TQN PP.Suryalaya

TQN PP.Suryalaya
Website ini untuk Syiar Islam & ragam info bukan untuk profit bisnis
 

(Sambungan dari Bagian Ke-3)

f. Ikhlas 

Ikhlas bagi al-Palimbani adalah suatu maqam yang harus dilalui oleh seorang salik dalam perjalannya kepada Allah.   Maqam ikhlas adalah maqam  yang paling dekat untuk menjangkau makrifah yang menjadi tujuan akhir orang-orang sufi, yang dalam tingkatan permulaannya mungkin telah dicapai pada maqam syukur tadi. Dalam penjelasannya mengenai fadhilat  ikhlas ini, Al-Palimbani mengutip sebuah Hadits Nabi SAW yang menerangkan bahwa apabila seorang hamba Allah beramal dengan ikhlas karena Allah selama empat puluh hari, pasti mengalir mata air hikmah dari dalam hatinya melalui lisannya. 

g. Tawakkal 



 Al-Palimbani membagi tawakal dalam tiga tingkatan : 
- Pertama, menyerah diri kepada Allah seperti seorang yang 
menyerahkan kekuasaan kepada wakilnya dalam suatu perkara.  
- Kedua, menyerah diri kepada-Nya seperti anak kecil menyerahkan segala persoalan kepada ibunya; 
- Ketiga, menyerah diri kepada Allah seperti mayat di tangan orang yang memandikannya. 
 Pada tingkat yang pertama orang yang bertawakkal itu masih 
berusaha dalam batas-batas tertentu untuk mencapai tujuan yang diingininya, seperti halnya orang yang berwakil masih harus melakukan usaha tertentu, menurut permintaan atau perintah dari wakilnya, untuk memenangkan perkaranya. Pada tingkat yang kedua orang yang bertawakal itu tidak lagi melakukan usaha selain meminta apa yang diingininya kepada Allah, seperti anak kecil meminta dan mengadu kepada ibunya. Tetapi orang yang sudah mencapai tingkat tawakal yang ketiga tidak lagi berusaha dalam bentuk apapun juga, bahkan tidak meminta sesuatu kepada Tuhan, “karena ia telah berpegang kepada kurnia Allah dan percaya ia akan Allah Taala 
bahwa Ia memberi akan sekalian hajatnya itu” 
Dalam hal ini Al-Palimbani  tidak memaksudkan bahwa orang yang bertawakal sama dengan seorang  fatalis yang menyerah diri kepada nasib saja, tanpa berusaha. Menurut dia, dugaan bahwa orang yang bertawakal itu tidak berusaha sama sekali, baik secara fisik maupun pemikiran adalah dugaan orang jahil yang tersesat atau kepercayaan Jabariah yang tidak sesuai dengan ajaran syariat Islam; orang yang bertawakal juga  berusaha mencapai apa yang diperlukannya menurut batas-batas yang wajar, seperti menjangkau makanan yang terletak di hadapannya, bahkan seperti bercocok tanam, berniaga, memelihara diri dan hartanya secara wajar, seperti membawa perbekalan dalam perjalanan, menghindari binatang buas, memakai senjata dalam perang,  menutup pintu rumah, mengembala hewan ternak dan sebagainya. (Artian kata syarian tetap dilaksanakan dalam menempuh hidup ini)
Hanya dalam kesemuanya itu, ia tidak merasa mempunyai tempat pergantungan selain kepada Allah, sehingga dalam menghadapi semua tantangan, kesukaran, kerugian dan sebagainya ia tidak merasa sedih dan susah, di samping berusaha mengatasinya menurut cara yang wajar dalam batas kemampuan yang ada padanya. Di samping itu, semua usaha yang dilakukannya tidak sampai ke batas yang menyebabkan ia terganggu mengingat Allah. 

       Al-Palimbani menganggap  tawakal  itu suatu  maqam yang 
terdiri dari ilmu, hal dan amal. Ilmu yang dipandang sebagai sumber dari  tawakal itu ialah inti tauhid tingkat ketiga, yakni tauhid orang muqarrabin yang memandang bahwa segala sesuatu dalam alam ini terbit dari Yang Maha Satu. Inti tauhid  tersebut,  bukan suatu konsep ketuhanan yang dicapai dan mungkin dijelaskan dengan daya bahasa akal, karena pandangan tersebut  dikatakan hanya dicapai dengan pancaran Nur Al-Haq dalam hati orang-orang tertentu.
      
h. Mahabbah 


Cinta  kepada Tuhan dalam pandangan Al-Palimbani seperti halnya  Al-Ghazali adalah  maqam yang terakhir dan derajat yang paling tinggi; segala maqam yang sesudahnya adalah buah dari segala maqam  yang sebelumnya adalah hanya pendahuluan untuk mencapainya. Di samping itu ia  juga menambahkan bahwa “tiada derajat yang di atas  mahabbah  itu melainkan martabat  makrifah  Allah Taala; dan dengan derajat  mahabbah Allah Taala itu sampai kepada makrifah  Allah; dan itulah kesudahan martabat orang yang salik. 
 Rasa  cinta  kepada Allah sudah bergerak dalam hati seorang 
salik ketika ia mulai mengenal dirinya dan itulah daya penggerak yang mendorong seseorang bertaubat dari segala dosanya. Dalam perjalanan seorang salik melalui apa yang disebut maqamat itu satu persatu, perasaan  cinta itu mungkin terlindung di balik perasaanperasaan lain seperti takut, harap dan sebagainya. Tetapi pada tahap tertentu perasaan itu menguasai seluruh kesadaran batinnya, sehingga ia dikatakan berada pada maqam cinta.


