ads

Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5

BID'AH (Oleh ustadz Yefi Mieftah)


BID’AH

1. Nabi saw memperbolehkan berbuat bid’ah hasanah.
Nabi saw memperbolehkan kita melakukan Bid’ah hasanah selama hal itu baik dan tidak menentang syariah, sebagaimana sabda beliau saw : “Barangsiapa membuat buat hal baru yg baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yg mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat buat hal baru yg buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yg mengikutinya dan tak dikurangkan sedikitpun dari dosanya” (Shahih Muslim hadits no.1017, demikian pula diriwayatkan pada Shahih Ibn Khuzaimah, Sunan Baihaqi Alkubra, Sunan Addarimiy, Shahih Ibn Hibban dan banyak lagi). Hadits ini menjelaskan makna Bid’ah hasanah dan Bid;ah dhalalah.
Perhatikan hadits beliau saw, bukankah beliau saw menganjurkan?, maksudnya bila kalian mempunyai suatu pendapat atau gagasan baru yg membuat kebaikan atas islam maka perbuatlah.., alangkah indahnya bimbingan Nabi saw yg tidak mencekik ummat, beliau saw tahu bahwa ummatnya bukan hidup untuk 10 atau 100 tahun, tapi ribuan tahun akan berlanjut dan akan muncul kemajuan zaman, modernisasi, kematian ulama, merajalela kemaksiatan, maka tentunya pastilah diperlukan hal hal yg baru demi menjaga muslimin lebih terjaga dalam kemuliaan, demikianlah bentuk kesempurnaan agama ini, yg tetap akan bisa dipakai hingga akhir zaman, inilah makna ayat : “ALYAUMA AKMALTU LAKUM DIINUKUM..dst, “hari ini Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, kusempurnakan pula kenikmatan bagi kalian, dan kuridhoi islam sebagai agama kalian”, maksudnya semua ajaran telah sempurna, tak perlu lagi ada pendapat lain demi memperbaiki agama ini, semua hal yg baru selama itu baik sudah masuk dalam kategori syariah dan sudah direstui oleh Allah dan rasul Nya, alangkah sempurnanya islam,
bila yg dimaksud adalah tidak ada lagi penambahan, maka pendapat itu salah, karena setelah ayat ini masih ada banyak ayat ayat lain turun, masalah hutang dll, berkata para Mufassirin bahwa ayat ini bermakna Makkah Almukarramah sebelumnya selalu masih dimasuki orang musyrik mengikuti hajinya orang muslim, mulai kejadian turunnya ayat ini maka Musyrikin tidak lagi masuk masjidil haram, maka membuat kebiasaan baru yg baik boleh boleh saja.
namun tentunya bukan membuat agama baru atau syariat baru yg bertentangan dg syariah dan sunnah Rasul saw, atau menghalalkan apa apa yg sudah diharamkan oleh Rasul saw atau sebaliknya, inilah makna hadits beliau saw : “Barangsiapa yg membuat buat hal baru yg berupa keburukan…dst”, inilah yg disebut Bid’ah Dhalalah.
Beliau saw telah memahami itu semua, bahwa kelak zaman akan berkembang, maka beliau saw memperbolehkannya (hal yg baru berupa kebaikan), menganjurkannya dan menyemangati kita untuk memperbuatnya, agar ummat tidak tercekik dg hal yg ada dizaman kehidupan beliau saw saja, dan beliau saw telah pula mengingatkan agar jangan membuat buat hal yg buruk (Bid’ah dhalalah).
Mengenai pendapat yg mengatakan bahwa hadits ini adalah khusus untuk sedekah saja, maka tentu ini adalah pendapat mereka yg dangkal dalam pemahaman syariah, karena hadits diatas jelas jelas tak menyebutkan pembatasan hanya untuk sedekah saja, terbukti dengan perbuatan bid’ah hasanah oleh para Sahabat dan Tabi’in.
2. Siapakah yg pertama memulai Bid’ah hasanah setelah wafatnya Rasul saw?
Ketika terjadi pembunuhan besar besaran atas para sahabat (Ahlul yamaamah) yg mereka itu para Huffadh (yg hafal) Alqur’an dan Ahli Alqur’an di zaman Khalifah Abubakar Asshiddiq ra, berkata Abubakar Ashiddiq ra kepada Zeyd bin Tsabit ra : “Sungguh Umar (ra) telah datang kepadaku dan melaporkan pembunuhan atas ahlulyamaamah dan ditakutkan pembunuhan akan terus terjadi pada para Ahlulqur’an, lalu ia menyarankan agar Aku (Abubakar Asshiddiq ra) mengumpulkan dan menulis Alqur’an, aku berkata : Bagaimana aku berbuat suatu hal yg tidak diperbuat oleh Rasulullah..??, maka Umar berkata padaku bahwa Demi Allah ini adalah demi kebaikan dan merupakan kebaikan, dan ia terus meyakinkanku sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dg Umar, dan engkau (zeyd) adalah pemuda, cerdas, dan kami tak menuduhmu (kau tak pernah berbuat jahat), kau telah mencatat wahyu, dan sekarang ikutilah dan kumpulkanlah Alqur’an dan tulislah Alqur’an..!” berkata Zeyd : “Demi Allah sungguh bagiku diperintah memindahkan sebuah gunung daripada gunung gunung tidak seberat perintahmu padaku untuk mengumpulkan Alqur’an, bagaimana kalian berdua berbuat sesuatu yg tak diperbuat oleh Rasulullah saw??”, maka Abubakar ra mengatakannya bahwa hal itu adalah kebaikan, hingga iapun meyakinkanku sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dg mereka berdua dan aku mulai mengumpulkan Alqur’an”. (Shahih Bukhari hadits no.4402 dan 6768).
Nah saudaraku, bila kita perhatikan konteks diatas Abubakar shiddiq ra mengakui dengan ucapannya : “sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dg Umar”, hatinya jernih menerima hal yg baru (bid’ah hasanah) yaitu mengumpulkan Alqur’an, karena sebelumnya alqur’an belum dikumpulkan menjadi satu buku, tapi terpisah pisah di hafalan sahabat, ada yg tertulis di kulit onta, di tembok, dihafal dll, ini adalah Bid’ah hasanah, justru mereka berdualah yg memulainya.
Kita perhatikan hadits yg dijadikan dalil menafikan (menghilangkan) Bid’ah hasanah mengenai semua bid’ah adalah kesesatan, diriwayatkan bahwa Rasul saw selepas melakukan shalat subuh beliau saw menghadap kami dan menyampaikan ceramah yg membuat hati berguncang, dan membuat airmata mengalir.., maka kami berkata : “Wahai Rasulullah.. seakan akan ini adalah wasiat untuk perpisahan…, maka beri wasiatlah kami..” maka rasul saw bersabda : “Kuwasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengarkan dan taatlah walaupun kalian dipimpin oleh seorang Budak afrika, sungguh diantara kalian yg berumur panjang akan melihat sangat banyak ikhtilaf perbedaan pendapat, maka berpegang teguhlah pada sunnahku dan sunnah khulafa’urrasyidin yg mereka itu pembawa petunjuk, gigitlah kuat kuat dg geraham kalian (suatu kiasan untuk kesungguhan), dan hati hatilah dengan hal hal yg baru, sungguh semua yg Bid;ah itu adalah kesesatan”. (Mustadrak Alasshahihain hadits no.329).
Jelaslah bahwa Rasul saw menjelaskan pada kita untuk mengikuti sunnah beliau dan sunnah khulafa’urrasyidin, dan sunnah beliau saw telah memperbolehkan hal yg baru selama itu baik dan tak melanggar syariah, dan sunnah khulafa’urrasyidin adalah anda lihat sendiri bagaimana Abubakar shiddiq ra dan Umar bin Khattab ra menyetujui bahkan menganjurkan, bahkan memerintahkan hal yg baru, yg tidak dilakukan oleh Rasul saw yaitu pembukuan Alqur’an, lalu pula selesai penulisannya dimasa Khalifah Utsman bin Affan ra, dg persetujuan dan kehadiran Ali bin Abi Thalib kw.
Nah.. sempurnalah sudah keempat makhluk termulia di ummat ini, khulafa’urrasyidin melakukan bid’ah hasanah, Abubakar shiddiq ra dimasa kekhalifahannya memerintahkan pengumpulan Alqur’an, lalu kemudian Umar bin Khattab ra pula dimasa kekhalifahannya memerintahkan tarawih berjamaah dan seraya berkata : “Inilah sebaik baik Bid’ah!”(Shahih Bukhari hadits no.1906) lalu pula selesai penulisan Alqur’an dimasa Khalifah Utsman bin Affan ra hingga Alqur’an kini dikenal dg nama Mushaf Utsmaniy, dan Ali bin Abi Thalib kw menghadiri dan menyetujui hal itu. Demikian pula hal yg dibuat-buat tanpa perintah Rasul saw adalah dua kali adzan di Shalat Jumat, tidak pernah dilakukan dimasa Rasul saw, tidak dimasa Khalifah Abubakar shiddiq ra, tidak pula dimasa Umar bin khattab ra dan baru dilakukan dimasa Utsman bn Affan ra, dan diteruskan hingga kini (Shahih Bulkhari hadits no.873).
Siapakah yg salah dan tertuduh?, siapakah yg lebih mengerti larangan Bid’ah?, adakah pendapat mengatakan bahwa keempat Khulafa’urrasyidin ini tak faham makna Bid’ah?
3. Bid’ah Dhalalah
