ads

Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5

Silaturahmi Keluarga Mursyid TQN PP.Suryalaya ke YSB Korwil Sumatera Utara

Suryalaya, Jum'at (24/10/2014).Keluarga Mursyid TQN Pontren Suryalaya berangkat ke Medan dalam rangka menghadiri acara "MILAD YAYASAN SERBA BAKTI PONTREN SURYALAYA KORWIL SUMATERA UTARA YANG KE 20". Acara ini sendiri diisi dengan Amaliyah Manaqib dan Peringatan Milad yang bertempat di Masjid Nurul Yaqin Jl. Rahmad Buddin Kel. Terjun Kec. Medan Merelan.
Rombongan dari Pontren Suryalaya berangkat dari Bandara Husen - Bandung pada hari Sabtu (18/10/2014) sekitar pukul 09.00 WIB dan tiba di Bandara Kuala Namu - Medan sekitar pukul 14.00 WIB. Rombongan langsung menuju tempat istirahat (Guest House) yang disediakan panitia disekitar Masjid Nurul Yaqin tempat dimana acara dilaksanakan. Kemudian Rombongan berramah tamah dengan para panitia dan pengurus YSB Korwil SUMUT. 
Sekitar pukul 15.30 WIB (Ba'da Ashar) dilaksanakan acara penyambutan Rombongan dari Pontren Suryalaya dengan adat Melayu Deli yang disebut "tabur bunga" yang dipimpim oleh Syeh Abdul Latif Deli (Wakil Talqin TQN Pontren Suryalaya). Setelah acara penyambutan selesai kemudian melaksanakan sholat Maghrib dan Isya berjamaah. setelah sholat isya rombongan berkesempatan berkeliling melihat suasana Kota Medan di malam hari, salah satunya mengunjungi Istana Maimun.

Ke-esokan harinya Minggu (19/10/2014), sekitar pukul 09.00 WIB mengikuti Amaliyah Manaqib di Masjid Nurul Yaqin dan pada kesempatan ini H. Baban Ahmad Jihad S.B. Ar. (Salah seorang Putra Abah Anom) menyampaikan sambutannya atas nama Keluarga. Amaliyah manaqib selesai sampai menjelang dzuhur. Kemudian pukul 13.00 WIB acara Peringatan MILAD YSB KORWIL SUMUT ke-20 dimulai. 

Acara MILAD ini dihadiri tidak hanya oleh para ikhwan/akhwat TQN Pontren Suryalaya yang berada di Medan, juga dihadiri oleh para pejabat antara lain : 
1. Wali Kota Medan 
2. Kepala Kantor Wilayah Kemenag Propinsi Sumatera Utara yang diwakili oleh Kepala Bagian Penerangan 
3. Jajaran POLDA Sumatera Utara 
Acara MILAD selesai sekitar pukul 16.00 WIB

Setelah mengikuti acara MILAD, sekitar pukul 17.00 WIB kemudian Rombongan beserta sebagian ikhwan berangkat menuju Danau Toba. 
Senin (20/10/2014), rombongan melihat-lihat dan menikmati Danau Toba sampai ke Pulau Samosir. Tiba di Pulau Samosir sekitar siang hari, selanjutnya rombongan bersilaturahmi dengan ikhwan/akhwat yang berada di Kabupaten Tobasa Samosir tepatnya di kota Balige yang diisi dengan ceramah dari H. Baban Ahmad Jihad S.B. Ar. 


Sumber : http://www.suryalaya.org/ver2/main.html

Terlalu Bergairah Kepada Dunia Yang Menghabiskan Umur

|Sayyidi Syeikh Abdul Qadir Al-Jaelani, 24 Ramadhan, tahun 545 H.di Madrasahnya |