Makrifah yang hakiki  lahir dari rasa  cinta (mahabbah); tetapi 
cinta yang hakiki kepada Allah itu hanya lahir dari makrifah. Dengan demikian, mahabbah  dan makrifah itu adalah dua hal yang masingmasing merupakan sebab tetapi juga adalah akibat dari yang lain. 
 Selanjutnya ia menjelaskan  bahwa orang yang benar-benar 
mencintai Allah itu memiliki tanda-tanda sebagai berikut : 
- Kasih ia akan mati; 
- Melebihkan barang yang dikasihi oleh Allah Taala itu atas 
sekalian yang dikasihi dan menjauhi ia akan mengikuti hawa 
nafsunya;
- Senantiasa ia melazimkan zikir Allah;
- Jinak dengan bersunyi sendiri,  munajat akan Allah, berzikir, 
membaca Al-Qur’an dan mengekali ia atas sembahyang tahajjud di malam yang sunyi;
- Tidak menyesal kehilangan “sesuatu yang lain daripada Allah 
Taala”
- Sedap dengan berbuat taat akan Allah Taala
- Kasih sayang akan hamba (Allah) yang muslimin dan benci akan orang kafir-yaitu seteru Allah;
- Adalah ia kasih akan Allah Taala itu serta takut akan Dia;
- Menyembunyikan ia akan kasihnya akan Allah Taala itu dari pada orang yang bukan ahlinya;
- Senantiasa jinak hatinya itu kepada Allah Taala dan ridha ia akan Allah Taala di dalam sekalian yang diperbuat Allah Taala akan Dia. (Al-Palimbani, Jilid IV : 124 – 130).

          Al-Palimbani memandang cinta yang merupakan  maqam 
tertinggi itu suatu cinta sadar yang melahirkan dirinya melalui saluran syariat, bukan sejenis cinta yang melahirkan ucapan-ucapan syathahat yang sering berlawanan dengan  pokok-pokok ajaran syariat. Orang yang berada pada maqam mahabbah ini menurut keterangan di atas, selalu berzikir, munajat, mengerjakan sembahyang  tahajjud, membaca Al-Qur’an, dengan rasa cinta kepada Tuhan yang mengalahkan hawa nafsunya, sehingga ia merasa lezat mentaati semua ajaran syariat, kasih kepada semua yang dikasihi Allah dan benci kepada semua yang dibenci-Nya. 

i. Ridha 



 Al-Palimbani menganggap ridha sebagai maqam  tertinggi yang 
merupakan buah dari  mahabbah. Menurutnya, arti  ridha itu “tidak menyangkali akan segala perbuatan yang diperlakukan Allah atasnya dan atas orang yang lain daripadanya; karena sekalian perbuatan yang wuqu’ (terjadi) di dalam dunia ini perbuatan-Nya dan wajib ia ridha akan perbuatannya. 
Dalam hubungan ini, antara lain ia mengutip sebuah cerita bahwa Rabi’ah Al-Adawiyyah pernah ditanya : 
“Bilakah seorang hamba Allah  ridha kepada-Nya ?” 
Jawabnya : “apabila kegembirannya menerima musibah sama dengan kegembirannya menerima nikmat.”  
Dengan demikian, maqam ridha itu mencerminkan puncak ketenangan jiwa seorang sufi yang tidak lagi digoncangkan oleh apapun juga,  karena bagi dia segala yang terjadi di alam ini adalah  perbuatan Allah, lahir dari  qudrat dan iradat-Nya yang mutlak, yang harus diterima dengan gembira. 
Maqam ridha  ini lebih tinggi dari  maqam sabar, karena pengertian sabar itu masih terkandung di dalamnya pengakuan adanya sesuatu yang menimbulkan penderitaan, sedangkan orang yang sudah berada di maqam ridha ini tidak membedakan lagi antara apa yang disebut musibah dan yang disebut nikmat, semuanya diterima dengan gembira, karena semuanya adalah perbuatan Tuhan. 
Al-Palimbani juga memperingatkan pembacanya bahwa  ridha
kepada Tuhan itu tidak berarti bahwa seseorang harus  ridha pula menerima kemaksiatan dan kekafiran. 
Menurutnya, hal itu harus dipandang dari dua segi; 
segi pertama “kufur dan maksiat itu jadi daripada  qadha  Allah Taala dan daripada  qudrat-Nya” yang harus kita ridhai, tetapi dari segi lain, “kufur dan maksiat itu sifat bagi hamba-Nya” yang tiada disuruh oleh Allah Taala” dan karena itu tidak boleh pula kita terima dengan ridha. 


Dari uraian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa yang dimaksudkan dengan  ridha terhadap semua yang diridhai Allah, sebagai buah dari cinta yang hakiki kepada-Nya. Dengan kata lain, pada  maqam  tertinggi ini segala kehendak dan keinginan yang mencerminkan tuntutan hawa nafsu manusia telah terhapus dalam kehendak Tuhan yang sudah merupakan sentral wujud-Nya. Menurut Al-Palimbani, ridha yang lahir dari  cinta  kepada Allah itu adalah pintu yang amat besar yang merupakan jalan masuk kepada makrifah Allah Ta’ala, dan merupakan  maqam yang terlebih tinggi,  maqam orang yang muqarrabin, yakni orang yang sangat dekat kepada Allah Ta’ala. 


(Bersambung ke Bagian Terakhir)

(Ditulis ulang oleh: Dokumen Pemuda TQN Suryalaya News, sumber: http://digilib.sunan-ampel.ac.id, dari Tulisan Karya : Hasni Noor,S2  IAIN Antasari Banjarmasin Tahun 2004, Dosen Dpk pada Universitas Islam Kalimantan )


Poskan Komentar

 
Top