ads

Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5

(Dokumen no.214 Pertanyaan Ani Sumarni):
Teman-teman bagaimana pendapat anda tentang kebiasaan masyarakat qt yg suka mengadakan tahlil/membaca yasin di rumah orang yg baru saja mengalami duka krn sanak saudarax meninggal dunia, biasax peringatanx pd hari ke 3 ke 7 atau ke 40 hrx, ada yg mengatakan itu bid'ah mhn pendapatnya!

Wahyu Pratama  :
Budaya selamatan setelah hari kematian seseorang dengan tahlilan dan walimahan—baik dalam 7 hari, 40 hari, 100 hari atau 1000 hari—adalah salah satu budaya masyarakat Nahdhiyyin di Indonesia yang sangat diingkari oleh kaum Wahhabi dan yang sefaham dengannya serta dituduh sebagai budaya bid’ah dan sesat. Berbagai buku yang bermuatan kritik dan hinaan terhadap budaya tersebut banyak ditulis oleh orang-orang menisbatkan dirinya penganut faham salaf atau Wahhabi. Mereka juga mengatakan dan memberi bukti tuduhannya bahwa budaya tersebut adalah warisan budaya agama Hindu, terbukti dengan diadakannya konggres yang dilakukan oleh petinggi-petinggi umat Hindu se-Asia pada tahun 2006 di Lumajang, Jawa Timur. Dan salah satu point pembahasannya adalah membicarakan tentang ungkapan syukur atas keberhasilan menyebarkan budaya acara-acara setelah kematian seperti 7 hari, 40 hari, 100 hari dan 1000 hari. (Lihat buku Mantan Kyai NU Menggugat Tahlilan, Istighatsahan dan Ziarah Para Wali, karangan H. Mahrus Ali ) Berikut ini, akan kami kupas hadits dan dalil tentang melaksanakan budaya di atas. Jawaban tentang masalah ini kami ambil dari kitab Qurrah al-’Ain bi Fatawi Isma’il Zain al-Yamani halaman 175 cetakan Maktabah al-Barakah dan kitab al-Hawi lil Fatawi karya al-Hafizh Jalaluddin as-Suyuthi juz 2 halaman 179 cetakan Darul Kutub, Bairut.
Syaikh Isma’il Zain al-Yamani menulis sebagai berikut (kami kutib secara garis besar): Dalam Sunan Abu Dawud hadits nomer 2894 dituliskan: “Muhammad bin al-‘Ala’ menceritakan dari (Abdullah) bin Idris dari ‘Ashim bin Kulaib dari ayahnya (Kulaib) dari seorang laki-laki Anshar (shahabat), berkata: ‘Aku keluar bersama Rasulallah berta’ziyah ke salah satu jenazah. Selanjutnya aku melihat Rasulallah di atas kubur berpesan kepada penggali kubur (dengan berkata): ‘Lebarkanlah bagian arah kedua kaki dan lebarkan pula bagian arah kepala!’ Setelah Rasulallah hendak kembali pulang, tiba-tiba seseorang yang menjadi pesuruh wanita (istri mayit) menemui beliau, mengundangnya (untuk datang ke rumah wanita tersebut). Lalu Rasulallah pun datang dan diberi hidangan suguhan makanan. Kemudian Rasulallah pun mengambil makanan tersebut yang juga diikuti oleh para shahabat lain dan memakannya. Ayah-ayah kami melihat Rasulallah mengunyah sesuap makanan di mulut beliau, kemudian Rasulallah berkata: ’Aku merasa menemukan daging kambing yang diambil dengan tanpa izin pemiliknya?!’ Kemudian wanita itu berkata: ’Wahai Rasulallah, sesungguhnya aku telah menyuruh untuk membeli kambing di Baqi,[1] tapi tidak menemukannya, kemudian aku mengutus untuk membeli dari tetangga laki-laki kami dengan uang seharga (kambing tersebut) untuk dikirimkan kepada saya, tapi dia tidak ada dan kemudian saya mengutus untuk membeli dari istrinya dengan uang seharga kambing tersebut lalu oleh dia dikirimkan kepada saya.’ Rasulallah kemudian menjawab: ’Berikanlah makanan ini kepada para tawanan!’” Hadits Abu Dawud tersebut juga tercatat dalam Misykah al-Mashabih karya Mulla Ali al-Qari bab mukjizat halaman 544 dan tercatat juga dalam as-Sunan al-Kubra serta Dala’il an-Nubuwwah, keduanya karya al-Baihaqi.

Komentar Syaikh Ismail tentang status sanad hadits di atas, beliau berkata bahwa dalam Sunan Abu Dawud tersebut, Imam Abu Dawud diam tidak memberi komentar mengenai statusnya, yang artinya secara kaidah (yang dianut oleh ulama termasuk an-Nawawi dalam mukaddimah al-Adzkar) bahwa hadits tersebut boleh dibuat hujjah, artinya status haditsnya berkisar antara hasan dan shahih. Al-Hafizh al-Mundziri juga diam tidak berkomentar, yang artinya bahwa hadits tersebut juga boleh dibuat hujjah. Perawi yang bernama Muhammad bin al-‘Ala’ adalah guru Imam al-Bukhari, Muslim dan lain-lain dan jelas termasuk perawi shahih. Abdullah bin Idris dikomentari oleh Ibnu Ma’in sebagai perawi tsiqah dan di katakan oleh Imam Ahmad sebagai orang yang tidak ada duanya (nasiju wahdih). Sementara ‘Ashim, banyak yang komentar dia adalah perawi tsiqah dan terpercaya, haditsnya tidak mengapa diterima, orang shalih dan orang mulia penduduk Kufah. Sedangkan laki-laki penduduk Madinah yang di maksud adalah shahabat Nabi yang semuanya adalah adil tanpa ada curiga sama sekali. Dari keterangan ini, dapat diambil kesimpulan bahwa hadits di atas adalah hadits hasan yang bisa dibuat hujjah.