Anak-anak sekalian, jujurlah anda semua padaku dengan sesungguhnya. Kalian sedang mencari solusi harta dan persoalan di rumah anda. Saya tidak berharap pada kalian kecuali tulus dan ikhlas. Dan itu sangat berguna bagimu, bukan bagiku.
Ikatlah ucapanmu, baik lahir maupun batin, karena lahiriyahmu  senantiasa diawasi oleh para malaikat, sedangkan batinmu senantiasa diawasi oleh Allah Azza wa-Jalla.
Hai orang-orang yang terus begulat diantara gedung-gedung mewah dan rumah istana, yang telah menghabiskan umurnya demi gairah dunia, janganlah anda membangun apa pun kecuali dengan niat yang baik. Karena pondasi bangunan dunia itu adalah niat yang sholihah. Karena itu bangunanmu jangan kau tegakkan atas dasar hawa nafsumu.
Karena orang bodoh itu membangun dunia dengan hawa nafsunya, watak dan kebiasaannya tanpa ada kepastian aturan dan keserasian dengan rencana Allah Azza wa-Jalla serta TindakanNya. Tentu hal demikian tidak layak untuk kesertaan kebaikan, tidak pula disiapkan untuk ditempati orang lain. Kelak di hari Kiamat besok ditanya, “Kenapa anda membangun ini, darimana asal hartamu, kenapa tidak anda nafkahkan? Semuanya dihisab. Carilah ridho dan keserasian, dan terimalah bagianmu, jangan mencari yang bukan bagianmu. Sebagaimana sabda Nabi Saw “Siksa Allah Azza wa-Jalla paling pedih bagi hambaNya di diunia ini adalah saat si hamba mencari harta yang bukan bagiannya.”
Kemarilah datang kepadaku. Namun bila kalian tidak ada baik sangka padaku, ucapanku tidak berguna.
Sungguh celaka. Kalian mengaku muslim, tetapi kalian kontra dengan Allah Azza wa-Jalla, menentang hamba-hambaNya yang orang-orang saleh, sungguh pengakuan anda berdusta.
Islam itu bersumber dari kata Istislam (pasrah) pada ketentuan Allah Azza wa-Jalla, pada QudratNya, dan rela pada tindakanNya disertai menjaga aturan Kitabullah dan Sunnah RasulNya Saw, maka keislaman anda baru sah.
Dampak negatif imajinasi anda yang memanjang membuat anda terjerumus dalam kemaksiatan dan kontra padaNya Azza wa-Jalla. Sebaliknya jika anda bisa memutus lamunan anda, kebaikan datang dengan sendirinya, maka pegang teguhlah ini, jangan sampai lepas, keberuntungan bakal tiba.
Takdir apa pun, pasti datang dari TanganNya Azza wa-Jalla, dan anda ridho, dengan keserasian diri pada syariat disertai kerelaan padaNya, tanpa nafsu, tanpa kesenangan hawa nafsu, tanpa watak selera dan syetan. Karena syetan terkadang memberikan bantuan pada mereka, sebab dari berbagai arah dan segi, kita ini tidak terjaga dari dosa, setelah kepergian para Nabi as. Para Nabi itu jiwanya tenang, hawa nafsunya telah dikalahkan, pengaruh selera wataknya telah redam, dan syetannya telah dipenjara. Tak ada yang mempengaruhi dirinya. Keberserahan dirinya bukan pada sebab akibat, sedangkan tauhidnya menepiskan ketiadaan bahaya dan manfaat pada makhluk.
Sedangkan anda? Semua dirimu penuh nafsu, penuh kesenangan, penuh dengan kebiasaan selera, tak ada tawakkal, tak ada tauhid. Berita tentang kepahitan, kemudian keindahan, lalu remuk redam, kemudiaan terhimpit, lalu mati, kemudian hidup selamanya. Hina kemudian mulia, fakir kemudian cukup, tiada kemudian ada karenaNya, bukan karena dirimu.
Jika anda sabar menghadapi semua itu, maka telah benar apa yang anda kehendaki dari Allah Azza wa-Jalla. Jika tidak maka tidak benar pula proses hidupmu menuju Allah Azza wa-Jalla.
Segala hal yang menyibukkan dirimu lalu membuatmu lalai, adalah keburukan, walaupun anda melakukan sholat, puasa dan kewajiban-kewajiban Azza wa-Jalla, jauh dari muroqobah (sadar akan WaspadaNya), jauh dari kebajikan hidup bersamaNya, padahal orientasi hidup itu adalah berdekatan denganNya. Sedangkan anda adalah hamba yang terhijab, hamba makhluk, hamba hawa nafsu.
Sang arif itu senantiasa teguh bersama Allah Azza wa-Jalla di bawah benedera taqarrubnya dengan pengetahuan dan rahasia batinnya, berserasi dengan qadha’ dan qadarNya, maka tiba-tiba ia tak berdaya dalam peran, tanpa peran, bergerak tanpa gerak, diam tanpa pendiaman dirinya, maka ia tergolong orang yang disebut dalam Al-Qur’an: “Dan Kami membolak-balik mereka  ke arah kanan dan kiri.” (QS. Al-Kahfi: 18)
