TQN PP.Suryalaya

TQN PP.Suryalaya
Website ini untuk Syiar Islam & ragam info bukan untuk profit bisnis
 

(Sambungan dari bagian II)
DUA SISI
(Foto: Kondisi Masjid Setelah Insiden yang menewaskan Al-Buthi)
(Foto: Kondisi Masjid Setelah Insiden yang menewaskan Al-Buthi)
Thomas Pierret (Dosen di Kontemporer Islam Pada University of Edinburgh, Inggris) yang dikutip Huffingston Post menyatakan, AL-Buthi berjuang di dua front. Di satu sisi, ia menolak ideologi barat seperti Marxisme, nasionalisme dan sekularieme. Tapi, di sisi lain ia tanpa henti menolak faham para pendukung modernis Muhammad Abduh sehingga Salafi Literalis Nasaruddin Al-Albani.
Ia tercatat paling kencang mengkritisi gerakan salafi dan pemikiran Al-Albani yang menganggap kelompok paling benar. Dalam bukunya yang berjudul 'Salafiyyah; Marhalah Zamaniyyah Mubarakah La Madzhab Islami (Salafi; marhalah zaman yang diberkahi, bukan Mazhab Islam)' ia mengkritisi habis Al-Albani yang hampir menjadi rujukan faham kaum Salafi dan Wahabi. Ia juga mengutip dialognya dengan Al-Albani yang menyebut pengikut mazhab sebagai kafir, yang dianggap oleh Al-Buthi sudah kelewatan. Karenanya ia tidak disukai kalangan salafi di Suriah yang terakhir membentangkan aliansi dengan kelompok pemberontak.

Namun dalam catatan Pierret, Al-Buthi pertama kali melakukan gerakan pertamanya dengan mendukung rezim selama pemberontakan 1979-82, sedangkan sebagian besar rekan ulama senior lainnya memilih untuk diam. Ia vokal mengutuk serangan yang dilakukan oleh militan Islam yang sebagian besar didukung organisasi yang menamakan diri  Ikhwanul Muslimin itu. Pendekatan pasif Al-Buthi, yang sepenuhnya ia jelaskan pada tahun 1993 dalam sebuah buku tentang jihad, tidak terkait sama sekali dengan beberapa prinsip sekuler, tetapi keyakinan bahwa Islam harus menjadi elemen umum yang menyatukan semua kekuatan politik.

Tapi untuk dukungannya itu AL-Buthi tak mendapat jabatan apapun. Ia seorang ulama yang ikhlas yang tak memburu materi, tulis Pierret. Kementerian Wakaf memang memberikannya jabatan sebagai khatib  di masjid Umayyah pada tahun 2008. Namun, apa yang diperoleh dalam pertukaran untuk kesetiannya melalui program mingguan di televisi pemerintah, serta kemungkinan membantu beberapa rekan-rekannya yang diasingkan bersedia kembali ke tanah air, adalah tidak sebanding.


Ditulis ulang oleh Suriyanto AlMaliki
sumber: Majalah Risalah NU Edisi Mei 2013,
No.40/Thn VI/1434 H/2013

Poskan Komentar

 
Top