Sedangkan dari sisi isinya, hadits tersebut mengandung beberapa faidah dan hukum penting, di antaranya: v Menunjukkan mukjizat Rasulallah yang dapat mengetahui haram tidaknya sesuatu tanpa ada seseorang yang memberi tahu. Oleh karena itu, al-Baihaqi dalam Dala’il an-Nubuwwah menyebutkan hadits ini dalam bab Mukjizat. v Jual belinya seseorang yang bukan pemilik atau wakil (bai’ fudhuli) adalah tidak sah dan bathil. Oleh karennya, Abu Dawud menyebutkan hadits ini dalam Sunan-nya di bagian bab Jual Beli. v Akad yang mengandung syubhat seyogianya dihindari agar tidak jatuh pada limbah keharaman. v Diperbolehkannya bagi keluarga mayit membuat hidangan atau walimah dan mengundang orang lain untuk hadir memakannya. Bahkan, jika difahami dari hadits tersebut, melakukan walimah tersebut adalah termasuk qurbah (ibadah). Sebab, adakalanya memberi makan bertujuan mengharapkan pahala untuk si mayit -termasuk utama-utamanya qurbah- serta sudah menjadi kesepakatan bahwa pahalanya bisa sampai kepada mayit. Mungkin pula bertujuan menghormati tamu dan niat menghibur keluarga yang sedang mendapat musibah agar tidak lagi larut dalam kesedihan. Baik jamuan tersebut dilakukan saat hari kematian, seperti yang dilakukan oleh istri mayit dalam hadits di atas, atau dilakukan di hari-hari berikutnya. (Mungkin maksud Syaikh Ismail adalah hari ke-7, 40, 100 dan 1000).
Hadits di atas juga di nilai tidak bertentangan dengan hadits masyhur berikut:
 إِصْنَعُوا لِآلِ جَعْفَرَ طَعَامًا فَقَدْ أَتَاهُنَّ مَا يُشْغِلُهُنَّ أَوْ أَتَاهُمْ مَا يُشْغِلُهُمْ “Buatlah makanan untuk keluarga Ja‘far, karena anggota keluarga yang wanita sedang sibuk atau anggota keluarga laki-laki sedang sibuk.”

Menurut Syaikh Isma‘il, hadits tersebut (keluarga Ja'far) ada kemungkinan (ihtimal) khusus untuk keluarga Ja‘far, karena Rasulallah melihat keluarga Ja‘far tersebut sedang dirundung duka sehingga anggota keluarganya tidak sempat lagi membuat makanan. Kemudian Rasulallah menyuruh anggota keluarga beliau untuk membuatkan makanan bagi keluarga Ja‘far. Selain itu juga, tidak ada hadits yangsharih (jelas) yang menjelaskan bahwa Rasulallah melarang bagi keluarga mayit membuat hidangan atau walimahan untuk pentakziyah.  Pernyataan ini dikuatkan dengan riwayat dalam Shahih al-Bukhari dari Aisyah:
“Dari Aisyah, istri Rasulallah, ketika salah satu keluarganya ada yang meninggal, para wanita-wanita berkumpul dan kemudian pergi kecuali anggota keluarganya dan orang-orang tertentu. Kemudian beliau memerintahkan untuk membawakannya periuk berisi sup yang terbuat dari tepung yang dicampuri dengan madu kemudian dimasak. Kemudian dibuatlah bubur sarid dan sup tadi dimasukkan ke dalam bubur tersebut. Lalu beliau berkata: ‘Makanlah makanan ini karena aku mendengar dari Rasulallah bersabda bahwa bahwa sup dapat melegakan hati orang yang sedang sakit; menghilangkan sebagian kesusahan.” Orang yang mengerti kaidah syari’at berpandangan bahwa walimah yang dibuat oleh keluarga mayit adalah tidak dilarang selama mereka membuat walimah tersebut karena taqarrub kepada Allah, menghibur keluarga yang sedang mendapat musibah dan menghormat para tamu yang datang untuk bertakziyah. Tentunya, semua itu jika harta yang digunakan untuk walimah tersebut tidak milik anak yatim, yakni jika salah satu keluarga yang ditinggalkan mayit ada anak yang masih kecil (belum baligh).