Ketika mereka lemah tak berdaya, mereka bergerak dengan KuasaNya, dan diam dan pasrah ketika tak berdaya. Bergerak ketika eksistensinya ada, dan diam ketika tiada. Gerak dalam aturan hukum, diam dalam pengetahuan.
Sesungguhnya baru benar jika anda telah keluar dari hawa nafsu, watak, kemakhlukan secara total. Karena itu anda jangan mengikat diri pada makhluk yang tak memiliki cahaya dan manfaat sedikit pun, dan tiada ada yang memberi rizki selain Tuhanmu Azza wa-Jalla.
Seharusnya, selamanya anda patuh padaNya, menjalankan perintah dan menjauhi laranganNya, hingga tak tersisa dalam dirimu kecuali hanya Allah Azza wa-Jalla. Sehingga anda menjadi makhluk terkaya dan termulia. Anda pun akan seperti Adam as, dimana seluruh makhluk diperintahkan sujud padanya. Ini semua tersembunyi di balik akal orang awam, namun kebanyakan kaum khusus yang merupakan bagian dari inti Adam as.
Hai orang yang sedikit manfaat ilmunya, belajarlah, dan bersunyilah dari makhluk, lalu keluarlah, dengan hati yang sunyi walaupun secara lahiriyah ada di tengah publik, dalam rangka menata mereka. Batinnya bersama Allah Azza wa-Jalla, penuh khidmah dan kesahabatan (kedekatan), penuh dengan disiplin, penuh rasa kembali dan bereksistensi dengan pergaulan makhluk, sedangkan hatinya bersama Allah Azza wa-Jalla. Secara lahiriyah ia sibuk dengan aturan hukum, seperti ketika pakaian kotor ia cuci, ia beri parfum, ketika robek ia jahit. Mereka ini adalah para pemimpin makhluk, kokoh bagai tegarnya bukit, sedangkan hatinya bersama Tuhannya Azza wa-Jalla, terhampar, mewaspada dan terus-menerus menyelami pengetahuanNya.
Ya Allah jadikan menu sarapan kami adalah dzikir kepadaMu, dan rasa cukup kami adalah mendekat kepadaMu. Amin.
Tapi anda ini hatinya mati, dan anda bersahabat dengan kematian hati. Seharusnya anda bergaul dengan orang-orang yang hidup, para Nujaba’ (Waliyullah), para Wali Badal (Budala’). Tapi anda ini malah jadi kuburan yang mendatangi kuburan, bangkai mendatangi bangkai. Anda adalah zaman yang tak lebih mendatangi zaman yang lain. Anda orang buta, dan dituntun oleh orang buta.
Karena itu bergaullah dengan orang beriman, yang terus ber-muroqobah, dan saleh. Sabarlah dengan ucapan mereka, terimalah dan amalkan anda akan beruntung. Dengarkan para guru dan amalkan, hormati mereka, anda akan beruntung. Saya punya seorang guru, setiap ada kesulitan padaku, dan muncul di benakku, ia bicara padaku, dan aku tidak berargumen sama sekali, karena itulah caraku menghormatinya dan dan beradab bagus padanya. Dan saya tidak pernah berguru pada guru mana pun melainkan aku sangat menghormati dan menjaga adab yang bagus
Sang sufi tidak akan pernah pelit, karena memang tidak ada yang dijadikan objek kebakhilan pada dirinya Sang sufi telah menegaskan untuk meninggalkan semuanya, kalau ia diberi, maka itu untuk yang lain, bukan untuk dirinya. Hatinya benar-benar jernih dari materi-materi dan imajinasi rupa. Yang disebut pelit itu orang yang berharta. Sedangkan sufi hartanya untuk yang lain. Bagaimana ia disebut bakhil pada harta orang lain? Musuh maupun kawan tidak ada bedanya, apakah ia dipuji maupun dicaci, sama sekali tak membuatnya bergeming, karena ia tidak pernah memandang pemberian itu, halangan, manfaat selain dari Allah Azza wa-Jalla.
Ia tidak gembira karena hidup, tidak susah karena kematian. Kematiannya adalah jika mendapat amarah Tuhannya Azza wa-Jalla, dan kehidupannya adalah ridhoNya. Dalam keramaian ia bisa gelisah, dalam kesendirian ia bisa bahagia. Konsumsinya adalah dzikir kepada Allah Azza wa-Jalla, minumannya adalah minuman kebahagiaan bersamaNya, apalagi sekadar pelit terhadap dinding dunia dan seisinya, karena ia lebih cukup dari sekadar dunia seisinya.
“Ya Tuhan kami, berikan kami kebajikan di dunia dan kebajikan di akhirat dan lindungi kami dari azab neraka.”