Jelaslah sudah bahwa mereka yg menolak bid’ah hasanah inilah yg termasuk pada golongan Bid’ah dhalalah, dan Bid’ah dhalalah ini banyak jenisnya, seperti penafian sunnah, penolakan ucapan sahabat, penolakan pendapat Khulafa’urrasyidin, nah…diantaranya adalah penolakan atas hal baru selama itu baik dan tak melanggar syariah, karena hal ini sudah diperbolehkan oleh Rasul saw dan dilakukan oleh Khulafa’urrasyidin, dan Rasul saw telah jelas jelas memberitahukan bahwa akan muncul banyak ikhtilaf, berpeganglah pada Sunnahku dan Sunnah Khulafa’urrasyidin, bagaimana Sunnah Rasul saw?, beliau saw membolehkan Bid’ah hasanah, bagaimana sunnah Khulafa’urrasyidin?, mereka melakukan Bid’ah hasanah, maka penolakan atas hal inilah yg merupakan Bid’ah dhalalah, hal yg telah diperingatkan oleh Rasul saw.
Bila kita menafikan (meniadakan) adanya Bid’ah hasanah, maka kita telah menafikan dan membid’ahkan Kitab Al-Quran dan Kitab Hadits yang menjadi panduan ajaran pokok Agama Islam karena kedua kitab tersebut (Al-Quran dan Hadits) tidak ada perintah Rasulullah saw untuk membukukannya dalam satu kitab masing-masing, melainkan hal itu merupakan ijma/kesepakatan pendapat para Sahabat Radhiyallahu’anhum dan hal ini dilakukan setelah Rasulullah saw wafat.
Buku hadits seperti Shahih Bukhari, shahih Muslim dll inipun tak pernah ada perintah Rasul saw untuk membukukannya, tak pula Khulafa’urrasyidin memerintahkan menulisnya, namun para tabi’in mulai menulis hadits Rasul saw.
Begitu pula Ilmu Musthalahulhadits, Nahwu, sharaf, dan lain-lain sehingga kita dapat memahami kedudukan derajat hadits, ini semua adalah perbuatan Bid’ah namun Bid’ah Hasanah.
Demikian pula ucapan “Radhiyallahu’anhu” atas sahabat, tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah saw, tidak pula oleh sahabat, walaupun itu di sebut dalam Al-Quran bahwa mereka para sahabat itu diridhoi Allah, namun tak ada dalam Ayat atau hadits Rasul saw memerintahkan untuk mengucapkan ucapan itu untuk sahabatnya, namun karena kecintaan para Tabi’in pada Sahabat, maka mereka menambahinya dengan ucapan tersebut. Dan ini merupakan Bid’ah Hasanah dengan dalil Hadits di atas, Lalu muncul pula kini Al-Quran yang di kasetkan, di CD kan, Program Al-Quran di handphone, Al-Quran yang diterjemahkan, ini semua adalah Bid’ah hasanah. Bid’ah yang baik yang berfaedah dan untuk tujuan kemaslahatan muslimin, karena dengan adanya Bid’ah hasanah di atas maka semakin mudah bagi kita untuk mempelajari Al-Quran, untuk selalu membaca Al-Quran, bahkan untuk menghafal Al-Quran dan tidak ada yang memungkirinya.
Sekarang kalau kita menarik mundur kebelakang sejarah Islam, bila Al-Quran tidak dibukukan oleh para Sahabat ra, apa sekiranya yang terjadi pada perkembangan sejarah Islam ? Al-Quran masih bertebaran di tembok-tembok, di kulit onta, hafalan para Sahabat ra yang hanya sebagian dituliskan, maka akan muncul beribu-ribu Versi Al-Quran di zaman sekarang, karena semua orang akan mengumpulkan dan membukukannya, yang masing-masing dengan riwayatnya sendiri, maka hancurlah Al-Quran dan hancurlah Islam. Namun dengan adanya Bid’ah Hasanah, sekarang kita masih mengenal Al-Quran secara utuh dan dengan adanya Bid’ah Hasanah ini pula kita masih mengenal Hadits-hadits Rasulullah saw, maka jadilah Islam ini kokoh dan Abadi, jelaslah sudah sabda Rasul saw yg telah membolehkannya, beliau saw telah mengetahui dg jelas bahwa hal hal baru yg berupa kebaikan (Bid’ah hasanah), mesti dimunculkan kelak, dan beliau saw telah melarang hal hal baru yg berupa keburukan (Bid’ah dhalalah).
Saudara saudaraku, jernihkan hatimu menerima ini semua, ingatlah ucapan Amirulmukminin pertama ini, ketahuilah ucapan ucapannya adalah Mutiara Alqur’an, sosok agung Abubakar Ashiddiq ra berkata mengenai Bid’ah hasanah : “sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dg Umar”.
Lalu berkata pula Zeyd bin haritsah ra :”..bagaimana kalian berdua (Abubakar dan Umar) berbuat sesuatu yg tak diperbuat oleh Rasulullah saw??, maka Abubakar ra mengatakannya bahwa hal itu adalah kebaikan, hingga iapun(Abubakar ra) meyakinkanku (Zeyd) sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dg mereka berdua”.
Maka kuhimbau saudara saudaraku muslimin yg kumuliakan, hati yg jernih menerima hal hal baru yg baik adalah hati yg sehati dg Abubakar shiddiq ra, hati Umar bin Khattab ra, hati Zeyd bin haritsah ra, hati para sahabat, yaitu hati yg dijernihkan Allah swt, Dan curigalah pada dirimu bila kau temukan dirimu mengingkari hal ini, maka barangkali hatimu belum dijernihkan Allah, karena tak mau sependapat dg mereka, belum setuju dg pendapat mereka, masih menolak bid’ah hasanah, dan Rasul saw sudah mengingatkanmu bahwa akan terjadi banyak ikhtilaf, dan peganglah perbuatanku dan perbuatan khulafa’urrasyidin, gigit dg geraham yg maksudnya berpeganglah erat erat pada tuntunanku dan tuntunan mereka. Allah menjernihkan sanubariku dan sanubari kalian hingga sehati dan sependapat dg Abubakar Asshiddiq ra, Umar bin Khattab ra, Utsman bin Affan ra, Ali bin Abi Thalib kw dan seluruh sahabat.. amiin
Pendapat para Imam dan Muhadditsin mengenai Bid’ah
1. Al Hafidh Al Muhaddits Al Imam Muhammad bin Idris Assyafii rahimahullah (Imam Syafii)
Berkata Imam Syafii bahwa bid’ah terbagi dua, yaitu bid’ah mahmudah (terpuji) dan bid’ah madzmumah (tercela), maka yg sejalan dg sunnah maka ia terpuji, dan yg tidak selaras dengan sunnah adalah tercela, beliau berdalil dg ucapan Umar bin Khattab ra mengenai shalat tarawih : “inilah sebaik baik bid’ah”. (Tafsir Imam Qurtubiy juz 2 hal 86-87)
2. Al Imam Al Hafidh Muhammad bin Ahmad Al Qurtubiy rahimahullah
“Menanggapi ucapan ini (ucapan Imam Syafii), maka kukatakan (Imam Qurtubi berkata) bahwa makna hadits Nabi saw yg berbunyi : “seburuk buruk permasalahan adalah hal yg baru, dan semua Bid’ah adalah dhalalah” (wa syarrul umuuri muhdatsaatuha wa kullu bid’atin dhalaalah), yg dimaksud adalah hal hal yg tidak sejalan dg Alqur’an dan Sunnah Rasul saw, atau perbuatan Sahabat radhiyallahu ‘anhum, sungguh telah diperjelas mengenai hal ini oleh hadits lainnya : “Barangsiapa membuat buat hal baru yg baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yg mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat buat hal baru yg buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yg mengikutinya” (Shahih Muslim hadits no.1017) dan hadits ini merupakan inti penjelasan mengenai bid’ah yg baik dan bid’ah yg sesat”. (Tafsir Imam Qurtubiy juz 2 hal 87)
3. Al Muhaddits Al Hafidh Al Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf Annawawiy rahimahullah (Imam Nawawi)
“Penjelasan mengenai hadits : “Barangsiapa membuat buat hal baru yg baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yg mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat buat hal baru yg dosanya”, hadits ini merupakan anjuran untuk membuat kebiasaan kebiasaan yg baik, dan ancaman untuk membuat kebiasaan yg buruk, dan pada hadits ini terdapat pengecualian dari sabda beliau saw : “semua yg baru adalah Bid’ah, dan semua yg Bid’ah adalah sesat”, sungguh yg dimaksudkan adalah hal baru yg buruk dan Bid’ah yg tercela”. (Syarh Annawawi ‘ala Shahih Muslim juz 7 hal 104-105)
Dan berkata pula Imam Nawawi bahwa Ulama membagi bid’ah menjadi 5, yaitu Bid’ah yg wajib, Bid’ah yg mandub, bid’ah yg mubah, bid’ah yg makruh dan bid’ah yg haram. Bid’ah yg wajib contohnya adalah mencantumkan dalil dalil pada ucapan ucapan yg menentang kemungkaran, contoh bid’ah yg mandub (mendapat pahala bila dilakukan dan tak mendapat dosa bila ditinggalkan) adalah membuat buku buku ilmu syariah, membangun majelis taklim dan pesantren, dan Bid;ah yg Mubah adalah bermacam macam dari jenis makanan, dan Bid’ah makruh dan haram sudah jelas diketahui, demikianlah makna pengecualian dan kekhususan dari makna yg umum, sebagaimana ucapan Umar ra atas jamaah tarawih bahwa inilah sebaik2 bid’ah”. (Syarh Imam Nawawi ala shahih Muslim Juz 6 hal 154-155)
Al Hafidh AL Muhaddits Al Imam Jalaluddin Abdurrahman Assuyuthiy rahimahullah Mengenai hadits “Bid’ah Dhalalah” ini bermakna “Aammun makhsush”, (sesuatu yg umum yg ada pengecualiannya), seperti firman Allah : “… yg Menghancurkan segala sesuatu” (QS Al Ahqaf 25) dan kenyataannya tidak segalanya hancur, (*atau pula ayat : “Sungguh telah kupastikan ketentuanku untuk memenuhi jahannam dengan jin dan manusia keseluruhannya” QS Assajdah-13), dan pada kenyataannya bukan semua manusia masuk neraka, tapi ayat itu bukan bermakna keseluruhan tapi bermakna seluruh musyrikin dan orang dhalim.pen) atau hadits : “aku dan hari kiamat bagaikan kedua jari ini” (dan kenyataannya kiamat masih ribuan tahun setelah wafatnya Rasul saw) (Syarh Assuyuthiy Juz 3 hal 189).