Adapun menanggapi perkataan (hadits) al-Jarir bin Abdillah yang mengatakan bahwa berkumpul dengan keluarga mayit dan membuatkan hidangan untuk mereka adalah termasuk niyahah (meratapi mayit) yang diharamkan, Syaikh Isma‘il memberi jawaban: “Maksud dari ucapan Jarir tersebut adalah mereka berkumpul dengan memperlihatkan kesedihan dan meratap. Hal itu terbukti dari redaksi ucapan Jarir yang menggunakan kata niyahah. Hal itu menunjukkan bahwa keharaman tersebut dipandang dari sisi niyahah dan bukan dari berkumpulnya. Sedangkan apabila tidak ada niyahah tentu hal tersebut tidak di haramkan.” Sedangakan menjawab komentar ulama-ulama yang sering digunakan untuk mencela budaya di atas[2] (tentang hukum sunah bagi tetangga keluarga mayit membuat atau menyiapkan makanan bagi keluarga mayit sehari semalam) yang dimaksudkan adalah obyek hukum sunah tersebut adalah bagi keluarga mayit yang sedang kesusahan seperti yang dialami keluarga Ja‘far. Oleh karena itu, tidak ada dalil tentang hukum makruh membuat walimah oleh keluarga mayit secara mutlak kecuali dari (memahami) hadits keluarga Ja‘far dan hadits Jarir di atas. Ada kemungkinan juga ulama-ulama tersebut belum pernah melihat hadits ‘Ashim di atas yang menerangkan tentang bolehnya membuat walimah bagi keluarga mayit. Al-‘Allamah Mulla Ali al-Qari mengatakan: “Zhahir dari hadits ‘Ashim tersebut menentang apa yang diputuskan oleh para ulama kita (ashhabuna) tentang dimakruhkannya membuat walimah di hari pertama, ketiga atau setelah seminggu.”

Adapun dalil bahwa pahala shadaqah yang dihadiahkan kepada mayit itu sampai kepadanya adalah riwayat al-Bukhari dari Aisyah:
“Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulallah Saw.: ‘Ibu saya telah meninggal, dan aku berprasangka andai dia bisa berbicara pasti dia akan bersedekah, maka apakah dia mendapat pahala jika aku bersedekah untuknya?’ Rasulallah menjawab: ‘Benar.’”

Hadits shahih ini adalah hujjah tentang pahala shadaqah yang sampai kepada mayit. Maka dari itu, pembaca jangan terperdaya dengan ‘pandangan’ H. Mahrus Ali dalam bukunya yang berjudul Mantan Kyai NU Menggugat Tahlilan, Istighatsahan dan Ziarah para Wali. Mahrus Ali mengatakan bahwa hadits-hadits tentang pahala shadaqah tersebut adalah dha‘if dan secara isyarah dia melemahkan hadits shahih al-Bukhari di atas. Sungguh brutal dan ‘ngawur’ sekali! Bukan dalang tapi mendalang. Bukan ahli hadits tapi menilai hadits. Apalagi sampai mendhaifkan hadits dalam shahih Bukhari yang mempunyai sanad (bukan mu’allaq) dan sudah menjadi kesepakatan ulama termasuk hadits shahih.

Fatwa as-Suyuthi: Terdapat keterangan ulama bahwa mayit difitnah (ditanya malaikat Munkar dan Nakir) di dalam kuburnya adalah selama 7 hari (setelah hari penguburan) sebagaimana tersirat dalam hadits yang dibawakan oleh beberapa ulama. Hadits yang dibuat landasan tersebut adalah: Hadits riwayat Ahmad dalam az-Zuhd dari Thawus. Hadits riwayat Abu Nu’aim al-Ashbahani dari Thawus. Hadits riwayat Ibnu Juraij dalam al-Mushannaf dari ‘Ubaid bin ‘Umair (sebagian berkomentar dia adalah pembesar tabi’in dan sebagian yang lain mengatakan dia seorang shahabat). Al-Hafizh Ibnu Rajab menisbatkan pada Mujahid dan ‘Ubaid bin ‘Umair.
Hadits-hadits tersebut adalah:“Imam Ahmad dalam az-Zuhd berkata: ‘Hasyim bin Qasim bercerita kepadaku dari al-Asyja‘i dari Sufyan dari Thawus, dia berkata: Sesungguhnya mayit di dalam kuburnya terfitnah (ditanyai Malaikat Munkar dan Nakir) selama 7 hari. Dan mereka menganjurkan supaya membuat (walimahan) dengan memberi makan (orang-orang), (yang pahalanya dihadiahkan) untuk si mayit tersebut di hari-hari tersebut.”Selanjutnya hadits riwayat berikutnya adalah sama secara makna.

