TQN PP.Suryalaya

TQN PP.Suryalaya
Website ini untuk Syiar Islam & ragam info bukan untuk profit bisnis
 

(Sambungan dari bagian ke IV)



j. Makrifah 

   Al-Palimbani  menganggap makrifah sebagai tujuan akhir yang ingin  dicapainya di dunia ini, karena hal itu menurut dia adalah “surga”, “barang siapa yang masuk ia akan dia niscaya tiada ingat ia akan surga yang di akhirat” nanti. Semua maqamat yang tersebut itu, dari taubat sampai kepada  ridha dianggapnya sebagai jalan yang menyampaikan kepada makrifah Allah Ta’ala. 
Intisari  makrifah hanya dapat dicapai setelah seorang  salik melewati maqam mahabbah dan maqam ridha, karena dua maqam ini dianggapnya sebagai “jalan” menuju  makrifah. Mengenai tujuan tingkatan nafs, ia menerangkan  bahwa orang yang sudah mencapai tingkat  nafs ar-radliyah – tingkat  nafs yang kelima – ridha dengan segala yang terjadi, karam dalam memandang keindahan Allah yang mutlak dan “Syuhud (memandang di dalam hati) akan zat (esensi) Allah. Dari penjelasan ini dapat ditarik kesimpulan yang sama dengan di atas; bahwa  makrifah yang menjadi tujuan akhir seorang sufi itu hanya dicapai setelah melewati maqam yang tertinggi. 
k. Fana dan Baqa 

Menurut Al-Palimbani, pandangan batin bahwa yang ada hanya 
Allah itu dikatakan “fana dalam tauhid,” karena orang yang sudah mencapai pandangan itu “karam ia dengan syuhud akan Tuhan Yang Maha Esa Yang Sebenarnya”. Dalam tasawuf, istilah fana digunakan dalam arti “gugurnya sifat-sifat tercela” dan istilah Baqa dalam arti “berdirinya sifat-sifat terpuji” orang yang sudah  fana (terhapus dari dirinya sifat-sifat tercela, lahir padanya sifat-sifat terpuji. Dalam kata lain,  fana  dan  baqa  itu adalah dua istilah yang mengungkapkan keadaan atau pengalaman seorang sufi dari dua aspek yang berbeda. 
Dengan demikian, istilah fana dan baqa yang bertalian dengan makrifah  meliputi  tiga tingkatan. Pertama, fananya segala perbuatan makhluk dalam perbuatan Tuhan; kedua, fananya sifat-sifat makhluk dalam perbuatan Tuhan; dan ketiga, fananya wujud makhluk dalam wujud Tuhan. 
     Al-Palimbani  dalam  hal ini   memberikan suatu penjelasan, 
menurutnya orang yang sudah mencapai tingkat nafs almuthma’innah, fana segala sifatnya dan syuhud ia akan sifat Allah Taala; dan orang yang sudah sampai ke tingkat nafs-ar-radiyah “fana dirinya (dan) segala sifat basyariah (nya) di dalam  syuhud akan Ahadiyah Allah Taala. 
    Bagi orang yang telah berada pada tingkat nafs al-mulhamah ia memandang segala yang terjadi di alam semesta ini perbuatan Allah, sehingga dalam pandangannya telah fana semua perbuatan yang lain.  Dengan demikian, fana dan baqa itu tercapai dalam waktu yang sama, karena hal itu adalah dua aspek dari keadaan atau pengalaman yang sama. Orang yang telah  fana dari perbuatan makhluk  baqa dengan perbuatan Tuhan; dan yang telah  fana  dari wujud dan yang lain  baqa dengan Tuhan.  
    Makrifah  dalam arti memandang esensi Tuhan yang mutlak secara langsung, nampaknya hanya tercapai dalam keadaan fana tingkat yang terakhir ini, ketika wujud diri orang arif telah terhapus di dalam syuhud akan ahadiyah Allah Taala yang menurut    Al-Palimbani itulah puncak  makrifah  tertinggi, yang dicapai oleh Rasulullah S.A.W. Pada puncak perjalanan mikraj-nya. 
      Selain itu, dua istilah di atas juga digunakan dalam arti dua 
keadaan yang dialami oleh  seorang   salik   dalam  waktu  yang 
beriringan.  Baqa  merupakan keadaan yang mengiringi  fana;  orang yang dalam keadaan  fana segala perbuatan-nya  diatur dan dikuasai oleh Allah, karena ia dalam  keadaan tidak mampu membedakan antara sesuatu barang dengan yang lain; tetapi orang yang dalam keadaan baqa sesudah fana  segala perbuatannya sesuai dengan garis keridhaan Allah, karena segala perbuatannya tidak lagi untuk kepentingan dirinya sendiri. 
   
-PENUTUP:

Menurut Al Palimbani, untuk  suluk dan dapat mencapai  insan 
kamil manusia harus mampu menaklukkan hawa nafsunya, sehingga jiwanya terbebas dan dapat berada sedekat mungkin di sisi Allah. Untuk dapat berada di sisi Tuhan, manusia harus dapat menaklukkan tujuh hawa nafsu yang ada di dalam dirinya, yaitu  nafs al-ammarah, nafs allawwamah, nafs al-mulhamah, nafs al-muthma’innah, nafs al-radliyah, 
nafs al-mardliyah dan nafs al kamilah.
         Di samping upaya menaklukkan hawa nafsu dalam rangka 
mencapai makrifat tertinggi itu, salik harus membersihkan jiwanya dari noda-noda. Untuk itu, ia harus menempuh  maqamat,  sebagai stasiunstasiun ruhani, yang menandai perjalanan salik menuju Tuhannya. Dalam hal ini, pada prinsipnya, pandangan Al Palimbani dekat dengan Al Ghazali dalam Al arbain fi Ushul al Din, ada sepuluh maqam yang harus 
ditempuh oleh salik agar sampai kepada Allah, yaitu : taubat, takut dan cemas (al khauf wal raja’), zuhud, sabar, syukur, ikhlas, tawakkal, cinta, ridha dan mengingat mati. Sifat-sifat itu disebut sebagai sifat-sifat terpuji (al akhlak al mahmudah), dalam pengertian ketaatan kepada Allah. 
Setelah menempuh sepuluh maqam itu, barulah  salik sampai pada makrifat yang sebenarnya, sehingga ia fana’ dalam makrifat tersebut. 

Wallohua'lam...
Al-Fatihah...

-DAFTAR  PUSTAKA: 
Abdus Shamad al-Falimbani,  Sayr al-Salikin, (Beirut, Dar al-Fikri) Juz 1-4 
Abudin Nata, Metodologi Studi Islam, cet. Ke-5, (Jakarta : Raja 
Grafindo Persada, 2000). 
Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali, Ihya’ Ulum alDin, (Beirut : Dar al-Fikr, tt). 
Aceh, Abu Bakar, Pengantar Ilmu Tarekat (Solo : Ramadhani, 1994) Cet. Ke-10 
----------------------- , 
Pengantar Sejarah Sufi dan Tasawuf, (Solo : Ramadhani, 1994) cet. Ke-8 
Al-Hujwiri,  Kasyful Mahjub, Risalah Persia Tertua Tentang 
Tasawuf, (Bandung : Mizan, 1992). 
An-Najar, Amin,  Ilmu Jiwa dalam Tasawauf,  (Jakarta : Pustaka 
Azzam, 2001) 
A.R. Nicolson, Mistik dalam Islam (The Mysitc of Islam), terj. Tim 
Penerjemah Bumi Aksara, (Jakarta ; 1998). 
Azra, Azyumardi,  Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan 
Nusantara Abad XVII dan XVIII,  (Bandung : Mizan, 1998). 

Bruinnessen, Martin Van,  Kitab Kuning, Pesantren dan Tradisi
(Bandung : Mizan, 1999)Cet. Ke-3 
Chatib Quzwain, Tasawuf Abd Samad Al-Palimbani, (Disertasi) 
Nasution, Harun,  Falsafat dan Mistisisme dalam Islam,  (Jakarta : Bulan Bintang, 1973. 
--------------------- , 
Teologi Islam, (Jakarta : UI Press, 1986). 
O’Riordan, Linda,  Seni Penyembuhan Sufi, Jalan Meraih 
Kesehatan Fisik, Mental dan Spritual Secara Holistik, (Jakarta 
: Serambi Ilmu Semesta, 2002). 
Siddiq, Moch,  Mengenal Ajaran Tarekat dalam Aliran Tasawuf 
(Surabaya : Putra Pelajar, 2001) Cet. Ke-1. 
Syukur, Amin,  Zuhud Di Abad Modern, (Yogyakarta : Pustaka 
Pelajar, 1997) Cet. Ke-1 
Valiuddin, Mir, Zikir dan Kontemplasi dalam Tasawuf, (Bandung : Pustaka Hidayah, 1996). 

(Ditulis ulang oleh: Dokumen Pemuda TQN Suryalaya News, sumber: http://digilib.sunan-ampel.ac.id, dari Tulisan Karya : Hasni Noor,S2  IAIN Antasari Banjarmasin Tahun 2004, Dosen Dpk pada Universitas Islam Kalimantan )

Poskan Komentar

 
Top