MASA DEPAN AGAMA & NEGARA DI TANGAN PEMUDA


Rasulullah saww bersabda, “aku berpesan kepada kalian agar memperlakukan anak-anak muda dengan baik, karena hati mereka sangat lembut. Sesungguhnya, Allah mengutusku sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan sehingga anak-anak muda menyambutku, sedangkan orang-orang tua menentangku. Kemudian beliau membaca ayat, ‘kemudian berlalu masa yang panjang atas mereka, lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan diantara mereka adalah orang-orang fasik.(al-hadid : 16)’ ” (Syabab Quraisy, hal 1)

Seperti yang sudah diketahui, pemuda zaman sekarang, setidaknya di Indonesia tercinta ini, mulai bangga meniru budaya-budaya asing yang bertentangan dengan semangat Islam. Hedonisme mulai tertancap di dada kawula muda. Islam hanya tertera dalam KTP. Kegiatan keagamaan dicap sebagai ritual membosankan yang mesti dijauhi. Jika keadaan ini terus dibiarkan, dapat dipastikan, masa depan Islam akan suram. Lantas, siapakah yang harus disalahkan ? para musuh yang tak pernah berhenti menyerang umat Islam ? atau umat Islam sendiri yang terbujuk rayuan musuh ? mungkin saja kedua-duanya. Yang jelas, musuh tak pernah lelah menyerang kita, lewat beribu cara, jadi kita harus membentengi diri kita sekuat tenaga, sedini mungkin. Maka, diperlukan kerja sama yang apik antara orang tua dan anak muda. Orang tua mendidik anak muda dengan didikan Islam yang luhur, dan para pemuda berjuang menjalankannya dalam kehidupan sehari-hari. Jangan biarkan musuh masuk dan merusak kita, umat Islam !

Jika kita kembali membuka lembaran sejarah Nabi saww, kita dapati kenyataan bahwa beliau saww menaruh perhatian besar terhadap para pemuda. Alias, kaum muda layak diperhitungkan. Hadits pembuka di atas cukup gamblang menjelaskan hal ini. Hadits dan ayat diatas mengisyaratkab bahwa hati dan nalar kaum muda cenderung terbuka dan masih mau serta mampu menelaah realitas kehidupan. Masa muda adalah masa pencarian identitas diri. Tak ayal, para pemuda lebih bersifat kritis dan terbuka. Para pemuda akan terus mencari kebenaran, jati diri, dan apapun yang ingin mereka ketahui. Imam Khomeini qs pernah berkata, “Para pemuda diberi keistimewaan oleh Allah untuk dapat meraih sesuatu dalam waktu singkat yang tidak akan dapat diraih mereka dengan sungguh-sungguh sepanjang 50 tahun sekalipun; ke tempat yang hanya diinginkan Allah, yaitu mencari syahadah” Beliau melanjutkan, “ini merupakan masalah yang sangat penting yang benar-benar harus diperhatikan, ini bukan masalah biasa.“

Ya, pemuda memainkan peran penting dalam keberhasilan agama maupun negara. Tak salah, jika Rasul saww benar-benar memerhatikan pemuda. Mari kita lihat beberapa contohnya. 
1.       Mush’ab bin Umair, Duta Pertama Nabi S.A.W.
Seperti yang dicatat sejarah, Nabi mengutus Mush’ab bin Umair untuk menyebarkan Islam di Yastrib (Madinah) atas permintaan As’ad bin Zurarah, pemuka Yastrib.
Mush’ab adalah pemuda yang berwibawa, cerdas, serta tampan. Lewat kepandaiannya, Sa’ad bin Muadz dan Usaid bin Huzair, pemuda Bani Abd Al-asyhal, memeluk Islam. Yang kemudian diikuti oleh seluruh anggota Bani Abd Al-asyhal. Bahkan, Mush’ab menjadi imam salat jum’at pertama di Yastrib. (Usd Al-ghaibah, jil. 5, hal. 176, hadits no. 4936)
Yang harus diperhatikan disini ialah kepercayaan penuh Nabi saww terhadap Mush’ab bin Umair. Karena ini adalah perwakilan pertama Nabi, maka ‘sudah sepantasnya, bila untuk tugas yang sangat penting ini dipilih oleh seseorang yang memiliki kecakapan dan kelayakan yang diperlukan.’ (M. Rey Syahri dalam bukunya, Penebar Rahmat, hal. 179)
Kita bisa memandang hal ini sebagai bentuk perhatian penuh Nabi saww terhadap kaum muda.
2.       Uttab bin Usaid, Gubernur Pertama Mekkah
Dalam pengangkatan Attab bin Usaid sebagai gubernur, Rasulullah saww menulis surat kepadanya, ‘Rasulullah mengangkat Uttab bin Usaid yang berusia 21 tahun untuk menjadi walikota Mekkah. Beliau menyuruhnya agar mengimami salat orang-orang. Dia adalah pemimpin pertama yang mengimami salat berjamaah setelah penaklukan Mekkah’ (Al-sirah Al-halabiyyah, jil. 3, hal. 104)
Sekali lagi, Nabi merasa bahwa usia muda bukanlah penghambat untuk mendapat tanggung jawab besar.
3.       Usamah bin Zaid, Komandan Perang Melawan Romawi
Umurnya masih 18 tahun, ketika Nabi mengangkatnya sebagai komandan pasukan Islam. Pengangkatan ini, sebagaimana yang tercatat dalam sejarah, mendapat kritikan dan penolakan dari sebagian sahabat. Mendengar penolakan ini, Nabi saww, yang saat itu tengah sakit, keluar dari rumah dan naik ke mimbar. Setelah memuji Allah, beliau bersabda, “Wahai manusia! Saya sangat sedih karena penundaan keberangkatan tentara itu. Nampaknya, kepemimpinan Usamah tidak disukai oleh sebagian dari Anda. Dan Anda pun mengajukan kebaratan. Namun, keberatan dan pembangkangan Anda ini bukanlah pertama kali. Sebelum ini, Anda juga mengkritik kepemimpinan Zaid, ayah Usamah. Saya bersumpah demi Allah bahwa ia pantas untuk jabatan ini, begitu pula putranya. Saya menyayanginya. Wahai manusia! berlaku baiklah kepadanya. Ia salah seorang yang baik di antara Anda sekalian.”
Menurut Ja’far Subhani, dalam bukunya Ar-risalah, menjelaskan setidaknya ada dua alasan penunjukan Usamah sebagai komandan perang. Pertama, beliau hendak mengimbali Usamah karena musibah yang menimpanya dengan gugurnya ayahnya di medan perang Mu’tah, sekaligus mengangkat kepribadian dan kemampuannya. Kedua, beliau hendak menghidupkan pembagian kerja dan jabatan atas dasar kepribadian dan kemampuan, dan hendak menjelaskan bahwa jabatan dan kedudukan umum hanya menuntut kemampuan dan kecakapan, dan tidak ada kaitannya dengan usia, sehingga orang-orang muda dapat mempersiapkan diri untuk tugas umum yang penting. (Ar-risalah : Sejarah Kehidupan Rasulullah SAW, hal. 667)
Dari ketiga pemuda ini, dapat ditarik hikmah bahwa kaum muda pantas mendapatkan tanggung jawab dan tugas dalam menyebarkan dan menjaga Islam. Sebagaimana yang telah dilakukan Rasul saww sendiri. Beliau tak segan-segan menunjuk para pemuda untuk memikul tanggung jawab yang berat seperti duta ke Yastrib, gubernur Mekkah dan komandan perang. 