Sebelum membahas isi dari hadits ini, marilah kita bahas terlebih dahulu diri sisi sanadnya, sehingga kita akan tahu layak dan tidaknya hadits ini untuk dibuat hujjah. Perawi-perawi hadits yang pertama adalah shahih dan Thawus adalah termasuk pembesar tabi’in. Hadits yang diriwayatkan dan tidak mungkin dari hasil ijtihad shahabat atau tabi’in hukumnya adalah marfu’ bukan mauquf, seperti hadits yang menerangkan tentang alam barzakh, akhirat dan lain-lain sebagaimana yang sudah maklum dalam kaidah ushul hadits. Atsar Thawus tersebut adalah termasuk hadits marfu’ yang mursal dan sanadnya shahih serta boleh dibuat hujjah menurut Abu Hanifah, Malik dan Ahmad secara mutlak tanpa syarat. Sedangkan menurut asy-Syafi‘i juga boleh dibuat hujjah jika ada penguat seperti ada riwayat yang sama atau riwayat dari shahabat yang mencocokinya. Syarat tersebut telah terpenuhi, yaitu dengan adanya riwayat dari Mujahid dan ‘Ubaid bin ‘Umair dan keduanya seorang tabi’in besar (sebagian mengatakan ‘Ubaid adalah shahabat Rasulallah). Dua hadis riwayat selanjutnya adalah hadits mursal yang menguatkan hadits mursal di atas. Menurut kaidah ushul, kata-kata “mereka menganjurkan memberi makan di hari-hari itu” adalah termasuk ucapan tabi’in. Artinya, kata “mereka” berkisar antara shahabat Rasulallah, di zaman Rasulallah, dan beliau taqrir (setuju) terhadap prilaku tersebut atau artinya adalah shahabat tanpa ada penisbatan sama sekali kepada Rasulallah. Ulama juga berselisih apakah hal itu adalah ikhbar (informasi) dari semua shahabat yang berarti menjadi ijma’ atau hanya sebagian dari shahabat saja. Dari hadits di atas dapat difahami dan digunakan sebagai: Dasar tentang i’tiqad bahwa fitnah kubur adalah selama 7 hari. Penetapan hukum syara' tentang disunahkannya bershadaqah dan memberi makan orang lain di hari-hari tersebut. Serta, dapat dijadikan dalil bahwa budaya memberi makan warga Nahdhiyyin saat hari pertama sampai hari ketujuh dari hari kematian adalah terdapat dalil yang mensyariatkannya. As-Suyuthi juga mengatakan: “Sunah memberi makan selama 7 hari tersebut berlaku sampai sekarang di Makkah dan Madinah, dan secara zhahirnya hal itu sudah ada dan tidak pernah ditinggalkan masyarakat sejak zaman shahabat sampai sekarang. Dan mereka mengambilnya dari salaf-salaf terdahulu.” Al-Hafizh Ibnu ‘Asakir meriwayatkan dari Abul Fath Nashrullah bin Muhammad bahwa Nashr al-Maqdisi wafat di hari Selasa tanggal 9 Muharram tahun 490 hijriyyah di Damaskus dan kami menetap di makamnya selama 7 hari membaca al-Qur’an sebanyak 20 khataman. Adapun melakukan acara 40 hari, 100 hari atau 1000 hari dari kematian dengan melakukan tahlilan dan bershadaqah memang tidak ada dalil yang mengatakan sunah. Namun demikian, melakukan budaya tersebut diperbolehkan menurut syariat. Dan seyogianya bagi yang mengadakan acara tersebut tidak mengi’tiqadkan bahwa hal tersebut adalah sunnah dari Rasulallah, tetapi cukup berniat untuk bershadaqah dan membacakan Al-Qur’an, yang mana pahalanya dihadiahkan kepada mayit, sebagaimana keterangan di atas. Sedangkan untuk menanggapi syubhat dari H. Mahrus Ali yang mengatakan bahwa tahlilan kematian dan budaya 7 hari, 40 hari, 100 hari dan 1000 hari adalah budaya Hindu dan melakukannya adalah syirik karena menyerupai orang kafir (dia juga membawakan hadits tentang tasyabbuh riwayat ath-Thabarani dan Abu Dawud), kami menjawab sebagai berikut:

Sebagian dari pernyataannya tentang acara selamatan 7 hari yang katanya adalah merupakan salah satu dakwah (ajaran syari’at) umat Hindu sudah terbantah dengan hadits-hadits di atas. Andai anggapan tersebut benar adanya, bahwasannya budaya walimah kematian 7 hari, 40 hari dan sebagainya tersebut adalah bermula dari budaya warisan umat Hindu Jawa, sebagaimana yang di yakini oleh bebarapa Kyai dan ahli sejarah babat tanah Jawa, dan di saat ajaran Islam yang di bawa Wali Songo datang, budaya tersebut sudah terlanjur mendarah daging dengan kultur masyarakat Jawa kala itu. Kemudian dengan dakwah yang penuh hikmah dan kearifan dari para wali, budaya yang berisi kemusyrikan tersebut di giring dan di arahkan menjadi budaya yang benar serta sesuai dengan ajaran Islam, yaitu dengan diganti dengan melakukan tahlilan, kirim do’a untuk orang yang telah meninggal atau arwah laluhur dan bersedekah. Maka sebenarnya jika kita kembali membaca sejarah Islam bahwasannya methode dakwah wali 9 yang mengganti budaya Hindu tersebut dengan ajaran yang tidak keluar dari tatanan syariat adalah sesuai dengan apa yang di lakukan oleh Rasulallah yang mengganti budaya Jahiliyyah melumuri kepala bayi yang di lahirkan dengan darah hewan sembelihan dan diganti dengan melumuri kepala bayi dengan minyak zakfaron. Apa yang di lakukan Rasulallah tersebut tersirat dalam sebuah hadits shahih riwayat al-Hakim dalam al-Mustadrak, Abu Dawud dalam Sunan-nya, Imam Malik dalam al-Muwaththa’ dan al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubrayang semuanya di riwayatkan dari shahabat Abu Buraidah al-Aslami berikut:“Saat kami masih hidup di zaman Jahiliyyah; saat salah satu dari kami melahirkan seorang bayi, maka kami menyembelih seekor kambing dan kepala bayi kami lumuri dengan darah kambing tersebut. Namun saat Allah mendatangkan Islam, kami menyembelih kambing, kami cukur rambut kepala bayi dan kami lumuri kepalanya dengan minyak zakfaron”
->BACA JUGA:  MENGENAI BID'AH
=================================================
Silahkan memberikan komen secara sopan dan bijaksana serta tetap mengedepankan ukhwah/silaturahmi.....
salam santun dari kami.....
=================================================

About SANTRI TQN

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

37 komentar:

madu pahit mengatakan...

