TQN PP.Suryalaya

TQN PP.Suryalaya
Website ini untuk Syiar Islam & ragam info bukan untuk profit bisnis
 

Allah SWT berfirman, “Yad’uuna Rabbahum Khaufan watham’an” yang artinya, 
Mereka berdo’a kepada Tuhannya  karena takut dan penuh harap”. 
Abu Hurairah berkata, Bahwa RasuluLlah SAW bersabda, “Tidak akan masuk neraka orang yang menangis karena takut kepada Allah Ta’ala, sebelum ada air susu yang masuk pada tempatnya. Dan tidaklah berkumpul debu-debu dalam perang membela agama di jalan Allah dengan asap api neraka jahanam di tempat sampah seorang hamba”. 
Anas berkata bahwa RasuluLlah SAW bersabda, “Seandainya engkau mengetahui apa-apa yang aku ketahui niscaya sedikit tertawa engkau, dan banyak menangis”. 
Menurut pendapatku (Syaikh Abul Qasim Al-Qusyairy) takut mempunyai arti yang berhubungan dengan masa yang akan datang. Karena orang akan takut menghalalkan yang makruh dan meninggalkan hal yang sunat. Hal ini tidak begitu penting kecuali membawa dampak positif di masa yang akan datang. Jika pada saat sekarang hal itu muncul, maka pengertian takut tidak terkait. Sedangkan pengertian takut kepada Allah Ta’ala adalah takut kepada siksaanNya baik di dunia maupun di akhirat. 

Allah Ta’ala mewajibkan kepada hambaNya agar takut kepadaNya, sebagai mana firmanNya, “wakhaafuuNy in kuntum mu’minun” yang artinya, “dan takutlah kamu semua kepadaKu jika kamu orang-orang yang beriman”. 
Allah Ta’ala juga berfirman, “fa iyyaaYa farhabuun” yang artinya, “Maka kepadaKu-lah seharusnya mereka merasa takut”.
Disamping itu Allah Ta’ala memuji orang mu’min Karena ketakutannya sebagai mana firmanNya,”yakhaafuuna Rabbahum min fawqihim” yang artinya, “mereka itu (malaikat) takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka”.

Saya (Syaikh Al-Qusyairy RA) telah mendengar Ustadz Abu Aly Ad-Daqaq berkata, “Takut mempunyai beberapa tingkatan, yaitu khauf, khasyah, dan aibah”, 
khauf merupakan bagian dari syarat-syarat iman dan hukum-hukumnya sebagaimana firmanNya, “WakhaafuuNy in kunutm mu’miniin” 
Khasyah merupakan bagian dari syarat-syarat ilmu sebagaimana firmanNya Innamaa yakhsyaLlaaha min ‘ibaadihiil ‘ulamaa’”yang artinya, “sesungguhnya yang paling takut kepada Allah Ta’ala di antara hambanya adalah ‘ulama’. 
Sedangkan haibah merupakan bagian dari syarat-syarat ma’rifat sebagaimana firman Allah Ta’ala, “WayuchadhirukumuLlaahu nafsah”yang artinya, “Allah SWT memperingatkan kamu terhadap diri (siksa) Nya. 

Saya (Imam Al-Qusyairy) mendengar Abu Hafsh berkata, “Takut adalah cambuk Allah SWT yang dipergunakan untuk meluruskan orang-orang yang lari dari pintuNya”. 
Abdul Qasim Al-Hakim berpendapat, khauf mempunyai dua bentuk yaitu rahbah dan khasyah. Yang dimaksud orang yang rahbah adalah orang yang berlindung kepada Allah SWT. Ada yang berpendapat, kata rahiba dan haraba  boleh diungkapkan karena keduanya mempunyai arti satu seperti kata jadzuba dan jaladza. Sebagai contoh apabila dia lari , maka dia dapat di tarik dalam pengertian hawanafsunya. Seperti pendeta yang mengikuti hawa nafsunya. Oleh karena itu apabila mereka ditarik oleh kendali ilmu dan mereka melaksanakan / menggerakkan kebenaran syari’at, maka pengertian tersebut disebut khasyah. 

InsyaAllah bersambung ke Bagian II


Poskan Komentar

 
Top