Sumber: sufinews.com


Puncak Kenikmatan Para Arifin

Al-Ghazali-
Perlu Anda ketahui, manakala dalam diri Anda dikehendaki rindu bertemu Allah, dan berhasrat untuk mengetahui keagunganNya; suatu kerinduan dan kecintaan yang lebih dibandingkan dengan hasrat seksual dan makan, maka Anda akan mendapatkan pengaruh surga kema’rifatan dan taman-tamannya. Lebih dari surga yang dijanjikan dengan hasrat-hasrat empiris.
Hasrat kema’rifatan seperti itu tercipta bagi orang-orang arif, dan bukan bagi Anda yang senantiasa berpikir pada hasrat fisik. Misalnya, Anda tercipta untuk berhasrat pada kedudukan atau pangkat. Namun hasrat seperti ini tidak ada dalam benak anak-anak kecil. Anak-anak hanya punya hasrat bermain belaka. Anda pun heran, terhadap pola pikir anak-anak kecil itu yang begitu asyik dengan permainan-permainannya. Yang sama sekali tiada pernah berhasrat pada kedudukan sebagaimana yang ada dalam benak Anda. Orang-orang arif pun heran terhadap diri Anda, karena keasyikan Anda pada hasrat kedudukan dan pangkat, sementara dunia dengan keanekaragamannya bagi orang-orang arif hanyalah permainan dan senda-gurau belaka.
Hasrat yang demikian memang diciptakan bagi orang-orang arif (kepada Allah) dengan orientasi puncak kenikmatannya pada ma’rifat itu sendiri menurut ukuran hasratnya. Hasrat tersebut juga tidak akan bertemu dengan hasrat empirik. Hasrat ma’rifat itu sendiri tidak pernah sirna dan membosankan. Bahkan semakin bertambah dan berlipat ganda, manakaIa kerinduan dan ma’rifat itu sendiri bertambah. Berbeda dengan sejumlah hasrat syahwat (seksual) yang biasanya muncul setelah anak menjadi dewasa. Kalaupun ada anak remaja yang tidak memiliki hasrat seksual, bisa jadi karena mereka masih di bawah umur atau mengalami impotensi.
Sementara orang-orang arif ketika diberi karunia hasrat ma‘rifat dan puncak kenikmatan memandang Keagungan Allah Swt. Maka, mereka senantiasa memandang keindahan hadirah (hadirat) Ketuhanan di surga yang seluas langit dan bumi. Bahkan lebih luas lagi. Yakni surga yang tinggi yang buah-buahnya begitu dekat dan senda-gurau kesenangannya adalah sifat-sifat dzat mereka, tidak pernah putus dan terhalangi. Karena memang tidak ada kesempitan sama sekali dalam dada orang-orang ma’rifat itu.

Sumber: sufinews.com


Dimana Ruh Orang yang Sedang Tidur ?

Allah سبحانه و تعالى Berfirman :
"Allah memegang jiwa ketika ia mati dan jiwa yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia menahan jiwa orang yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir"

(QS. Azzumar : 42)

"Allah memegang jiwa ketika ia mati dan jiwa yang belum mati di waktu ia tidur; maka Dia menahan jiwa orang yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan." Ayat ini menjadi dalil bahwa jiwa-jiwa itu berkumpul di al- malaul a'la, sebagaimana hal itu diterangkan di dalam sebuah hadits marfu' yang diriwayatkan oleh Ibnu Mundah dan yang lainnya, demikian pula diriwayatkan dalam Bukhari & Muslim dari Abu Hurairah رضي الله عنه :
Rasulullah bersabda :

"Apabila salah seorang di antara kamu hendak tidur maka kibaskanlah bagian dalam selimutnya karena dia tidak mengetahui apa yang ada di balik itu. Kemudian berdoalah, 'Dengan nama-Mu, ya Tuhanku, aku letakkan lambungku dan dengan nama-Mu aku angkat lambungku. Jika Engkau menahan jiwaku maka kasihanilah dia dan jika Engkau melepaskannya maka jagalah ia dengan penjagaan yang Engkau lakukan terbadap hamba-hamba-Mu yang saleh".

Sebagian ulama salaf mengatakan ketika menafsirkan ayat ini, "Akan dipegang ruh-ruh orang-orang yang sudah mati, bila mereka mati, dan ruh-ruh orang-orang yang masih hidup bila mereka tidur sehingga akan saling mengenal sesuai dengan kehendak Allah untuk saling mengenal. (dengan demikian ruh orang-orang yang masih hidup ketika tidur berkumpul dengan ruh orang-orang yang sama kualitas amaliyahnya, jika amaliyahnya soleh dan istiqomah, ia pun dikumpulkan dengan ruh orang-orang yang amaliyahnya baik dan istiqomah begitu pula sebaliknya, wallohua'lam)

"Maka Dia menahan jiwa yang telah Dia tetapkan kematiannya," Yaitu jiwa yang telah mati. "Dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan," yaitu sampai batas waktu yang masih tersisa. Dan Ibnu Abbas mengatakan, "Jiwa-jiwa yang sudah mati ditahan dan jiwa-jiwa yang masih hidup dikembalikan lagi." "Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir."


(Sumber : Tafsir Ibnu Katsir) 

KHIDMAT ILMIAH MANAQIB BULAN RAJAB 1435 H.

|Oleh : K.H. Zezen Zainal Abidin Bazul Asyhab |
Minggu, 11 Rajab 1435 H / 11 Mei 2014 MMasjid Nurul Asror PP.Suryalaya Tasikmalaya|

Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Bismillah walhamdulillah.....’amma ba’ad. Ilaahi anta maqsuudi waridlooka mathluubii a’thinii mahabbataka wa ma’rifataka.
Bersyukurah kita semua karena oleh Allah Swt.telah menjadikan kita al insan (manusia) sebagai makhluk yang paling mulia dan sempurna, dari sekian milyar makhluk-makhluk-Nya. Dan dari 6 milyar lebih manusia yang ada dimuka bumi sekarang, yang sudah bersyahadat (beragama Islam) baru 1,5 milyar orang. Selebihnya yaitu 4,5 milyar orang menganut agama bukan Islam. Hal ini menjadi peringatan kepada kita bahwa kekuatan Islam masa lalu telah tergeser. Di zaman Rasulullah Saw, khulafaurrasyidin, dinasti-dinasti Islam Bani Umayyah, Abbasiyah maupun Utsmaniyah, telah mampu mewujudkan umat Islam di muka bumi ini adalah umat terbanyak. Tetapi karena timbulnya perpecahan, pertikaian, perebutan kekuasaan, perebutan tahta, harta dan wanita yang menimbulkan umat Islam semakin lemah.
Di saat umat Islam lemah, kaum kafir melakukan serangan balik dengan kekuatan yang dahsyat, sehingga Islam dikalahkan oleh luar Islam. Antara lain Spanyol yang telah dikusai Islam selama 350 tahun, ketika kaum Salibi melakukan serangan balik maka porak-porandalah umat Islam disana. Dulu kalau kita ingin belajar ilmu Nahwi dan Sharaf yang mendalam maka kita belajar Alfiyah Ibnu Malik yang disusun oleh Muhammad bin Abdillah bin Malik Al-Andalusi. Kalau kita ingin memperdalam ilmu tentang kematian, maka ada kitab yang disebut At-Tabsiroh yang susun oleh Imam Kurtubi, yaitu Tafsir 10 jilid yang disusun oleh Imam Qurtubi (konon kurtubi adalah Kordoba). Tapi hari ini jika kita ke Spanyol, kita akan kesulitan manakala ingin belajar tentang Islam secara mendalam. Yang lebih mudah disana adalah belajar sepak bola. Ini kenyataan, walaupun ada beberapa negara yang terus dirambah oleh Dakwah Islam sehingga banyak umat-umat lain yang berpindah ke Islam. Tetapi jumlah kita masih tetap sedikit dibandingkan dengan luar Islam.
Salah satu nikmat yang tidak boleh kita lupakan adalah diberinya kita hidayah oleh Allah Swt. sehingga kita menganut agama Islam. Manusia di muka bumi hari ini yang menganut agama Islam kurang lebih 1,5 milyar. Diantara mereka ada muslim yang taat, ada juga muslim yang tidak taat, dimana perbandingannya lebih banyak yang tidak taat. Dari sekian yang taat, yang sudah mendalami Islam secara dhohir dan batin, masih sedikit. Mayoritas dari yang taat ini melihat Islam dari aspek dhohirnya saja. Menurut perkiraan saya dari jumlah 1,5 milyar Umat Islam yang ada sekarang, tidak akan lebih dari 5%nya (sekitar 20 juta orang) yang oleh Allah Swt. diberi kemampuan mempelajari ilmu dhohir bathinnya Islam. Hal ini saya bicarakan karena berkaitan dengan salah satu kalimat yang disebut dalam tanbih yaitu “sina logor dina liang jarum ulah sereg di buana”. Buana itu ada buana mulkiyah (bumi, matahari, bulan, bintang-bintang), ada buana malakutiyah (langit 1 sampai langit 7), ada buana jabarutiyah, dan ada buana lahutiyah. Inilah salah satu keluarbiasaan tanbih. Oleh karena itu, kita tidak boleh berhenti untuk berupaya memperdalam pemahaman tentang tanbih ini. Jangan pernah merasa paling ahli tanbih, atau merasa paling menguasai pemahaman tentang tanbih. Lebih baik kita merasa baru secuil (sangat sedikit) memahami tanbih.


Hadirin rohimakumullah
Jadi ibu-ibu/bapak-bapak, walaupun dibandingkan dengan ulama tentu ilmu ibu-ibu/bapak-bapak termasuk sangat sedikit. Tetapi hal itu tidak berarti ibu-ibu dan bapak-bapak tidak punya ilmu. Dalam percakapan sehari-hari dikalangan masyarakat Sunda sering terdengar ungkapan “abdimah teu bodo-bodo acan”. Ungkapan itu merupakan bahasa hakikat. Ada yang memang memahami kalimat tersebut tapi ada juga yang cuma ikut-ikutan, namun kebanyakan yang ngomong seperti itu hanya ikut-ikutan. Ceritanya tawadhu, tapi tawadhu tanpa ilmu. Tawadhu tanpa ilmu sering kebablasan menjadi kufur nikmat. Istilah seperti itu seharusnya dipakai saat dihadapan Allah. Itu ilmu dzikir, ilmu yang harus dipasang ketika kita berdzikir (bahwa kita manusia yang paling bodoh, yang paling berdosa, dst). Tapi kalimat tersebut tidak boleh kita gunakan ketika kita diberikan tugas.
Ikhwan/akhwat yang bukan ulama jangan terlalu prihatin, memang sedikit ilmunya tapi komplit. ini perlu kita pahami agar jangan terlalu minder. Kita yang bukan ulama memang sedikit ilmunya tapi tidak bodo-bodo amat. Kita harus menggiring orang ke pemahaman yang benar, jangan terus di injak-injak oleh mubaligh supaya mubaligh dihargai maka seakan-akan orang lain bodoh semua. Itu penyakit, itu pembunuhan karakter. Ibu-ibu/bapak-bapak orang berilmu, karena dari kecil sudah ngaji. Ucapkan terima kasih kepada seluruh guru yang sudah mendidik kita walaupun mereka tidak se-tarekat dengan kita, yang jelas beliau-beliau berjasa. “Man lam yasykurinnaas lam yasykurillaah” orang tidak bisa berterimakasih kepada sesama manusia tidak akan bisa bersyukur kepada Allah. Lihat dalam Tanbih, jadi belajar tarekat bukan menjadi pemecah belah umat justru jadi pemersatu umat.


Hadirin rohimakumullah
Mari kita coba membahas tentang Isro Mi’raj.
Membahas apapun ketika masuk pada dimensi tarekat, maka semua terbahas secera mendalam, termasuk “Subhaanalladzii asro bi’abdihii” (Isra Mi’raj). Mengapa ayat ini diawali dengan kalimat “subhaana”, padalah kalau Allah menggunakan “alhamdu” saja apa salahnya? andaikan. Jawabannya adalah “dzilaalatan ‘ala ta’jiib”Hal itu menunjukkan keluarbiasaan. Ketika kafir-kafir Quraisy memandang Nabi Muhammad adalah manusia gila, pembohong, penipu dll, terlebih setelah di umur 53 tahun Beliau diberangkatkan melalui peristiwa Isra Mi’raj. Pagi harinya Beliau merenung bertafakur, lalu datanglah kafir Quraisy dan bertanya kepada Nabi Muhammad, “Muhammad sedang apa?”, lalu Nabi Muhammad menceritakan peristiwa Isra Mi’raj yang dialaminya tadi malam. Setelah mendengar cerita itu Kafir Quraisy malah mencibir dan tidak percaya akan peristiwa yang dialami Nabi Muhammad.
“Wama ja’alna ru’yalati aroinaka illa fitnatal linnaas” benar-benar kejadian yang dialami oleh Nabi Muhammad yang bagaikan mimpi itu menjadi fitnah. Fitnah adalah ujian bagi keimanan. Ada yang tadinya sudah imannya kuat menjadi tipis, ada yang tipis menjadi kuat, ada yang iman menjadi murtad, ada yang tidak iman menjadi semakin tidak iman, itulah disebut fitnah. Hati-hati menggunakan kalimat fitnah, sebab kalimat fitnah di Indonesia di Asia Tenggara perlu diluruskan karena di kita fitnah itu diterjemahkannya menjadi menuduh. Konotasinya kalau fitnah adalah tuduhan. Kita luruskan, arti kalimat fitnah adalah ujian atau cobaan. Kalau saudara menterjemah fitnah adalah menuduh, bagaimana anda menterjemahkan ayat “innamaa azwaajukum wa aulaadukum fitnah” sesungguhnya istri-istrimu dan anak-anakmu adalah fitnah dengan makna adalah menuduh. Yang benar “sesungguhnya istri-istrimu dan anak-anakmu adalah ujian”. Pakailah tafsir yang benar. Kalau menuduh bahasa arabnya “Kodzfah” maka dalam hukum ada “haddul kodzaf” hukuman bagi orang yang menuduh orang lain.
Kejadian Isro dan Mi’raj menjadi fitnah atau ujian keimanan bagi masyarakat waktu itu. Karena itu Allah menurunkan “Subhaana”. Hei orang-orang Quraisy, Hei orang-orang Arab yang ragu-ragu tidak percaya terhadap kejadian Isra dan Mi’raj berhentilah dari ketidakpercayaan, percayalah karena Muhammad bukan berangkat sendiri tapi diberangkatkan oleh Yang Maha Suci dari segala kekurangan, Aku (Allah) yang memberangkatkannya.
“Subhaana”
Bukan hanya orang Arab yang manakala mengalami kejadian yang luar biasa mengucapkan “Subhanallah”. Di kita juga sering kalau mengalami yang luar biasa mengucapkan “Subhanallah”. Kalimat “Subhanallah” atau kalimat keagamaan apapun yang keluar dari lidah kita ketika mengalami kejadian luar biasa, benar-benar bahasa rasa atau sekedar budaya/kebiasaan saja? Nampaknya rata-rata cuma kebiasaan. Kita baru sebatas kebiasaan/ucapan biasa belum tembus pada rasa. Kenapa kita sholat malas, berjamaah sulit, sodakoh sulit, baca quran sulit, dzikir malas? sebab tidak tembus pada rasa. Anda akan tahu dimana posisi Suryalaya, betapa pentingnya keberadaan Suryalaya. Dengan hormat kepada para ulama disemua pihak, kalau kepintaran alhamdulillah semua tahu. Tapi soal rasa tidak bisa dengan ilmu. Pengetahuan dengan rasa beda, kalau pengetahuan itu di otak kita kalau rasa itu adanya di wilayah batin kita. Jadi pendidikan dzikir TQN adalah pendidikan rasa. Apakah ibu/bapak sudah bisa mengucapkan kalimat Tasbih ? maka kita akan mengucapkan “Subhaanallaah”. Apakah kita semua sudah bisa bertasbih? Hati-hati!. Kalau mengucapkan kalimat Tasbih ucapan “Subhanallah” anak TK pun bisa tapi bertasbih, sebuah keyakinan dalam qolbu bahwa Allah Maha Suci dari segala kekurangan, rasa-rasanya kita belum ahli. Apakah kita semua sudah bisa mengucapkan kalimat Takbir? Jawabannya pasti bisa. Itu Takbir rasa atau ucapan takbir lidah?


Hadirin rohimakumullah
“Alloohu”

“Allohu Akbar” 
Allah Maha Besar. Pernahkan kita ketika sedang ngobrol datang waktu sholat terus saja ngobrol, sehingga sholatnya diakhirkan? Tidur, sholatnya diakhirkan? Pasti menjawab pernah. Kalau begitu tidak “allahu akbar”, itulah tidak tembus pada rasa. Andai tidak ada Pangersa Guru Agung (Pangersa Abah), dengan hormat kepada mursyid-mursyid yang lain. Kita pun samalah dengan mereka, puas oleh jasad saja ibadah itu, puas dengan bacaannya saja ibadah itu, sedangkan rasa tidak terdidik.
Pernahkah kita dipuji oleh orang lain ? jawabnya pernah. Gembira atau sedihkah kita? pasti gembira. Pernahkah kita dihina oleh orang lain ? jawabnya pernah. Gembira atau sedihkah kita? pasti sedih. Jadi lebih suka di puji atau dihina? Jawabnya lebih senang dipuji. Padahal puji itu milik siapa? “Alhamdulillah” Segala puji milik Allah. Kalau begitu kita belum bertahmid ke dalam rasa, baru tahmid dimulut saja. Begitupun Laa ilaaha illallaah disatu pihak merupakan kalimatul ikhlas, kalimat thoyyibah, tapi di lain pihak Rasulullah bersabda “taquulu bi afwaahikum laa ilaaha illallaah wa fiiquluubikum kam ilaa” Kamu mengucapkan dalam lidahLaa ilaaha illallaah tapi dalam qalbumu masih banyak Tuhan yang engkau sembah, “kadzabtum” engkau berbohong. Itulah disebutkan dalam hadits al qudsi. Karena itu kita belajar melatih rasa yang bimbing oleh ahli rasa yang disebut rasaning rasa.
“asro”“Alladzii asroo bi’abdih”, bagi saudara yang pernah belajar ilmu nahwi wa shorfi maka anda akan tahu kalimat “asro” itu sudah ada tambahannya, akar katanya adalah “saryun, saro”, saro itu berjalan diwaktu malam. Jadi kalau “asro” memberangkatkan, karena itu maf’ulnya diberi ba, baik hamzah dalam asro dan ba di dalam maf’ulnya “asroobi” memberangkatkan. Wahai saudara-saudaraku, orang-rang yang sedang melakukan suluk (Pangersa Abah menggunakan kalimat Pengamalan). Setiap orang belajar pengamalan tarekat itulah suluk. Tarekat manapun orangnya disebut salik. Manakah diantara suluknya, pelaksanaan kegiatan melakukan, memberjalankan ruh kepada Allah, itulah konteksnya dengan isro. Mengamalkan amalan kewajiban baik wajib maupun sunat itupun sudah suluk, dzikir setiap bada sholat fardu itu sudah suluk, khotaman juga suluk, manaqiban serpeti ini pun juga suluk. Jadi sebenarnya Suluk itu adalah upaya memberjalankan ruh menuju Allah, dzikir tarekat berbeda dengan dzikir biasa.
“abdihii ”Kita lanjutkan kepada “’Abdihii”. Kata ‘abdihii itu sumir/samar bisa dibawa kemana-mana. Kenapa tidak memakai kata “bi muhammadin” biar lebih kontras/jelas?
1) Memang nama Muhammad sangat terhormat, dibumi disebut Muhammad sedangkan di langit disebut ahmad.Karena itu ada Muroqobah Hakekat Muhammadiyyah dan ada Muroqobah Hakekat Ahmadiyyah. Muroqobah itu memperdalamn keyakinan, bukan wirid menginginkan sesuatu. Bagi yang sudah punya kemauan silahkan Anda melakukan perjalanan ruh “asro bi’abdihi”. Jadi Nabi Muhammad bukan karena namanya Muhammad, tapi ia diundang untuk bertemu langsung oleh Allah di “’aalamullaahuut fii maq’adis sidqin ‘inda maliki muqtadir” sebelah sananya sidroh muntaha karena ubudiyyahnya (karena ibadahnya) bahkan sampai kepada ubuudah.