Tidak usah bertele-tele. Mudah saja....
1. Kenapa Manusia terbaik, yang paling sholeh, yang paling taqwa, yang paling ikhlas, yang paling berilmu yaitu Rosulullaah SAW tidak melakukan tahlilan dihari 3,7,40,100 dll? Ingat pertanyaanya : MENGAPA BELIAU TIDAK MELAKUKANNYA ???? Sedang ketika itu dijumpai ada sahabat yang meninggal dunia, bahkan anak Rosulullaah SAW meninggal tidak ada acara tersebut. MENGAPA BELIAU TIDAK MELAKUKANNYA ????
2. Mengapa pula para sahabat yang jumlahnya ribuan tidak ada satupun yang melakukan ritual itu ????
3. Mengapa pula IMAM2 KITA YANG EMPAT TIDAK ADA YANG MELAKUKANNYA ????
4. Jika daun kurma diyakini bisa meringankan siksa kubur maka alangkah senangnya orang yang dikubur di daerah kebun kurma, karena tdk kering2. Bukan begitu maksudnya tapi baca dgn seksama kisah tersebut.
5. Klo permasalahan ini dibuka lebar saya kuatir orang semakin malas ibadah dan rajin maksiat sebab hanya menyandarkan pada banyak hadiah yg datang. Klo begitu klo para koruptor mati mereka tenang2 saja, kan duitnya bisa untuk undang jutaan orang untuk mendoakannya.
Salaam Damai berfikir jernih

Pengelola Bersama mengatakan...

@Madu Pahit: terimakasih komentnya...mari kita bersama-sama berfikiran jernih...mgkn bagi org2 yg memiliki faham lain contohnya Wahabi tidaklah sepaham dengan yang apa kami tuliskan...ini adalah apa yang menurut keyakinan kami ahlussunnah wal jamaah (aswaja) yang sudah ada dalil2nya dicontohkan oleh ulama dan waliyullah , tidak ada hubungannya dengan malas atau tidaknya seseorang ibadah ataupun koruptor..dan silakan dengan jalan masing2....
Bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu. Tidak ada pertengkaran antara kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nya lah kembali (kita)" (QS.42:15)

terimakasih sudah berkunjung ke website kami salam persahabatan selalu :)

Bangkit Sanjaya mengatakan...

Setuju dengan pak Pengelola B. , silahkan dengan jalan masing2 tidak perlu kita saling menyalahkan...

oye mengatakan...

saya kira tuan madu pahit ini kurang cerdas memahami masalah. mengkaji hal2 spt ini harus melihat latar belakang sejarah, tdk serta merta menvonis perbuatan orang dengan dasar pertimbangan yang sempit. agama ini membuat penganutnya lebih luas hatinya bukan malah menyempitkan. mgkn saya akan dikategorikan golongan yg sempit pikirannya apabila saya menanyakan kenapa org2 wahabi sekarang memakai dasi, celana panjang, dan jam tangan rolex? bukankah rasul yang mulia dan ribuan sahabatnya tidak pernah melakukannya? bid'ahkah mereka?

Kumaha Yeuh mengatakan...

Mas Madu Pahit sebaiknya anda juga belajar yang banyak tentang pengetahuan Islam. Supaya lebih arif menilai saudara sendiri

Kumaha Yeuh mengatakan...

Sebaiknya Mas Madu pahit berkenan meluangkan waktu belajar sebanyak-banyaknya tentang Islam dari berbagai madzhab. Supaya arif menilai saudara sendiri.

welcome ashof mengatakan...

aneh bgt ya. Nabi besrta para sahabat saja tdk mengerjakan tahlilan. Maksa bgt tahlilan di jadikan sunnah. Setau saya budaya tahlilan hanya ada di indonesia dan tepatnya org2 jawa ( no offense ). Kira2 dsini tmn2 pernah fenger g tahlilan di Malaysia. Atau negara2 dg mayoritas pendudknya islam. Sekali lagi tdk ada maksud menghina.. Hanya seorng hamba yg sama ingin belajar agama.. Thanks.

nanang suryana mengatakan...

hati-hati umat islam di adu domba oleh paham madu pahit dan welcome ashof. kalo gak suka garam jangan pake garam. namanya juga sudah madu fahit dan welcome ashof..... bukannya mempermanis malah memperpahit....

Ummu Nurima mengatakan...

Welcome ashof...


Aswaja adalah Sunni Ahlusunah Waljamaah, budaya tahlilan bukan hanya ada di Indonesia tapi seluruh Dunia yg beraqidah Aswaja, Pengetahuan anda sangat sempit sekali. Di Negara Saudara saya Malaysia, Afghanistan, Pakistan, India, Yaman dll juga tahlilan bersama mendoakan si Mayit yg meninggal.


Ingin bukti silahkan datang ke Negara saudara kami Sunni. Hanya Wahabbi saja yg g mau tahlilan, dan suka fitnah. Mengada ngada tanpa dalil yg sahih, dan suka memotong motong Alquran dan Hadits dalam berdalil....

Ummu Nurima mengatakan...

Tahlilan, Maulid Nabi, Dzikir Berjama’ah, Yasinan Adalah Amal-amal Shalih | BERITA FAKTA INSPIRASI ISLAM | UmmatiPress - http://ummatipress.com/2012/02/28/tahlilan-maulid-nabi-dzikir-berjamaah-yasinan-adalah-amal-amal-shalih/

Simbah Rsm mengatakan...

gampang saja...
yang setuju tahlilan, kalo meninggal di tahlili
hakekat yang gak setuju kalo meninggal gak usah di tahlili,,, malah klo perlu gak usah di SHOLATI,, gak p2...,

Amzah,MD mengatakan...

AlhamduLILLAH wa sholatu wa salamu 'ala RosuLILLAH, waba'du..Akhina FILLAH yg senantiasa mengikuti nafak tilas baginda Nabi melalui 'Ulama.. dan salafusholeh..saya melihat ada pemahaman yg kurang. jauh sebelum ditunjukkan dalil2 tahlilan.. Mari kita ambil contoh ketika orang ditanya, mau kemana ..? mau sholat tarowih. Nah sesungguhnya yg dilakukan bukan hanya Tarowih tapi juga witir dan sholat i'sya. begitu juga tahlilan. Bukan hanya tahlilan (LAA ILAAHA ILLALLAH)tapi juga tahmidan (ALHAMDULILLAH) tasbihan (SUBHANALLAH) takbiran (ALLAHU AKBAR) DAN LAIN2..BUKANKAH ITU DIANJURKAN daripada bercerita ngalor ngidul di rumah shohibul mushibah..???Sungguh kesesatan yg nyata bagi orang2 yg menyesat nyesatkan sodaranya sedangkan tidak ada petunjuk dari Allah dan Rosulnya mengenai kesesatan tersebut.. Wallahu A'lam..

Refnaldi Hakim mengatakan...

:) Perbedaan itu Indah.. sumber ilmu sekarang banyak sekali ada yang benar dan ada yang salah.. semua dikembalikan dengan Al-Qur'an dan Hadist. Baik menurut kita belum tentu baik menurut Allah.. Carilah ridho-Nya janganlah kita mencari perbedaan.

ari-herbalnature mengatakan...

Orang berilmu tentunya punya hujjah yg kuat dan berhati hati dalam berpendapat dlm agama islam..Islam datang bukan berdasarkan ego atw budaya tetapi bdasarkan wahyu Alloh Tabaraka wata'ala..cobalah pahami dan dalami Islam berdasarkan Sirah Nabawiyah bukan sirah sirah lainnya krn itu berkaitan dengan Al Haq bukan Napsu..tentunya berdasarkan Kitabullah wa Sunnah Nabi dgn pemahaman salafussholeh..skrg tanyakan kpd diri anda mengerti n pahamkah anda arti salaf secara bahasa n syar'iyah?!hati hati anda bwrbicara syariat jika salah berarti pendpt yg dikemukakan merupakan fitnah kpd Rasul,sahabat n ulama salaful ummah..

.::.arifLewisape.::. mengatakan...

Sebenarnya pertanyaan MADU PAHIT cukup menantang dalam mencari kebenaran. Yang dibutuhkan adalah JAWABAN ATAS PERTANYAAN bukan mencercanya. Apakah ada yang bisa dan punya waktu menjelaskannya ? Sesudahnya kita bisa memilih mana yang lebih cocok . Dibutuhkan sikap lapang dada menghadapi pertanyaan seperti yang ditanyakan MADU PAHIT, bukannya marah-marah.

Azzam Espisangijo mengatakan...

bukan amal sholih tapi amal bid'ah

Electric Piano mengatakan...

JANGAN BANYAK BERDEBAT TAPI BANYAK LAH KITA BELAJAR DAN BERAMAL...KEBENARAN HANYA DARI ALLAH

Anak Desa mengatakan...

Mnrt saya, lebih bagus koreksi diri sendiri. Islam benci menjelek2kan saudara Islam lainnya. Saya kira Di jaman nabi yg namanya Internet tidak pernah ada, kenapa kalian suka dengan internet? Apakah ini pernah di anjurkan oleh Nabi....?
Ingat pertanyaanya : MENGAPA BELIAU TIDAK MELAKUKANNYA dan kenapa kalian MELAKUKANNYA..????

Yang tidak suka tahlil silahkan jgn bertahlil, yg suka bertahlil silahkan bertahlil dgn cara yg benar. Saya yakin, hidup terasa indah jk kita saling menghargai. Ingat ... !!!! Orang masuk surga dan neraka hanya Tuhan yg tau, bukan NABI juga bukan para Imam. Tergantung perbuatan kita selama hidup.

Anak Desa mengatakan...

Lebih aneh lagi anda, Nabi tidak pernah main internet. Tapi kenapa anda justru doyan main internet? apakah lebih bagus membaca alfatihah utk mendoakan saudara anda yg sudah meninggal?
Lebih besar mana manfaatnya dan mudharatnya?

Pesona Bali mengatakan...

ga baik bicara gitu mas.. kami orang muhammadiyah pun tidak melakukan tahlilan,saudara kita dari persis pun mungkin mereka juga ga ikut tahlilan jadi kurang bijak sana kalau bicaranya seperti itu.mari kita ciptakan sikap saling menghargai beragama yang sehat.. ga semua orang yang tidak tahlilal itu wahabi.