(Sumber: DarutTaqrib 02/12/2012 /Aalamsyah/Adrikna!)

Dokumen Pemuda TQN Suryalaya News
Dari Facebook Pemuda TQN Suryalaya 

Sunnah Nabi mengeraskan suara ketika dzikir setelah selesai menunaikan shalat fardlu berjama'ah

Sunnah Nabi yang mulai tidak dilaksanakan oleh segelintir kaum muslim adalah mengeraskan suara ketika dzikir setelah selesai menunaikan shalat fardlu berjama'ah.
و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا هِشَامٌ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ قَالَ كَانَ ابْنُ الزُّبَيْرِ يَقُولُ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ حِينَ يُسَلِّمُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الْفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ وَقَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُهَلِّلُ بِهِنَّ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ و حَدَّثَنَاه أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا عَبْدَةُ بْنُ سُلَيْمَانَ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ مَوْلًى لَهُمْ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ الزُّبَيْرِ كَانَ يُهَلِّلُ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ بِمِثْلِ حَدِيثِ ابْنِ نُمَيْرٍ وَقَالَ فِي آخِرِهِ ثُمَّ يَقُولُ ابْنُ الزُّبَيْرِ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُهَلِّلُ بِهِنَّ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ و حَدَّثَنِي يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الدَّوْرَقِيُّ حَدَّثَنَا ابْنُ عُلَيَّةَ حَدَّثَنَا الْحَجَّاجُ بْنُ أَبِي عُثْمَانَ حَدَّثَنِي أَبُو الزُّبَيْرِ قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ الزُّبَيْرِ يَخْطُبُ عَلَى هَذَا الْمِنْبَرِ وَهُوَ يَقُولُ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِذَا سَلَّمَ فِي دُبُرِ الصَّلَاةِ أَوْ الصَّلَوَاتِ فَذَكَرَ بِمِثْلِ حَدِيثِ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ و حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ سَلَمَةَ الْمُرَادِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ عَنْ يَحْيَى بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَالِمٍ عَنْ مُوسَى بْنِ عُقْبَةَ أَنَّ أَبَا الزُّبَيْرِ الْمَكِّيَّ حَدَّثَهُ أَنَّهُ سَمِعَ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ الزُّبَيْرِ وَهُوَ يَقُولُ فِي إِثْرِ الصَّلَاةِ إِذَا سَلَّمَ بِمِثْلِ حَدِيثِهِمَا وَقَالَ فِي آخِرِهِ وَكَانَ يَذْكُرُ ذَلِكَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ   .
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah bin Numair telah menceritakan kepada kami ayahku telah menceritakan kepada kami Hisyam dari Abu Zubair katanya; Seusai shalat setelah salam, Ibn Zubair sering memanjatkan do'a; LAA ILAAHA ILLALLAAH WAHDAHUU LAA SYARIIKA LAHU, LAHUL MULKU WALAHUL HAMDU WAHUWA 'ALAA KULLI SYAI'IN QADIIR, LAA HAULA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAAH, LAA-ILAAHA ILALLAAH WALAA NA'BUDU ILLAA IYYAAH, LAHUN NI'MATU WALAHUL FADHLU WALAHUTS TSANAA'UL HASAN, LAA-ILAAHA ILLALLAAH MUKHLISIHIINA LAHUD DIINA WALAU KARIHAL KAAFIRUUNA. (Tiada sesembahan yang hak selain Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya selaga puji dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tiada Daya dan kekuatan selain dengan pertolongan Allah. Tiada sesembahan yang hak selain Allah, dan Kami tidak beribadah selain kepada-Nya, dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya, hanya bagi-Nya ketundukan, sekalipun orang-orang kafir tidak menyukai). Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam selalu mengeraskan suara dengan kalimat ini setiap selesai shalat. Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami 'Abdah bin Abu Sulaiman dari Hisyam bin 'Urwah dari Abu Zubair mantan budak mereka, bahwa Abdullah bin Zubair biasa bertahlil sehabis shalat dengan seperti hadis Ibnu Numair, dan di akhir beliau berkata; Kemudian Ibnu Zubair mengatakan; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengeraskan suaranya dengan kalimat ini sehabis shalat. Dan telah menceritakan kepadaku Ya'kub bin Ibrahim Ad Dauraqi telah menceritakan kepada kami Ibn 'Ulayyah telah menceritakan kepada kami Al Hajjaj bin Abu Usman telah menceritakan kepadaku Abu Zubair katanya; Aku mendengar Abdullah bin Zubair berkhutbah diatas mimbar ini seraya berkata; Apabila Rasululah shallallahu 'alaihi wasallam selesai salam yaitu sehabis shalat, atau beberapa shalat… lalu ia menyebutkan seperti hadis Hisyam bin 'Urwah. Dan telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Salamah Al Muradi telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Wahb dari Yahya bin Abdullah bin Salim dari Musa bin 'Uqbah, bahwa Abu Az Zubair Al Makki menceritakan bahwa ia mendengar Abdulah bin Zubair mengatakan; Yaitu Seusai shalat setelah mengucapkan salam, seperti hadis keduanya. Dan ia katakan di akhir haditsnya; Abu Zubair selalu membaca bacaan ini dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam (HR Muslim 935)
حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ نَصْرٍ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ قَالَ أَخْبَرَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ قَالَ أَخْبَرَنِي عَمْرٌو أَنَّ أَبَا مَعْبَدٍ مَوْلَى ابْنِ عَبَّاسٍ أَخْبَرَهُ أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَخْبَرَهُ أَنَّ رَفْعَ الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ حِينَ يَنْصَرِفُ النَّاسُ مِنْ الْمَكْتُوبَةِ كَانَ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ كُنْتُ أَعْلَمُ إِذَا انْصَرَفُوا بِذَلِكَ إِذَا سَمِعْتُه. .
Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Nashir berkata, telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq berkata, telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij berkata, telah mengabarkan kepadaku 'Amru bahwa Abu Ma'bad mantan budak Ibnu 'Abbas, mengabarkan kepadanya bahwa Ibnu 'Abbas radliallahu 'anhuma mengabarkan kepadanya, bahwa mengeraskan suara dalam berdzikir setelah orang selesai menunaikah shalat fardlu terjadi di zaman Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Ibnu 'Abbas mengatakan, Aku mengetahui bahwa mereka telah selesai dari shalat itu karena aku mendengarnya. (HR Bukhari 796)
Ada yang berpendapat bahwa dzikir dengan mengeraskan suara telah ditinggalkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam karena pada waktu itu Beliau melakukannya untuk tujuan pengajaran kepada makmum.  Padahal yang ditinggalkan oleh Rasulullah adalah mengeraskan suara pada do'a iftitah atau pada sholat berjamaah ketika sholat dzuhur dan ashar.
Ada yang berpendapat bahwa dizkir dengan mengeraskan surara telah dilarang oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam atas pemahaman mereka pada hadits diriwayatkan Abu Musa Al-Asy'ari yang terdapat dalam Shahihain yang menceritakan perjalanan para shahabat bersama Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Abu Musa berkata : Jika kami menuruni lembah maka kami bertasbih dan jika kami mendaki tempat yang tinggi maka kami bertakbir. Dan kamipun mengeraskan suara-suara dzikir kami. Maka berkata Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yang artinya : "Wahai sekalian manusia, berlaku baiklah kepada diri kalian sendiri. Sesungguhnya yang kalian seru itu tidaklah tuli dan tidak pula ghaib. Sesunguhnya kalian berdo'a kepada Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat, yang lebih dekat dengan kalian daripada leher tunggangan kalian sendiri"
Larangan ini  adalah larangan terhadap para Sahabat karena mereka memang terlampau mengeraskan suara ketika mendaki tempat yang tinggi.
  حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ صَلَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْمَدِينَةِ الظُّهْرَ أَرْبَعًا وَالْعَصْرَ بِذِي الْحُلَيْفَةِ رَكْعَتَيْنِ وَسَمِعْتُهُمْ يَصْرُخُونَ بِهِمَا جَمِيعًا   .
Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Harb telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid dari Ayyub dari Abu Qalabah dari Anas radliallahu 'anhu berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melaksanakan shalat Zhuhur di Madinah empat raka'at dan shalat 'Ashar di Dzul Hulaifah dua raka'at. Dan aku mendengar mereka melakukan talbiyah dengan mengeraskan suara mereka pada keduanya (hajji dan 'umrah). (HR Bukhari 1447)
Bahkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ada mengeraskan suara sambil menyenandungkannya
