung dan tidak sesuai dengan ajaran Islam.

Ketika demonstrasi anti pemerintah pada bulan Maret 2011, Al-Buthi menyatakan bawa gerakan ini adalah sebuah 'konspirasi zionis'. Ia kemudian dipercaya sebagai pimpinan Ulama Negara-negara Syam.
Beberapa hari sebelum pembunuhan dirinya, yakni setelah dua tahun konflik Suriah, Al-Buthi masih mendorong umat untuk berjihad di jajaran 'heroik' pemerintah Suriah  dan Angkatan darat melawan pemberontak yang dianggapnya sebagai bughat.

Kematian tragis Al-Buthi ini, bagi Thomas Pierret, menandakan bahwa rezim sekarang telah berhenti menikmati sumber legitimasi keagamaan di kalangan ulama Sunni. Dan Suriah sendiri, semakin tercabik-cabik tak karuan dan semakin tak jelas arahnya.
(Prosesi Pemakaman  Syeikh Al-Buthi beserta Cucunya, foto:Al-Jazeera.com)

-Tammat-
==============

Catatan: Tulisan dari 4 seri ini sengaja kami suguhkan sebagai bahan renungan buat kita semua. Bahwasanya kita bersyukur di Asia Tenggara utamanya di Malaysia dan Indonesia yang negerinya berpenduduk mayoritas Islam tidak terjadi  kekacauan secara fisik sepertihalnya di sebagian negara-negara Arab contohnya Suriah. Wafatnya ulama khususnya ulama sufi serta masuknya paham-pahamnya yang berimbas kepada disintegrasi bangsa dapat mengakibatkan perpecahan antarumat beragama maupun intern umat beragama tersebut bahkan keutuhan dalam berbangsa dan bernegara. Tentunya hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi Para muballigh ahlussunnah wal jamaah (aswaja) dan tarekat mu'thabaroh  serta segenap aswaja dalam syiar agama Islam agar selalu bersatu dan tetap berpegang kepada Tali Allah.

Wallohua'lam.

Ditulis ulang oleh Suriyanto AlMaliki

sumber: Majalah Risalah NU Edisi Mei 2013,

No.40/Thn VI/1434 H/2013

Poskan Komentar

 
Top