Pesona Bali mengatakan...

maaf mas.. saya rasa kurang sopan bicara seperti itu,kalau bicara begitu seolah2 agama islam tidak sesuai dengan zaman karena dulu tidak ada internet dan sekarang pada pake internet.bukankah nabi sudah menyerahkan urusan dunia kepada umatnya "...kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian.(HR. Muslim)"tapi tidak dalam menetukan hukum ibadah.jadi kita tidak ada batasan untuk menciptakan benda2 barang untuk dunia kita tapi kalau masalah ibadah harus sesuai dengan yang apa beliau ajarkan.tidak ada larangan kira menggunakan mobil, internet,pesawat karena semuanya bersifat duniawi dan otak manusia masih bisa manjangkaunya tapi kalau ibadah bukankan hanya ALLAH dan ROSULULLOH saja yang tahu,dan karena ALLAH dan ROSULULLOH saja yang tahu jadi suatu hal yang tidak mungkin kalau ada manusia selain rasululloh yang mengerti tata cara ibadah yang tidak pernah rasululloh sampaikan ke kita.perbedaan janganlah mengkambinghitamkan rasululloh .


Ummu Nur Ranaa Thariifah mengatakan...

Bid'ah itu adalah perkara2 baru yang dibuat dalam hal AGAMA dan tidak pernah dicontohkan oleh Rasul dan sahabat...
Perkara AGAMA loh y Oye...
Apakah memakai dasi, celana panjang, dan jam tangan rolex termasuk kepada perkara AGAMA?

Suriyanto Almaliki mengatakan...

Semoga bermanfaat...

generasi herbal mengatakan...

bagi mereka yang mengerjakan acara,1,2,3 7, 40 ,100,1000 ya silahkan,bagi yang tidak seperti saya ya kita istiqomah saja.bersyukurlah kita karena diberi hidayah yaitu berupa ilmu agama dan bisa mengamalkan ilmu tersebut.ahlul bid'ah itu mencari-cari dalil untuk memmbenarkan acara mereka

kenshiela ida mengatakan...

Nabi sudah mengabarkan bahwa di akhir jaman islam akan terpecah menjadi 73 golongan, dan hanya 1 yang akan masuk ke surga Alloh swt, yaitu yang mengikuti al-qur'an dan as-sunnah Roasululloh saw. yang lurus mengikuti kedua-nya. sebagaimana generasi salafusholeh yang sudah disebut nabi saw sebagai generasi terbaiknya. Jadi seyogyanya hati-hati dalam mengambil ilmu. klo tidak ada contoh dari nabi saw kenapa harus dilakukan..? Karena pada saat nabi saw akan wafat, wahyu terkahirnya adalah "hari ini telah ku sempurnakan agamamu dan sudah ku cukupkan nikmatku kepadamu', berarti ya sudah sempurna, kenapa harus diatmbah-tambahin..? (sia-sia saja!!!)

kenshiela ida mengatakan...

dari 73 golongan kaum muslimin di akhir jaman, hanya 1 yang akan msuk ke surga Alloh jalla wa jalla, yaitu yang lurus di dalam mengikuti Al-qur'an dan assunnah nabi saw. jadi hati-hatilah dalam mengambil ilmu.. semoga kita bisa mengikuti pemahaman para generasi terbaik nabi saw yaitu para salafusholeh (4 sahabat nabi)dan para tabiin. Islam sudah sempurna sebagaimana wahyu Alloh kepada nabi saw bahwa "Hari ini telah kusempurnakan agamamu dan telah ku cukupkan nikmatku kepadamu". Jadi ya sudah sempurna, jangan ditambah-tambahin lagi, sia-sia. Kehati-hatian sangat penting karena, jangan sampai menurut kita baik, tapi menurut Alloh itu adalah sebuah perkara maksiat kepada-Nya krn memang tidak pernah ada dalam tuntunanNya yang sdh diturunkan secara sempurna kepada Rosul-Nya Muhammad saw. Ingat dari 73 golongan, hanya 1 1 yang dijamin surga, yaitu yang lurussss...

kenshiela ida mengatakan...

Rosululloh sudah mengingatkan umatnya bahwa pada akhir jaman umatnya terpecah menjadi , tetapi hanya 1 yang akan msuk ke surga Alloh jalla wa jalla, yaitu yang lurus di dalam mengikuti Al-qur'an dan assunnah nabi saw. jadi hati-hatilah dalam mengambil ilmu.. semoga kita bisa mengikuti pemahaman para generasi terbaik nabi saw yaitu para salafusholeh (4 sahabat nabi)dan para tabiin. Islam sudah sempurna sebagaimana wahyu Alloh kepada nabi saw bahwa "Hari ini telah kusempurnakan agamamu dan telah ku cukupkan nikmatku kepadamu". Jadi ya sudah sempurna, jangan ditambah-tambahin lagi, sia-sia. Kehati-hatian sangat penting karena, jangan sampai menurut kita baik, tapi menurut Alloh itu adalah sebuah perkara maksiat kepada-Nya krn memang tidak pernah ada dalam tuntunanNya yang sdh diturunkan secara sempurna kepada Rosul-Nya Muhammad saw.

kenshiela ida mengatakan...

Rosululloh sudah mengingatkan umatnya bahwa pada akhir jaman umatnya terpecah menjadi , tetapi hanya 1 yang akan msuk ke surga Alloh jalla wa jalla, yaitu yang lurus di dalam mengikuti Al-qur'an dan assunnah nabi saw. jadi hati-hatilah dalam mengambil ilmu.. semoga kita bisa mengikuti pemahaman para generasi terbaik nabi saw yaitu para salafusholeh (4 sahabat nabi)dan para tabiin. Islam sudah sempurna sebagaimana wahyu Alloh kepada nabi saw bahwa "Hari ini telah kusempurnakan agamamu dan telah ku cukupkan nikmatku kepadamu". Jadi ya sudah sempurna, jangan ditambah-tambahin lagi, sia-sia. Kehati-hatian sangat penting karena, jangan sampai menurut kita baik, tapi menurut Alloh itu adalah sebuah perkara maksiat kepada-Nya krn memang tidak pernah ada dalam tuntunanNya yang sdh diturunkan secara sempurna kepada Rosul-Nya Muhammad saw.

Nurul Mukminin mengatakan...

NABI TIDAK MELAKUKAN tapi NABI TIDAK MELARANG (Diamnya adl bagian dr Sunnah)

yuliono mengatakan...

Internet itu hanyalah alat bos, sebagai media atau alat... hukum haram halalnya tergantung dari penggunaanya apakah untuk kebaikan atau keburukan. kalau masalah tahlilan itu adalah termasuk area peribadatan (hubudiyah) seharusnya sebagai seorang muslim itu mengikuti manhaj kenabian (jalan kenabian) selama nabi dan para sahabatnya tidak pernah melakukan hal itu.. maka perkara itu termasuk Bid'ah padahal bid'ah adalah amalan yg tertolak.... rugi waktu tenaga dan uang kita untuk ritual2 seperti itu, dan gak berpahala. gak ada dasar hukum (dalilnya) dalam Alqur'an dan Hadist. Marilah kita jernihkan masalah yg utama ini.

yuliono mengatakan...

mana dalilnya?

yuliono mengatakan...

waduh malah eror ini.... menyolati jenazah muslim masak belum tau hukumnya

Syam Erwin Munir mengatakan...

maaf tuan oye. apa yang ditanyakan oleh tuan madu pahit sah, sah saja.karena begitu getol nya pembelaan alias taklik buta yang diungkapkan oleh pengelolah. memang benar masalah tahlilan sudah menjadi masalah klasik didalam umat islam terutama Di Indonesia .tetapi yang diungkapkan oleh tuan madu pahit suatu pertanyaan yang memiliki jawaban bersifat fakta.dan kalau bertentangan langsung dicap wahabi. padahal. ingat ketika rasulullah memasuki menaklukan kota mekah apa yang beliau lakukan yaitu menghancurkan berhala berhala. artinya beliau tidak ingin adat istiadat yang mencampuri aqidah agama islam. tapi anehnya dikita suka menambah sesuatu yang tidak ada diadakan. yang paling aneh lebih mempercayai ibadah menurut pendapat imam dari pada apa yang telah dilakukan rasulullah.nah kalau dikritik.tidak menggunakan akal sehat tapi lebih mengandalkan Emosih sehingga perkara agama dengan masalah bukan agama dicampur aduk.

nandar iskandar mengatakan...

mas padu ngapain ribet ribet mikirin kaya gitu, lebih baik jalani ajja yang sudah di perintahkan Nya.. GITOO AJA KOK REPOOTT

Agung Suprayitno mengatakan...

Gmnan kalau mendoakan orang mati pd hari ke7,40.100dst kita ganti dg klipatan 5 saja biar enak hitungnya...boleh ngga ?

ady fitrian mengatakan...

Bahwa Allah memerintahkan di dalam Al Qur'an untuk mendoakan orang yg telah wafat : "WAHAI TUHAN KAMI AMPUNILAH DOSA-DOSA KAMI DAN BAGI SAUDARA-SAUDARA KAMI YG MENDAHULUI KAMI DALAM KEIMANAN", (QS Al Hasyr-10).
Mengenai rangkuman tahlilan itu, tak satupun Ulama dan Imam Imam yg memungkirinya, siapa pula yg memungkiri muslimin berkumpul dan berdzikir?, hanya syaitan yg tak suka dengan dzikir.
Didalam acara Tahlil itu terdapat ucapan Laa ilaah illallah, tasbih, shalawat, ayat qur’an, dirangkai sedemikian rupa dalam satu paket dg tujuan agar semua orang awam bisa mengikutinya dengan mudah.
munculkan satu dalil yg mengharamkan acara Tahlil?, (acara berkumpulnya muslimin untuk mendoakan yg wafat) tidak di Al Qur’an, tidak pula di Hadits, tidak pula di Qaul Sahabat, tidak pula di kalam Imamulmadzahib, hanya mereka saja yg mengada ada dari kesempitan pemahamannya.
Hati-hati dalam berkomentar, imam2 kalian tidak pernah mengatakan tahlil itu haram, tapi kenapa kita yg ilmunya masih secuil dengan mudahnya mengatakan haram.
Tapi semua kembali pada diri sendiri, ini hak masing2 individu dalam menentukan. :)

selamet iskandar mengatakan...

tahlil itu berarti mengucapkan kalimat la ilaha illallah,,,dengan demikian bertahlil sama juga dengan mengucapkan kalimat tersebut,sementara mengucapkan kalimat tersebut termasuk dzikir....


Top