حَدَّثَنَا مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ عَنْ الْبَرَاءِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْقُلُ التُّرَابَ يَوْمَ الْخَنْدَقِ حَتَّى أَغْمَرَ بَطْنَهُ أَوْ اغْبَرَّ بَطْنُهُ يَقُولُ وَاللَّهِ لَوْلَا اللَّهُ مَا اهْتَدَيْنَا وَلَا تَصَدَّقْنَا وَلَا صَلَّيْنَا فَأَنْزِلَنْ سَكِينَةً عَلَيْنَا وَثَبِّتْ الْأَقْدَامَ إِنْ لَاقَيْنَا إِنَّ الْأُلَى قَدْ بَغَوْا عَلَيْنَا إِذَا أَرَادُوا فِتْنَةً أَبَيْنَا وَرَفَعَ بِهَا صَوْتَهُ أَبَيْنَا أَبَيْنَا   . .
Telah menceritakan kepada kami Muslim bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Abu Ishaq dari Al Barra` radliallahu 'anhu dia berkata, "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ikut mengangkuti tanah pada perang Khandaq, hingga perutnya penuh debu -atau perutnya berdebu-, beliau bersabda: 'Ya Allah, seandainya bukan karena-Mu, maka kami tidak akan mendapatkan petunjuk, tidak akan bersedekah dan tidak akan melakukan shalat, maka turunkanlah ketenangan kepada kami, serta kokohkan kaki-kaki kami apabila bertemu dengan musuh. Sesungguhnya orang-orang musyrik telah berlaku semena-mena kepada kami, apabila mereka menghendaki fitnah, maka kami menolaknya.' Beliau menyenandungkan itu sambil mengeraskan suaranya." (HR Bukhari 3795)
Jadi yang dilarang adalah suara yang benar-benar terlampau keras sehingga berdzikirnya tidak menghadirkan hati (Hudlurul Qalbi).
حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ حَدَّثَنَا أَبُو بِشْرٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا فِي قَوْلِهِ تَعَالَى { وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا } قَالَ نَزَلَتْ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُخْتَفٍ بِمَكَّةَ كَانَ إِذَا صَلَّى بِأَصْحَابِهِ رَفَعَ صَوْتَهُ بِالْقُرْآنِ فَإِذَا سَمِعَهُ الْمُشْرِكُونَ سَبُّوا الْقُرْآنَ وَمَنْ أَنْزَلَهُ وَمَنْ جَاءَ بِهِ فَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى لِنَبِيِّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ { وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ } أَيْ بِقِرَاءَتِكَ فَيَسْمَعَ الْمُشْرِكُونَ فَيَسُبُّوا الْقُرْآنَ { وَلَا تُخَافِتْ بِهَا } عَنْ أَصْحَابِكَ فَلَا تُسْمِعُهُمْ { وَابْتَغِ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلًا }   . 
Telah menceritakan kepada kami Ya'qub bin Ibrahim Telah menceritakan kepada kami Husyaim Telah menceritakan kepada kami Abu Bisyr dari Sa'id bin Jubair dari Ibnu 'Abbas radliallahu 'anhuma mengenai firman Allah: dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya…, (Al Israa: 110).
Ibnu Abbas berkata; ayat ini turun ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sembunyi-sembunyi di Makkah.
Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bila mengimami shalat para sahabatnya, beliau mengeraskannya saat membaca al Qur`an. Tatkala orang-orang musyrik mendengarkan hal itu, mereka mencela al Qur`an, mencela yang menurunkannya dan yang membawakannya. Maka Allah Azza Wa Jalla berfirman kepada NabiNya: ("Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu") maksudnya adalah dalam bacaanmu sehingga orang-orang musyrik mendengarnya dan mereka mencela al Qu`ran dan: Dan janganlah pula merendahkannya dari para sahabatmu sehingga mereka tidak dapat mendengarkan dan mengambil Al Qu`ran darimu dan: Maka carilah jalan tengah di antara kedua itu. (HR Bukhari 4353)
Selain itu larangan mengeraskan suara dalam berdoa adalah dalam makna majaz (kiasan). Seperti contohnya
"Ya Rabb kabulkanlah doa kami, paling lambat esok hari" atau doa-doa yang pada hakikatnya "mengajarkan" Tuhan sesuai keinginan si pendoa atau bahkan "mendesak" Tuhan untuk mengikuti keinginan si pendoa. Doa-doa seperti itu walaupun diucapkan lirih ataupun diucapkan dalam hati tetaplah termasuk keras dalam berdoa.
Dzikir dengan suara dikeraskan tentulah dalam satu komando, kalau tidak tentu akan timbul kebisingan atau kegaduhan. Apalagi setiap orang berdzikir dengan suara dikeraskan dengan untaian dzikir sesuai keinginan masing-masing tentulah berakibat kebisingan atau kegaduhan.
Sebaiknyalah makmum mengikuti bacaan dzikir yang dipimpin oleh imam dan ketika bagian doa cukup meng-amin-kan saja.
Manfaat zikir berjama'ah adalah kerjasama dalam kebaikan. Salah satu yang hadir dapat "menghantarkan" dzikir sampai (wushul) kepada Allah ta'ala maka seluruh yang hadir akan mendapatkan manfaat termasuk mereka yang hadir sekedar duduk saja.
Dalam sebuah hadits qudsi Abu Hurairah ra meriwayatkan,
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Hatim bin Maimun telah menceritakan kepada kami Bahz telah menceritakan kepada kami Wuhaib telah menceritakan kepada kami Suhail dari bapaknya dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam beliau bersabda: 'Sesungguhnya Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi mempunyai beberapa malaikat yang terus berkeliling mencari majelis dzikir. Apabila mereka telah menemukan majelis dzikir tersebut, maka mereka terus duduk di situ dengan menyelimutkan sayap sesama mereka hingga memenuhi ruang antara mereka dan langit yang paling bawah. Apabila majelis dzikir itu telah usai, maka mereka juga berpisah dan naik ke langit.' Kemudian Rasulullah meneruskan sabdanya: 'Selanjutnya mereka ditanya Allah Subhanahu wa Ta'ala, Dzat Yang sebenarnya Maha Tahu tentang mereka: 'Kalian datang dari mana? ' Mereka menjawab; 'Kami datang dari sisi hamba-hamba-Mu di bumi yang selalu bertasbih, bertakbir, bertahmid, dan memohon kepada-Mu ya Allah.' Lalu Allah Subhanahu wa Ta'ala bertanya: 'Apa yang mereka minta? ' Para malaikat menjawab; 'Mereka memohon surga-Mu ya Allah.' Allah Subhanahu wa Ta'ala bertanya lagi: 'Apakah mereka pernah melihat surga-Ku? ' Para malaikat menjawab; 'Belum. Mereka belum pernah melihatnya ya Allah.' Allah Subhanahu wa Ta'ala berkata: 'Bagaimana seandainya mereka pernah melihat surga-Ku? ' Para malaikat berkata; 'Mereka juga memohon perlindungan kepada-Mu ya Allah.' Allah Subhanahu wa Ta'ala balik bertanya: 'Dari apa mereka meminta perlindungan kepada-Ku? ' Para malaikat menjawab; 'Mereka meminta perlindungan kepada-Mu dari neraka-Mu ya Allah.' Allah Subhanahu wa Ta'ala bertanya: 'Apakah mereka pernah melihat neraka-Ku? ' Para malaikat menjawab; 'Belum. Mereka belum pernah melihat neraka-Mu ya Allah.' Allah Subhanahu wa Ta'ala berkata: 'Bagaimana seandainya mereka pernah melihat neraka-Ku? ' Para malaikat berkata; 'Ya Allah, sepertinya mereka juga memohon ampun (beristighfar) kepada-Mu? ' Maka Allah Subhanahu wa Ta'ala menjawab: 'Ketahuilah hai para malaikat-Ku, sesungguhnya Aku telah mengampuni mereka, memberikan apa yang mereka minta, dan melindungi mereka dari neraka.' Para malaikat berkata; 'Ya Allah, di dalam majelis mereka itu ada seorang hamba yang berdosa dan kebetulan hanya lewat lalu duduk bersama mereka.' Maka Allah menjawab: 'Ketahuilah bahwa sesungguhnya Aku akan mengampuni orang tersebut. Sesungguhnya mereka itu adalah suatu kaum yang teman duduknya tak bakalan celaka karena mereka. (HR Muslim 4854)
Ironis, segelintir kaum muslim berpegang pada fatwa yang dikeluarkan oleh ulama mereka seperti contohnya yang tercantum pada http://almanhaj.or.id/content/1501/slash/0 
Ulama mereka tersebut termasuk ulama yang mengaku-aku mengikuti Salafush sholeh namun tidak bertalaqqi (mengaji) dengan Salafush Sholeh dan tidak juga bertalaqqi (mengaji) dengan para ulama yang mengikuti Imam Mazhab yang empat. Kita tahu Imam Mazhab yang empat bertalaqqi (mengaji) dengan Salafush Sholeh. 
Ulama besar Syria, Dr. Said Ramadhan Al-Buthy berdiskusi dengan ulama mereka tersebut dan kemudian kesimpulan diskusi dituliskan dalam sebuah buku yang berjudul Al-Laa Mazhabiyah, Akhtharu Bid’atin Tuhaddidu As-Syariah Al-Islamiyah. Kalau kita terjemahkan secara bebas, kira-kira makna judul itu adalah : Paham Anti Mazhab, Bid’ah Paling Gawat Yang Menghancurkan Syariat Islam. Ulasan tentang buku Beliau ada dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/18/paham-anti-mazhab/
Ulama mereka tersebut selain tidak mengikuti Imam Mazhab yang empat, juga meninggalkan apa yang telah dikerjakan atau dicontohkan oleh para Habib , keturunan cucu Rasulullah yang mendapatkan pengajaran agama dari orang tua-orang tua mereka yang tersambung kepada Imam Sayyidina Ali ra yang mendapatkan pengajaran langsung dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Bahkan salah satu keturunan cucu Rasulullah mengatakan dalam tulisannya pada http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=34&func=view&id=22475&catid=9 bahwa beliau sebenarnya tak suka bicara mengenai ini (menyampaikannya), namun beliau memilih mengungkapnya ketimbang hancurnya ummat.
Wassalam

