Top-ads

RIWAYAT MENGENAI DZIKIR KHOFI

By | 12/16/2012 Leave a Comment
(Foto: Gua Hiro )
Ketika Nabi Muhammad S.A.W. dan Sayyidina Abu Bakar Siddiq r.a. bersembunyi di Gua Hiro, kaum Quraisy yang Kafir, memburu Nabi ke gua itu, dan mereka mencari berada di mulut gua itu.Sayyidina Abu Bakar sangat bimbang, khawatir mereka mengetahui bahwa Nabi S.A.W. berada di situ. 
Kemudian Nabi S.A.W. bersabda. sebagaimana termaktub dalam Surat At-Taubah ayat 40 :"Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita" (QS.9 At-Taubah : 40).
Sayyidina Abu Bakar berkata :"Ya Rasulullah, mohon anda memberi petunjuk, agar hati hamba tenteram jangan merasa bimbang seperti sekarang".   Sabda Nabi S.A.W: "Ucapkan olehmu Asma Allah". "Bagaimana caranya mengucapkan kalimah itu dan dimana menempatkannya, ya Rasulullah" kata Sayyidina Abu Bakar.
"Harus ingat kamu kepada Tuhanmu di dalam hati dengan merendah. merasa malu dan takut, tidak usah dengan ucapan yang keras (tidak dilisankan), cukup dengan getarnya hati, detaknya jantung. Cara berdzikir seperti itu harus dari pagi sampai petang serta ingat terus jangan ada lupanya", sabda Nabi S.A.W. "Bagaimana kalau lupa ya Rasulullah?" tanya Sayyidina Abu Bakar.
"Harus ingat kamu kepada Allah. Dimana lupa usahakan untuk ingat lagi", sabda Nabi S.A.W.  
Jadi kalau diumpamakan, seperti jam (arloji putar). Apabila berhenti putar lagi.
Setelah Sayyidlna Abu Bakar dapat ijazah dan Nabi Muhammad S.A.W.  hatinya merasa tenteram, tidak bimbang dan takut melihat rombongan kaum kafir yang akan membunuh Nabi S.A.W.  sebagaimana Firman Allah (Q S. Al-Fath ayat 26) :"Lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang mukmin dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat takwa dan adalah mereka berhak dengan kalimat takwa itu dan patut memilikinya.” (QS 46 Al-Fath : 26)
Semua itu adalah asal-usul adanya Thoreqat Naqsyabandiyyah.
Setelah Sayyidina Abu Bakar diberi wirid itu dari Rasulullah S.A.W.  beliau sangat takut kepada Allah sampai para Sahabat menerangkan : "Apabila kita mendekati Sayyidina Abu Bakar, tercium dari mulutnya seperti telah memakan goreng hati domba, dan terdengar dari hatinya seperti suara mendidihnya minyak kelapa dalam penggorengan."Keterangan seperti itu dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Tabrani yang berbunyi "Tidak semata-mata Allah SWT. mengucurkan suatu rahasia ke dalam dadaku, akan tetapi aku juga mengucurkan rahasia itu ke dalam dada Sayyidina Abu Bakar"Yang dimaksud dengan rahasia ialah Dzikir Khofi.
Rasulullah S.A.W. bersabda kepada para Sahabat :"Apabila ditimbang iman Abu Bakar dengan iman jin dan manusia. selain para Nabi dan Mursalin. tenlu akan lebih berat imannya Abu Bakar.”
"Apa sebabnya Sayyidina Abu Bakar sedemikian tinggi imannya melebihi para Sahabat yang lain, ya Rasulullah, padahal shalatnya, puasanya dan sedekahnya sama……..?" tanya para Sahabat.
Sabda Rasulullah S.A.W. "Kamu sekalian tidak akan mengungguli Abu Bakar dalam hal banyaknya sholat, puasanya dan sidqohnya, akan tetapi keunggulan dari Abu Bakar adalah karena dalam dirinya ada satu rahasia, yang tetap tinggal dalam qalbunya".
Setelah Sayyidina Abu Bakar Siddiq diberi ijazah oleh Nabi Muhammad S.A.W.  amalan tersebut menjadi termasyur pada masa itu, sehingga wirid itu disebut Siddiqiyyah, didasarkan pada nama Sayyidina Abu Bakar Siddiq r.a.
Perlu diketahui, sebenarnya sebutan silsilah itu berbeda-beda karena berbeda-beda masanya.
Dimulai dari masa Sayyidina Abu Bakar sampai kepada Syekh Thoofur bin Isa Abi Yazid aI-Busthami, dinamai Thoreqat Siddiqiyyah. Dan mulai Syekh Thoofur sampai kepada Syekh Muhammad Bahauddin Husaeni al-Uwesi al-Bukhori, dinamai Khowajikaniyyah.
Dari mulai Syekh Bahauddin sampai kepada Syekh Abdullah Al-Ahrori dinamai Thoreqat Naqsyabandiyyah. 
Arti dari Naqsyabandi itu berasal dari kalimat Naqsun-bandun yang artinya mencapkan stempel. Jelasnya Menerapkan cap/stempel yang abadi yang tidak bisa dilebur/dihapus oleh apa-apa, adapun hapusnya oleh Lupa/Ghoflah.
Menurut riwayat, ketika Syekh Bahauddin Naqsyabandi sedang berdzikir kepada Allah, dalam hatinya sampai jelas terlihat lahirnya lafadz Jalallah tembus ke dalam dadanya. Maka dari sejak itu sampai sekarang, disebut Thoreqat Naqsyabandiyyah.

 (Sumber Referensi: Bidayatussalikin /Belajar Ma'rifat Kepada Allah.  Karya : Ajengan K.H. Syihabuddin Suhrowardi. Ajengan Citungku Ciamis, Terbitan Pondok Pesantren  Suryalaya)

->(Dzikir Khofi ini sebaiknya melalui proses bai'at dan talqin,red)  
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda