dokumenpemudatqnsuryalaya

Khutbah Idul Adha: Ketaladanan Nabi Ibrahim as. (Oleh Ustadz Resi Remano,S.Sos.I)

(Bismillahirrahmanirrahiim)
Hadirin Jamaah Shalat ‘Idul Adha Yang Dimuliakan Allah Swt.
Puji dan syukur mari kita panjatkan kehadirat Allah Swt., yang telah memberikan kesehatan lahir batin dan kekuatan, sehingga pada pagi hari yang cerah ini kita dapat duduk bersimpuh dengan hati yang tenang, bisa bertemu kembali dengan Hari Raya ‘Idul Adha atau ‘Idul Qurban tahun ini. Dengan syi’ar Allah, hari Raya ‘Idul Adha tahun ini masih tetap bergemuruh dikumandangkan kalimat-kalimat Takbir, Tahmid dan Tahlil oleh ummat Muslim diseluruh belahan bumi ini, sebagai ungkapan rasa syukur yang paling mendalam atas segala nikmat karunia Allah yang senantiasa dilimpahkan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dan ikhlas beramal dan berjuang guna memperoleh Ridho-Nya, khususnya bagi saudara-saudara kita yang sedang menunaikan ibadah Haji ke Tanah Suci atau Baitullah tahun ini, kita doakan semoga mereka dapat meraih predikat Haji Mabrur. Amin Ya Robbal ‘Alamin.
Shalawat dan Salam semoga dilimpahkan kepada junjungan kita Baginda Nabi Besar Muhammad Saw., kepada keluarganya, seluruh sahabat Beliau, untuk para wali-walinya dan seluruh ummatnya yang setia melaksanakan sunnahnya hingga akhir zaman.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahilhamd
Hadirin Kaum Muslimin Wal Muslimat Yang Dimuliakan Allah Swt
Sejak fajar menyingsing dipagi hari ini, sampai terbenam matahari pada tanggal 13 Dzulhijjah nanti atau yang dinamakan hari-hari Tasyrik selama 4 hari berturut-turut kita berada dalam suasana ’Idul Adha, ’Id yang agung dalam Islam, ’Id yang menggambarkan dan membayangkan betapa besar dan agungnya jiwa ummat Islam yang telah bertaqwa kepada Allah Swt.
Pada pagi hari ini kita diperintahkan bershalat ’Idul Adha dan menyembelih hewan Qurban, sebagaimana firman Allah Swt., dalam Al-Qur’an :
”Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah Shalat karena Tuhanmu dan berqurbanlah. Sesungguhnya orang- orang yang membenci kamu dialah yang terputus” (QS. Al-Kautsar : 1-3)
Semoga Shalat ’Id yang baru saja kita laksanakan bersama-sama senantiasa diterima oleh Allah Yang Maha Esa serta memberi kesan yang mendalam untuk ketentraman jiwa dan kekuatan Iman didalam menempuh segala perjuangan demi kejayaan Agama, Nusa dan Bangsa.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahilhamd
Saudara-saudara Kaum Muslimin Wal Muslimat Yang Berbahagi
Sesudah Shalat ’Id ini kita diperintahkan oleh Allah Swt., melaksanakan Syariat Qurban bagi yang mampu, yakni dengan menyembelih hewan seperti lembu atau kambing. 
Qurban pada mulanya berasal dari Syariat Nabi Ibrahim As., berpuncak kepada kerelaan akan menyembelih anaknya Ismail, untuk memenuhi perintah Allah Swt. Nabi Ibrahim diuji, apakah cinta dan sayangnya terhadap anaknya melebihi dari cinta dan Imannya kepada Allah Swt., yang disembahnya.
Rupanya Nabi Ibrahim rela berpisah dengan anak kandungnya sendiri, asal saja perintah Allah Swt., dapat dijunjung dan ditaati. Perintah penyembelihan ini diterimanya sejak tiga malam berturut-turut, yaitu tanggal 8, 9, 10 Dzulhijjah. Perintah penyembelihan ini disampaikan kepada putranya, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an Surat Ash-Shaffat ayat 102 :
”Bertanya Ibrahim : Wahai anakku yang kusayang ! Sesungguhnya aku melihat (bermimpi) didalam tidurku. Aku diperintahkan menyembelih engkau; bagaimana barangkali pertimbanganmu ?
Dalam kelanjutan ayat ini dijelaskan bahwasanya Ismail dengan segera menjawab pertanyaan ayahnya, sebagaimana bunyi ayatnya :
”Wahai ayah yang kucintai ! laksanakanlah apa-apa yang diperintahkan Allah kepada ayah, ayah akan mendapati aku Insya Allah dalam ketabahan dan kesabaran” 
Nabi Ibrahim pun segera melaksanakan perintah yang menyedihkan, mengerikan dan luar biasa ini dengan tulus ikhlas. Nabi Ismail dengan tangan terikat, mata tertutup, badan terbaring siap sedia menyerahkan dirinya untuk disembelih sebagai bakti qurban kepada Allah Swt.
Dengan pisau terhunus lagi tajam Nabi Ibrahim As., berlutut sambil meletakkan pisau ke leher Ismail anaknya yang sangat disayanginya, dengan mengucapkan : BISMILLAHI ALLAHU AKBAR, lalu pisau itupun digesekkan ke leher Nabi Ismail As.
Tetapi Allah Maha Adil dan Maha Bijaksana; keteguhan Iman yang suci murni yang tersemai didada Ismail mematuhi kehendak ayahnya untuk menghampirkan diri kepada Allah diterima-Nya, lalu diselamatkanlah Ismail dari ancaman maut yakni dengan menggantinya dengan seekor kambing sembelihan.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahilhamd
Saudara-saudara Kaum Muslimin Wal Muslimat Yang Berbahagia
Penyembelihan hewan Qurban menjadi Syariat Islam yang abadi sampai akhir zaman. Rasulullah Saw., bersabda :
”Qurban itu, untuk yang membuatnya (melaksanakannya) dibalas Allah dengan pahala setiap helai bulunya satu kebaikan” (HR. Ibnu Majah)
Hadits tersebut memberikan gambaran betapa besar pahala amal qurban. Oleh sebab itu, marilah kita gunakan kesempatan yang baik ini bagi orang-orang yang mampu dan berharta agar melaksanakan amal qurban ini. Ingatlah hidup pasti mati, harta kekayaan akan ditinggal begitu saja dan hanya amal jugalah yang akan dibawa kealam baqa. Alangkah baiknya sekiranya umur masih ada, kita hendaknya mengumpulkan bekal untuk kelak diakhirat yakni dengan amal-amal kebajikan termasuk qurban ini. 
Didalam Islam, qurban itu penting bagi orang itu sendiri yang melakukan qurban, yang dengan itu orang sanggup mengurbankan hidupnya dan mengurbankan kepentingannya demi mencapai kebenaran. Penyembelihan hewan qurban itu pada hakikatnya merupakan tindakan simbolis dari tekat yang kuat untuk menyembelih atau memotong sifat kebinatangan atau sifat-sifat hewaniah yang ada pada diri kita, dengan kata lain menundukkan nafsu-nafsu hewaniah ( nafsu kebinatangan) yang ada pada setiap diri manusia, yang sering mendorong manusia kearah perbuatan beringas, bengis, keji dan munkar bahkan pembangkangan kepada perintah Allah Swt., dan Rasul-Nya. Dengan berqurban, manusia yang menyadari siapa dirinya akan dapat menjauhkan diri dari rasa tamak, bakhil / kikir, materialistis (budaya menumpuk harta), sombong / takabur, membangga-banggakan kekayaan, ilmu / kepintaran yang dimilikinya dan sifat-sifat buruk lainnya.
Memang dunia ini adalah hanya rentetan pengorbanan. Orang tua berqorban untuk anak, pemimpin berqorban untuk rakyatnya dan tiap makhluk berkorban untuk lainnya sesuai dengan kodrat dan sifatnya. Demikian juga pengorbanan berupa diri kita, Allah akan mengganti pengorbanan itu dengan sesuatu yang jauh lebih berharga.
Demikianlah ringkasan kisah atau cerita tentang pengorbanan yang dilakukan Nabi Ibrahim As., dan putranya Nabi Ismail As., mudah-mudahan kita mampu meneladaninya. 
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahilhamd
Saudara-saudara Kaum Muslimin Wal Muslimat Yang Berbahagia
Dalam melaksanakan Shalat ’Idul Adha ini kenangan kita terbang ke Tanah Suci dimana seluruh kaum Muslimin dan Muslimat yang berkesempatan menunaikan Rukun Islam yang kelima yaitu naik haji, hari ini sedang melaksanakan ibadah haji di Mina, sesudahnya berwukuf di Padang Arafah kemarin tanggal 9 Djulhijjah. Harapan kita semoga semuanya menadapat kemuliaan di dunia dan di akhirat, jiwa dan raganya menjadi suci kembali bagaikan anak bayi yang baru dilahirkan, dan harapan yang paling utama adalah menadapat Ridho Allah dan ampunan Allah, karena hanya harapan inilah yang akan mengantarkan hamba-Nya kepada khalik-Nya.
Bagi bapak dan ibu Haji, harus dapat mempertahankan kehajiannya dan harus dapat memperatahankan kemuliaannya sebagai seseorang yang sudah bersetatus haji, jangan sampai dicemoohkan orang karena akhlak yang tidak senonoh, karena sifat kikir, sifat sombong, sifat iri, sifat hasud, sifat jelek sangka, sifat memfitnah, dan lain-lain sebagainya. Apabila sifat-sifat buruk ini tidak bisa dihilangkan sudah tentu menjadi comoohan orang, maka dari itu peredikat haji itu harus dipertahankan, jauh-jauh pergi menunaikan ibadah haji tapi tidak bisa merubah sifat buruk atau jelek menjadi baik hal itu amat sangat disayangkan. Orang tidak menjadi heran apabila ada orang yang mampu pergi ke luar negeri tapi masuk neraka, tapi orang akan heran apabila ada haji masuk neraka, padahal dia itu telah pergi ketanah suci, tapi tidak mampu mensucikan dirinya, tidak mampu menghaji-kan dirinya. Seharusnya sepulangnya dari Tanah Suci itu membawa bekal kemuliaan bagi dirinya, seharusnya kembali dari Tanah Suci itu dirinya suci bersih bagaikan anak baru lahir, asal suci kembali kepada kesucian, semoga hal ini tidak terjadi pada diri kaum Muslimin dan Muslimat yang selalu ingat kepada Allah atau yang banyak berdzikrullah. 


Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahilhamd
Akhirnya sampailah kita pada kesimpulan dari khutbah ’Idul Adha hari ini sebagai berikut : 
Bahwa sebagai Ummat Nabi Muhammad Saw., maka wajiblah kita bersyukur menjadi ummat pewaris dan penerus dari sunnah atau ajaran-ajaran Nabi Ibrahim As., yang taat dan konsekwen. Akan tetapi kita harus sadar sepenuhnya bahwa sebagai konsekwensinya kita wajib menghidupkan sunnah Nabi Ibrahim itu, kita harus mau dan mampu menyediakan diri kita untuk memasuki ujian Iman sebagaimana yang dialami oleh Nabi Ibrahim As., atau putranya Nabi Ismail As.
Hanya saja kepada kita tidak diuji dan diminta pengorbanan yang berat seperti yang dialami oleh Nabi Ibrahim dan putranya. Karena peristiwa qurban yang menggemparkan itu hanya terjadi sekali saja dalam sejarah dan tidak akan terulang lagi.
Kepada kita hanya diminta keikhlasan beramal dan berkurban dengan sebagian kecil saja dari harta, tenaga, waktu dan fikiran atau kesenangan yang ada pada diri kita masing-masing guna memenuhi panggilan Allah Swt. Kepada kita hanya diminta pengakuan didalam hidup ini, apakah tujuan hidup kita ini akan lebih mengutamakan panggilan Allah Swt., ataukah kita akan mengutamakan panggilan syaitan. Dengan kata lain apakah kita ini akan menjadi hamba Mukmin dan Muslim yang selalu taat dan patuh kepada Allah Swt, ataukah menjadi hamba hawa nafsu serakah atau hamba nafsu sifat kebinatangan atau sifat-sifat hewaniyah yang akan mengabdi kepada syaitan. Jadi kepada kita hanya dituntut untuk menentukan sikap hidup, apa mau memilih jalan Allah Swt., dan Rasul-Nya atau memilih jalan syaitan.
Kita berdoa semoga Allah Swt., senantiasa akan melimpahkan Taufik dan Hidayahnya, memberikan bimbingan serta petunjuknya dalam setiap langkah dan aktivitas hidup kita, sehingga hidup dan kehidupan kita selalu didalam Ridho Allah Swt., dan memperoleh keselamatan dan kebahagiaan hidup didunia dan di akhirat.
Sebelum diakhiri khutbah dalam rangka Hari Raya ’Idul Adha tahun ini, marilah kita bersama-sama berdoa kepada Allah Swt., semoga doa kita senantiasa diijabah dan diridhoi oleh Allah Swt. Amiin, amiin, amiin Ya Mujibas Sa-ilin...!

(Sumber tulisan: Status di Grup Facebook Pemuda TQN Suryalaya)


Related

Artikel Islami 2522879717470263311

Poskan Komentar

Untaian Mutiara:

Jangan Benci Kepada Ulama Yang Sezaman ;

Jangan Menyalahkan Pengajaran Orang Lain;

Jangan Memeriksa Murid Orang Lain;

Jangan Berhenti Bekerja Meskipun Disakiti Orang;

Harus Menyayangi Orang Yang Membenci Kepadamu

Google+ Badge

Follow Us

item