JADWAL MANAQIB DI PONDOK PESANTREN SURYALAYA 2013

Jadwal Manaqib Tahun 2013

1. Rabu 23-01-2013 06:00
Pondok Pesantren Suryalaya - Mesjid Nurul Asror
Kuliah Subuh : H. Aang Abdullah Zein, S.Pd.I
Khidmat Ilmiah : KH. Wahfiudin, MBA.

2. Sabtu 23-02-2013  06:00
Pondok Pesantren Suryalaya - Mesjid Nurul Asror
Kuliah Subuh : Drs. KH. Nur M. Suharto
Khidmat Ilmiah : KH. M. Abdul Gaos SM.

3. Sabtu 23-03-2013  06:00
Pondok Pesantren Suryalaya - Mesjid Nurul Asror
Kuliah Subuh : H. Muhammad Ali Bin Haji Ali, Phd
Khidmat Ilmiah : Ust. Hj. Ali Bin Hj. Mohamed

4. Senin 22-04-2013   06:00
Pondok Pesantren Suryalaya - Mesjid Nurul Asror
Kuliah Subuh : H. Uu Sanusi
Khidmat Ilmiah : KH. Beben Muhammad Dabbas

5. Selasa  21-05-2013  06:00
Pondok Pesantren Suryalaya - Mesjid Nurul Asror
Kuliah Subuh : H. Toras Zainuddin Nasution, Lc.
Khidmat Ilmiah : KH. Zezen Zaenal Abidin Bazul Asyhab

6. Kamis  20-06-2013  06:00
Pondok Pesantren Suryalaya - Mesjid Nurul Asror
Kuliah Subuh : H. Achmad Zuhri
Khidmat Ilmiah : KH. Ali Hanafiah Akbar


7. Sabtu 20-07-2013  06:00
Pondok Pesantren Suryalaya - Mesjid Nurul Asror
Kuliah Subuh : Drs. H. Dadi Hermawan
Khidmat Ilmiah : Drs. KH. Sandisi

8. Minggu  18-08-2013   06:00
Pondok Pesantren Suryalaya - Mesjid Nurul Asror
Kuliah Subuh : KH. Thohir Abdul Qohir
Khidmat Ilmiah : Drs. KH. Arief Ichwanie AS.

9. Selasa 17-09-2013   06:00
Pondok Pesantren Suryalaya - Mesjid Nurul Asror
Kuliah Subuh : H. Ahmad Athorid Siraj
Khidmat Ilmiah : Hj. Mohd. Zuki As Syuzak

10. Rabu 16-10-2013  06:00
Pondok Pesantren Suryalaya - Mesjid Nurul Asror
Kuliah Subuh : H. Asep Syamsurizal Hudaya, S.Ag.,M.Si
Khidmat Ilmiah : KH. Zezen Zaenal Abidin Bazul Asyhab

11. Sabtu  16-11-2013   06:00
Pondok Pesantren Suryalaya - Mesjid Nurul Asror
Kuliah Subuh : Ust. Aep Saefudin
Khidmat Ilmiah : KH. Miftah Mintarkam

12. Sabtu 14-12-2013  06:00
Pondok Pesantren Suryalaya - Mesjid Nurul Asror
Kuliah Subuh : Ust. Yaya Faisal, S.Ag.
Khidmat Ilmiah : KH. Zaenal Abidin Anwar / Drs. KH. Arief Ichwanie AS.

Keterangan:
-JADWAL MANAQIB DI PONDOK PESANTREN SURYALAYA ADALAH SETIAP BULAN TANGGAL 11  KALENDER TAHUN HIJRIYAH (ARABIC CALENDER);
-JIKA JATUHNYA PADA HARI JUM’AT MAKA DIUNDUR PADA HARI BESOKNYA, YAKNI HARI SABTU.
-ACARA MANAQIB MERUPAKAN RANGKAIAN DARI AMALIYAH IKHWAN TQN PP.SURYALAYA.

Sumber : http://www.suryalaya.org/ver2/manakib-jadwal.php

Adab Penempuh Jalan Ruhani

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Pemurah.
Hazrat Maulana Syaikh Abul Oasim al-Junaid -- Radhiyallahu anhu -- ditanya tentang etika penempuh jalan Allah Azza wa jalla, maka al-Junaid menjawab, "Hendaknya engkau ridha terhadap Allah Azza wa Jalla dalam seluruh tingkah laku ruhani, dan hendaknya engkau tidak meminta kepada siapa pun kecuali kepada Allah Ta'ala." Beliau juga ditanya tentang intuisi kebaikan, apakah intuisi itu hanya satu atau banyak? Al-Junaid menjawab, "Kadang-kadang bisikan (intuisi) yang mengajak pada kepatuhan itu terdiri dari tiga arah:
1. Bisikan yang dibangkitkan oleh intuisi syetan
2. Bisikan nafsu yang dibangkitkan intuisi syahwat dan peringanan beban; dan
3. Bisikan Rabbany yang dibangkitkan oleh intuisi taufik.

Ketiganya sulit dibedakan dalam hal ajakannya untuk patuh. Untuk membedakan harus didasari amaliah yang benar, sebagaimana sabda Rasulullah saw, "Barangsiapa dibukakan pintu kebaikan, maka cepatlah ia meraihnya." Dan tentunya, kita harus menolak pintu terbuka di luar kebajikan. Sementara intusi syetan itu berdasar firman Allah swt.:"Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syetan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya." (O.s. Al-A'raaf: 201).

Sedangkan intuisi syahwat yang merupakan bisikan nafsu, berdasar sabda Rasuluilah saw, "Neraka itu dihiasi oleh kesenangan-kesenangan." Masing-masing intuisi atau bisikan tersebut memiliki perbedaan spesifik yang bisa dibedakan oleh pihak yang mendapatkannya.

Bisikan nafsu yang dibangkitkan intuisi syahwat dan upaya pencarian keringanan beban dan kesenangan; maka dalam konteks ini, syahwat terbagi menjadi:
1. Syahwat Nafsaniyah, Seperti cinta kedudukan dan keluhuran, usaha membalas (dendam) ketika marah, dan merendahkan pihak yang kontra kepadanya, dan sebagainya; serta
2. Syahwat jasmaniyah, seperti makan, minum, kawin, berpakaian, bersih, dan sebagainya.

Bagi nafsu, ada upaya kebutuhan pada obyek-obyek kenikmatan ini menurut jangkauan masing-masing dan tekanannya yang kuat kepada masing-masing ragam dari nafsu tersebut.

Bagi orang yang mendapatkan bisikan nafsu ada dua tanda yang berdiri pada posisi seorang saksi yang adil dalam membedakan bisikan yang ditentukan:

Pertama, bisikan itu datang di saat ada kebutuhan mendesak pada unsur-unsur yang serupa tersebut, seperti munculnya keinginan kawin ketika hal-hal yang disenangi sangat mendesak, namun kebutuhan itu dijumbuhkan, bahwa tujuan kawin itu mengamalkan perintah Nabi saw, "Nikahlah kalian, agar kalian menurunkan keturunan. Sebab aku akan berlomba-lomba memperbanyak ummat lewat kalian di hari Kiamat." Juga seakan-akan didasari oleh sabda Nabi saw, "Tak ada kependetaan di dalam Islam," hal yang sama juga dalam soal makan di saat lapar. Lalu kadang-kadang dijumbuhkan dengan ajakan pada dirimu untuk meninggalkan puasa atau mendapatkan hal-hal yang menyenangkan, dengan alasan tersebut. Misalnya engkau mengatakan, bahwa puasa yang terus-menerus itu bisa melemahkan keinginan untuk taat; dan bahwa meninggalkan makanan yang enak ini, bisa melukai teman Muslim yang mengundangnya; atau bisa melukai perasaan keluarga manakala makanan itu memang sangat diminati oleh keluarganya.

Tetapi kadang-kadang ada godaan yang mengkhianatimu dengan warna lain, misalnya ada bisikan yang mengatakan kepadamu, "Jauhilah nafsu dengan meraih hal-hal yang tidak menyenangkan, agar bisikan nafsu itu tidak masuk kepadamu, yang bisa merusak ibadahmu," dan sebagainya yang serupa. Semua ini merupakan godaan dan penyimpangan bisikan tersebut.
Semisal dengannya, ketika ada rasa berat dan enggan untuk beribadah, lalu bisikan itu datang dengan menggunakan alasan hadis bahwa Nabi saw. melarang "tidak nikah", melarang pemaksaan diri, seperti sabdanya, "Lakukanlah amalmu semampumu," dan sabdanya lagi, "Pohon yang ditumbuhkan, tidak pada bumi yang gersang, juga tidak pada tanah yang kasar." Bahkan memperbanyak ibadah yang mendorong keletihanmu, syahwatnya mencegah untuk menjurus pada rusaknya ibadah atau mencegah untuk berpaling dari ibadah. Lantas membawamu pada bunuh diri atau penjara dan sepadannya, karena adanya khayalan atas dua kondisi tesebut, yang menjanjikan kesenangan dan hilangnya beban.

Salah satu dari dua bukti dari bab ini, diawali dengan kejenuhan dan kepayahan, ketika muncul keinginan untuk lepas beban, dan diawali dengan sesuatu yang menyenangkan yang dimunculkan oleh intuisi syahwat. Karena itu harus direnungkan perihal dua kondisi tersebut. Apabila telah didahului oleh dua motivasi tersebut, berarti itu bisikan nafsu. Kebutuhan nafsu adalah faktor yang mengajak dan menggerakkannya. Kesimpulannya bahwa bisikan tersebut bersifat syahwat atau keinginan pada hal yang menyenangkan. Maka pada galibnya bisikan seperti itu pasti dari nafsu. Sedangkan saksi kedua adalah desakan bisikan ini dan tidak adanya pemutusan terhadap bisikan tersebut, hingga datangnya semacam kemampuan sepanjang engkau menolak dan berjuang melawan nafsumu, yang mendesak dan mengeraskan kepalamu, lalu muncul desakan bahwa memohon perlindungan, rasa takut, waspada dan rasa suka itu tidak ada gunanya. Bahkan yang muncul adalah dorongan yang mendesak terus-menerus. Yang demikian ini merupakan bukti-bukti yang gamblang, bahwa desakan demikian dari nafsu. Sebab nafsu itu seperti anak-anak, ketika anak-anak di larang malah tampak keras kepalanya.Dua kondisi seperti itu merupakan bukti yang adil, manakala bertemu, tidak bisa diragukan sebagai bisikan nafsu. Terapinya untuk menanggulangi masalah ini adalah kontra secara radikal dan upaya yang penuh. Engkau harus mencegah keinginan bebas beban di saat muncul pembangkit bisikan kepayahan dan kelelahan ibadah, atau posisi yang memberatkan, agar bisa mencegah gerakan intuitif seperti itu. Apabila bisikan itu bersifat emosi syahwat, terapinya melalui tindak preventif terhadap faktor yang memburunya, atau engkau menolak dari kesenangan lain agar lebih kuat tindak pencegahannya.

Sedangkan intuisi syetan ditandai dengan dua hal pula:
Pertama, dengan munculnya sebagian apa yang dibutuhkan nafsu melalui ajakan syahwat atau ajakan bebas beban dalam waktu-waktu yang diinginkan sebagai tuntutan nafsu. Perbedaan antara intuisi syetan dan intuisi nafsu, bahwa intuisi syetan itu sangat mendesak. Kedua, intuisi syetan itu dimulai dan ditimpakan pada akalnya, sementara intuisi nafsu berkaitan dan menggerakkan wataknya seperti syahwat dan rasa senang. Oleh sebab itu was-was syetan berjalan menuruti alur pembicaraan manusia dengan dirinya. Hanya saja perbedaan di sana-sini tidak terlihat jelas.

Manusia menggerakkan hatimu dari arah indera pendengaran di saat berbicara; atau mendengar dan melihat ketika menunjukkan (mengisyaratkan); serta merasakan ketika meraba; sementara syetan mengganggu melalui was-was dan perabaan hati serta membisik dalam hati. Syetan tidak tahu yang ghaib, namun ia datang kepada nafsu dari sisi akhlak yang direkayasa untuk dilakukannya. Inilah perbedaan antara intuisi nafsu dengan intuisi syetan.
Adapun intuisi Rabbany, ditunjukkan melalui dua bukti.

Pertama, muncul berselaras dengan syariat bagi pelakunya, dan ada bukti-bukti kebenarannya. Kedua, tidak diawali hasrat nafsu ketika menerima intuisi tersebut, justru muncul ragam keleluasaan. Intuisi tersebut merobohkan nafsu, tanpa adanya permulaan seperti pada intuisi syetan. Hanya saja kecepatan nafsu berselaras dengan intuisi syetan, lebih banyak, lebih gamblang, dan lebih membuatnya malas. Karena syetan itu tiba dari sisi syahwat dan kesenangannya. Sedangkan intuisi Rabbany datang dari segi beban dan tugas. Nafsu menolak kedatangan tugas dari intuisi Rabbany. Inilah perbedaan antara intuisi Rabbany, intuisi nafsu dan intuisi syaithany. Apabila engkau kedatangan bisikan atau intuisi, maka timbanglah dengan tiga kriteria di atas, buktikan dengan bukti-bukti yang kami tunjukkan, sehingga engkau bisa membedakan berbagai intuisi.

Jadikanlah intuisi syetan dan nafsu -- sebagaimana kami sebutkan untukmu -- untuk ditolak, lalu bergegaslah dengan intuisi Rabbany. Jangan engkau abaikan intuisi Rabbany itu, sebab waktu itu sempit dan kondisi ruhani itu bisa berubah.

Engkau harus waspada dengan buaian nafsu dan was-was syetan. Sebab pintu ini termasuk pintu kebajikan yang dibukakan untukmu, maka raihlah hingga engkau bisa memulai dari awalnya.

Misalnya, muncul bisikan kepada orang yang dianjurkan berpuasa pada sebagian bulan atau qiyamullail, lalu bisikan itu datang, "Sudahlah, nanti saja kalau malam sudah habis," atau kata-kata, "Nanti saja kalau bulan akan habis," padahal bisikan seperti itu adalah rekayasa bagi pemilik pintu taufik.

Bisikan-bisikan seperti itu tidak abadi, namun cepat berubah. Sedangkan bergegas untuk berpegang erat pada intuisi Rabbany, sangat dianjurkan syariat. Ada dua manfaat di dalamnya:
Pertama, bahwa waktu yang ada adalah waktu yang paling sempurna, seperti waktu-waktu dimana hadist-hadist menyebutkan turunnya anugerah Allah Azza wa Jalla, dan turunnya rahmat serta ampunan. Sementara pandangan-pandangan Allah swt. kepada makhluk-Nya tiada terbatas.

Kedua, semangat untuk menjalankan perintah-perintah dan taat ketika muncul berkah dibalik amal. Di sinilah rasa malas menjadi sirna, karena berhadapan dengan hembusan-hembusan Rahmat Allah Ta'ala. Demikian pula sekaligus menjadi manfaat olah jiwa (riyadhah nafsu) untuk segera melaksanakan perintah-perintah. Wallahu A'lam wa Ahkam.Demikian akhir dari ucapan Abul Qosim al-junaid -- semoga Allah menyucikan ruhnya dan mencerahkan kuburnya. Dan segala puji hanya bagi Allah Tuhan sementa alam, serta shalawat dan salam semoga terlimpah pada junjungan kita Muhammad, beserta keluarga dan sahabatnya semuanya, dengan salam sejahtera yang melimpah ruah.


SHOLAT YANG DICONTOHKAN OLEH WALI MURSYID (SERTA KHOTAMAN DAN MAKLUMAT)

SHOLAT-SHOLAT FARDHU DAN SUNNAT YANG DICONTOHKAN OLEH WALI MURSYID

Keterangan:
SHALAT FARDHU  = SF
SHALAT SUNNAT = SS

PKL.02.00
1. Mandi Taubat (dgn air sekujur Tubuh) -> Do'anya : 
(Robbi anzilni munzalan mubaarokan waanta khairun munziliin)
2. SS. Syukrul Wudlu 2 Rakaat
3. SS. Tahiyatul Masjid 2 Rakaat
4. SS. Taubat                2 Rakaat
5. SS. Hajat                   2 Rakaat^
6. SS. Tahajjud............ 2-10 Rakaat
7. SS. Tasbih               4 Rakaat*
8. SS. Witir                   3 Rakaat
Dilanjutkan dengan :Dzikir Jahar

Waktu Subuh
9.  SS. Syukrul Wudlu    2 Rakaat
10. SS. Qobliyah Subuh   2 Rakaat
11. SS.  Lidaf’il Bala        2 Rakaat**
12. SF. SUBUH                2 Rakaat
DILANJUTKAN DGN DZIKIR  JAHAR

Pkl.(+/-) 06.00
13. SS. Syukrul Wudlu   2 Rakaat
14. SS. Isyraq               2 Rakaat
15. SS. Isti’adzah         2 Rakaat
16. SS. Istikharah       2 Rakaat
Dilanjutkan dgn Dzikir Jahar

Pkl.09.00
17. SS. Syukrul Wudlu  2 Rakaat
18. SS. Dluha                2 Rakaat/8 rakaat
19. SS. Kifrotul Bauli      2 Rakaat
Dilanjutkan dgn Dzikir Jahar

Waktu Zhuhur
20. SS. Syukrul Wudlu     2 Rakaat
21. SS. Qobliyah Zhuhur 2 Rakaat
22. SF. ZHUHUR             4 Rakaat
DILANJUTKAN DGN DZIKIR JAHAR
23. SS. Ba’diyah Zhuhur   2 Rakaat

Waktu ‘Asar
24. SS. Syukrul Wudlu      2 Rakaat
25. SS. Qobliyah ‘Asar      2 Rakaat
26. SF. ‘ASAR                  4 Rakaat
DILANJUTKAN DGN DZIKIR JAHAR

Waktu Maghrib
27. SS. Syukrul Wudlu      2 Rakaat  (Usahakan Sebelum Adzan Maghrib)
28. SS. Qobliyah Maghrib  2 Rakaat
29. SF. MAGHRIB              3 Rakaat
Dilanjutkan dengan Dzikir Jahar
30. KHATAMAN
31. SS. Ba’diyah Maghrib   2 Rakaat
32. SS. Awwabin              2 Rakaat
33. SS. Taubat                 2 Rakaat
34. SS. Birrul Walidaini     2 Rakaat
35. SS. Hifdhil Iman          2 Rakaat
36. SS. Syukru Ni’mat      2 Rakaat

Waktu Isya’
37. SS. Qobliyah Isya’    2 Rakaat
38. SF. ISYA’                 4 Rakaat
39. SS. Ba’diyah Isya’      2 Rakaat
Dilanjutkan Dzkir Jahar
40. SS. Lidaf’il Bala         2 Rakaat**
41. KHATAMAN

Pkl.21.00 (sebelum tidur)
42. SS. Syukrul Wudlu     2 Rakaat
43. SS. Muthlaq                2 Rakaat
Kemudian Dzikir Jahar

Sumber referensi : www.inabah.com

Catatan tambahan :
tata cara Shalat tasbih yang diamalkan Pangersa Abah Sepuh ra
(Di ambil dari koment kang @ A Rachman Bafadhal)

*SHALAT SUNAT TASBIH 4 RAKAAT 2 SALAM :
Usholli sunatan tasbih arba'a Roka'atin lillahita'ala Allahu Akbar
Bacaan tasbih :Subhanallah walhamdu lillahi walaa ilaaha illallahu wallahu akbarwala haolawala quwwata illa billahil 'aliyil adziim
a). Rakaat Ke I/III
75 tasbih Berdiri 15 x tasbih sesudah fatihah dan suratRuku 10 xI'tidal 10 XSjud 10 xlungguh 10 x sujud 10 xduduk 10 x
b). Rakaat ke II/IV
75 tasbiihBerdiri 15 x tasbih sesudah fatihah dan suratRuku 10 xI'tidal 10 XSjud 10 x lungguh 10 x sujud 10 x duduk 10 x
membaca tasbih dilakukan sesudah bacaan bacaan yang biasa pada shalat.keculali pada waktu tasyahud ( tahiyyat ) tasbih dibaca sebelum tasyahud.apabila lupa membaca tasbih pada satu tempat boleh diganti pada tempat berikutnya asal jumlah tetap 300kal ( 4 x 75 )
surat yang lazim dibaca :Rakaat pertama : surat At takatsur ( Al haakumut takaastur... )rakaat ke kedua : surat Al Ashr ( Wal ashri...)rakaat ke tiga : Surat Al Kafirun ( Qulyaa aayuhal kaafirun... ) rakaat ke empat : surat Al ikhlas ( Qulhu... )
*Qoola Rosulullah saw : Hai abbas, pamanku! maukah paman menerima yang istimewa ? Saya tujukan sepuluh hal yang kau terima bilamana mengamalkan kesepuluh hal itu ialah :
1. diampuni Allah dosamu yang lalu
2. Diampuni dosa-dosa yang belakang
3. Diampuni Allah semua dosamu yang lama
4.Maupun dosa-dosa yang baru
5. Diampuni Allah dosamu yang terlanjur
6. maupun dosa-dosa yang disengaja
7. Diampuni Allah dosamu yang kecil
8. maupun dosa dosa yang kecil
9. Diampuni allah semua dosamu yang nyata
10. maupun dosa-dosa yang samar
untuk memperoleh yang sepuluh hal itu hendaklah kamu shalat Tasbih ( H.R Abu Daud dan Tarmidzi )

" shalat Tasbih ini dilakukan satu hari satu kali, kalau bisa tiap malam.kalau tidak bisa dapat seminggu sekali, jika masih tidak bisa, kerjakanlah sekalipun hanya seumur hidupmu ! " Demikianlah sabda Nabi saw.
apabila dilakukan dengan sungguh-sungguh akan dapat memberikan ketenangan jiwa, sehingga dapat merasakan dan menikmati arti hidup yang sesungguhnya dibawah ridha Rabbil 'Alamin.

**Shalat sunat lidaf'il bala setelah shalat sunat fajri sebelum subuh yg surat yabg dibaca :1.Alam Nasroh rakaat pertama2.Al fil rakaat ke dua
Shalat sunat lidaf'il bala setelah shalat sunat qobla isyasurat yg di baca :1. ayat kursi 1x, al ikhlas, al falaq dan an nas masing masing 1x

^niat sholat hajat :Usholli sunnatan hajati Rok'ataini lillahi ta'ala Alahu Akbar
Surat yg di baca :rakaat pertama dan kedua Al ikhlas 11 x

UNTUK MENDAPATKAN TALQIN DZIKIR DAN KETERANGANNYA LEBIH LANJUT SILAKAN MENGHUBUNGI AJENGAN WAKIL TALKIN TQN SURYALAYA
(DI SINI)
---------------------------------------------



Top