Top-ads

PANDANGAN PANGERSA ABAH ANOM RA. MENGENAI TASAWWUF

By | 6/06/2012 Leave a Comment
(DOK.237  STATUS USTADZ AGUS SAYAP MERPATI SURYALAYA DI FACEBOOK PEMUDA TQN SURYALAYA)

www.dokumenpemudatqn.com
(Ustadz Uje' Silaturahmi ke Abah Anom)

Hadhrotu Syaikh Mursyid Ahmad Shohibul Wafa Tajul Arifin q.s [Abah Anom] mempunyai pandangan yang luas tentang peran sosial tasawuf. Beliau mengkritik orientalis Barat, dan sebagian orang Islam sendiri, yang melakukan penelitian tasawuf hanya untuk mencari kelemahan. Menurut Abah Anom, tasawuf adalah bidang kajian yang sulit dan tidak dapat disentuh secara utuh oleh mereka yang tidak sepenuhnya mengenal dan memahami Islam pada umumnya dan tradisi-tradisi keruhanian pada khususnya. Hal-hal seperti riyadah, hal, maqam, zawq, dan sebagainya akan sulit, jika tidak boleh dikatakan mustahil, untuk dipahami secara komprehensif dan tepat oleh mereka yang tidak mempraktikkannya, apalagi oleh mereka yang bukan Muslim. Sebagian pandangan Abah Anom tentang ibadah Islam pada umumnya dan asas-asas tarekat pada khususnya ditulis dalam kitabnya yang diberi judul Miftah al-Shudur (Kunci Pembuka Dada), sedangkan penjelasan praktik ritualnya dituangkan dalam kitab Uqud al-Jum’an. Dalam masalah sosial masyarakat dan kenegaraan beliau senantiasa berpegang pada prinsip Tanbih dan Asas Tujuan TQN yang diwasiatkan oleh ayahandanya (lihat ABDULLAH MUBAROK IBN NUR MUHAMMAD). Walau demikian, beliau berpendapat bahwa TQN bukan satu-satunya sarana (wasilah) untuk mencapai ma’rifatullah, sebab beliau juga menghormati tarekat-tarekat lain, yang juga kerap dirujuknya dalam berbagai ceramah, khotbah dan tulisannya, seperti Syadiziliyyah, Kubrawiyyah, dan sebagainya. Dalam praktik ritualnya, Abah Anom terkesan lebih “moderat” dibandingkan beberapa tarekat lain. Beliau memodifikasi beberapa ritual tarekat, sehingga apa yang diamalkan ikhwan (murid) tarekat awam agak berbeda dengan Tarekat Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah dalam jalur otoritas lain. Misalnya, tidak ada ketentuan hitungan jumlah zikir khafi, hanya disebut “sebanyak-banyaknya.” (Dalam otoritas lain ada ketentuan, seperti 5,000 kali setiap hari, atau 25,000 setiap hari. Tetapi bagi lingkaran ikhwan yang lebih dalam dan serius, Abah Anom memberlakukan aturan yang lebih serius dan ketat, terutama bagi mereka yang benar-benar ingin melakukan suluk.


Kitab Miftah as-Shudur adalah risalah utama Abah Anom tentang dasar-dasar teoritis dan amalan TQN dalam tradisi Suryalaya, yang aslinya ditulis dalam bahasa Arab, dan telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia (oleh Profesor Abu Bakar Aceh), Inggris dan Melayu. Kitab ini terbagi menjadi dua juz (bagian) dengan struktur: (1) pendahuluan, pentingnya zikir secara umum; (2) inti sari konsep nafy wa itsbat dalam zikir; (3) kaifiyyah (tata cara) zikir jahr (dengan suara keras); (4) dasar dan asal-usul talqin (inisiasi atau ba’iat) dan al-ahad (kesetiaan); (5) kewajiban menyebut silsilah tarekat; [bagian 2] (6) muqadimmah, ditulis oleh Abu Bakar Aceh; (7) membahas pentingnya ingat kepada Tuhan dan dampaknya bagi pendidikan agama; dan (8) cara melemahkan kekuatan setan dengan amalam zikir. Kitab Uqud al-Jum’an adalah keterangan amalan yang dibagi menjadi tiga bagian utama: wiridan, khataman dan silsilah TQN. Karya lainnya adalah Akhlaqul karimah/Akhlaqul Mahmudah Berdasarkan Mudaawamah Dzikriilah. Sedangkan Kitab Kurikulum Inabah menjelaskan sistematika pedoman kegiatan ibadah dari sejak bangun tidur hingga tidur kembali.

Sebagai Syekh Mursyid yang kamil-mukammil, Abah Anom memiliki wawasan yang cukup luas tentang aspek-aspek penting dalam ajaran Islam pada umumnya, dan tasawuf dan tarekat pada khususnya. Menurut Abah Anom, ma’rifat adalah bagian dari konsep ru’yat Allah (melihat Allah). Ma’rifat terdiri dari beberapa peringkat. Secara berurutan, peringkat tersebut adalah: ma’rifat al-asma’ (mengenal Asma Allah); ma’rifat al-shifat (mengenal Sifat Allah); ma’rifat a;-af’al (mengenal perbuatan Allah); dan ma’rifat al-dzat (makrifat tertinggi, mengenal Dzat Allah). Tetapi sebelum sampai kepada makrifat yang hakiki, menurut Abah Anom, seseorang harus mencapai tingkat mahabbah (cinta kepada Allah). Mengenai mahabbah, menurut Abah Anom, merupakan jembatan emas untuk mencapai kebahagiaan dunia-akhirat. Karenanya, seorang mukmin dituntut meningkatkan rasa cintanya terus-meneris, agar tercapai kondisi di mana cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya melebihi cintanya kepada dirinya sendiri atau makhluk-Nya. Teknik penumbuhan rasa cinta ini, menurut Abah Anom, antara lain seperti ditunjukkan oleh Nabi Muhammad saw kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib Kwj. "Ciri-ciri cinta kepada Allah adalah lebih dulu cinta kepada zikir kepada Allah.” Teknik zikir inilah yang kemudian dijabarkan dan dipraktikkan dalam tarekat. Tujuan ini tercermin dalam doa TQN yang artinya, “Ilahi, Engkaulah yang kutuju, ridho-Mulah yang kuharapkan, karuniai daku dengan cinta dan ma’rifat kepada-Mu."

Wanaiba Rosulillahi shollallahu 'alaihi wa sallam Sulthan al-auliya' fii haadza zaman Syaikh mursyid Ahmad Shohibul Wafa' Tajul 'Arifin Qoddasallohu sirrohu AL-Fatihah.

dokumen pemuda tqn suryalaya news
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda