TQN PP.Suryalaya

TQN PP.Suryalaya
Website ini untuk Syiar Islam & ragam info bukan untuk profit bisnis
 

Sinagog di Amerika digunakan umat Muslim salat jumat

minoritas Islam dua pekan terakhir, sekelompok warga di Kota Northern Virginia, pantai timur Amerika Serikat, berupaya membuktikkan kerukunan antar umat beragama masih berlangsung di negara itu. Salah satunya adalah Sinagog di pinggiran kota ini digunakan umat Muslim beribadah selama Ramadan, termasuk salat Jumat.
 Stasiun televisi BBC melaporkan, Jumat (17/8/2012), praktik berbagi tempat ibadah ini telah dilakukan warga Muslim dan Yahudi di Kota Northern Virginia, sejak empat tahun terakhir. Menurut Imam Muhammad Magid, kerjasama itu terjadi alamiah karena masing-masing komunitas menyadari mahalnya biaya merenovasi rumah ibadah. Apalagi jumlah penganut Islam di kota itu semakin bertambah, sebagian malah datang dari kota lain. "Awalnya kami terkejut menggunakan aula mereka untuk salat, namun kini masing-masing pihak terbiasa," kata dia.
Masjid di Northern Virginia berpindah-pindah terus sejak pertama kali jamaahnya meresmikan diri pada 1983. Biasanya mereka mengontrak apartemen. Pada 2002, masjid pertama berdiri di kawasan Sterling. Namun, biasanya saat salat Jumat tidak mampu menampung umat yang jumlahnya lebih dari 1000 orang.
 Apalagi saat Ramadan, semakin banyak kegiatan dilakukan dan butuh ruangan besar di waktu-waktu tertentu. Tak dinyana, pihak Sinagog menawarkan aula mereka disewa dengan biaya USD 300 per hari (setara Rp 2,8 juta). Kini, tidak jarang umat Muslim menjalankan iftar (buka puasa), salat Jumat, maupun pengajian selama Ramadan di aula Sinagog itu.
 Rabbi Robert Nosanchuk menyatakan pihaknya membuka Sinagog itu untuk umat muslim lantaran menyadari jumlah mereka lebih banyak dari penganut Yahudi. "Warga kami hanya 500 orang, tindakan (menyewakan aula sinagog) lebih seperti membuka rumah untuk tetangga yang sedang membutuhkan," kata dia.
 Imam Magid mengaku kedua komunitas tidak mengganggu peribadatan masing-masing. Dia menilai kerukunan di kota itu mencerminkan kondisi berbeda dari situasi di Timur Tengah yang melulu menggambarkan umat Islam dan Yahudi gontok-gontokkan. "Kami di sini saling menghormati dan pastinya memunculkan kesan berbeda dari stereotipe Islam-Yahudi biasanya," ujar pria asal Sudan ini.

Poskan Komentar

 
Top