2) yang di isro mi’rajkan dijemput oleh Jibril Mikail sampai bertemu dengan Allah itu dari 124 ribu nabi, berapa nabi? Hanya satu yaitu Nabi Muhammad Saw. Apakah itu khusus Nabi Muhammad saja? Jawabnya tidak. Memangnya siapa lagi ? siapapun yang mencapai sifat ubudiyah kehambaan kepada Allah mengikuti Rasulullah dengan mengikuti para pengikut Rasulullah. Kalau mengikuti Rasulullah itu sebatas bacaan-bacaan, gerakan-gerakan seperti sholat itu tidak sulit, tapi bisakah kita mengejar kekhusuan Rasulullah tanpa dibimbing oleh yang ahli khusu? Apakah Rasul Suci atau tidak ? apakah kita harus mengikuti kesucian Rasulullah? Bisakah kita suci tanpa mensucikan diri? Bisakah kita mensucikan diri tanpa metode yang sudah teruji?.
Jadi dengan kalimat ‘abdihi memberi peluang kepada semua umatnya bukan hanya Nabi Muhammad yang bisa menembus kesana tapi umatnyapun bisa kesana. Walaupun tidak dalam teks haditsnya disebutkan, tapi dalam kitab Qissotul Mi’raj li Sayyid Ahmad Dardir disebutkan bahwa ketika Nabi menghadap Allah disana sudah ada Bilal. Bilal belum meninggal, wafatnya duluan Rasulullah. Bilal orang yang terus menangis sampai meninggal, karena tidak mau berpisah dengan Rasulullah. Tetapi ketika Rasulullah Mi’raj bertemu Bilal sudah ada disitu. Kenapa kamu disini? Allah memberikan ini kepada saya, jawab Bilal. Bukan mustahil kita pun bisa ada disana. Kalau untuk Rasulullah caranya memang begitu (isra mi’raj), kalau untuk umatnya maka olahlah diri anda. Pertama alam mulki dari bumi sampai langit satu itulah badan kita ruhnya jismani (ibadah dhohir laksanakan). Jadi isra mi’raj itu kita juga kebagian, buroqnya bagi kita dzikir, yang menuntunnya Guru Agung. Kalau Nabi Muhammad yang menuntunya Jibril dan Mikail, kalau kita oleh ruh Beliau.


Hadirin rohimakumullah  Apa yang mengahalangi sehingga kolbu kita itu tertutup tidak mampu ‘uruj (melakukan perjalanan ruh menuju Allah). Dalam diagram latifah yang disusun oleh Mama Suhrowardi Ajengan Citungku sumbernya dari Kitab Qotrul Goets, disebutkan ada tujuh latifah (lima positif dua negatif), yang negatif adalah latifah nafsi amaroh bissu dan latifatul qolbi. Berapa penyakitnya yang disebutkan ada 13. Kalau dalam Kitab Tanwirul Qulub disebut ada 6, kalau didalam Qotrul Goest ada 13 sifat buruk , kalau di dalam Ihya ada 60 sifat buruk. Dalam Kitab Ihya disebutkan “wa ammaama yudzammu” adapun sifat-sifat buruk diantaranya : “fakhaoful fakri” (hidup di dunia takut fakir), kalau tidak mau fakir timbulnya berupaya dengan jalan yang halal itu bagus. Tapi kalau tidak mau fakir, sombong dengan harta itulah penyakit kolbu. “suhtul makdur” (membenci kepada takdir yang diberikan Allah kepada kita), hati-hati. “dzillu” (penyakit menipu), menipu diri sendiri, menipu keluarga, menipu guru, menipu teman, dll. “Khikdu” (dendam), hasad, goust, “tholabul ulum” (mau menjadi yang paling atas), “hubbus sana” (senang disanjung), “hubbut tulil baqo fidun-ya” (mau lama hidup di dunia supaya enak hidup), “khibr” (sombong), riya, godob, unfah, adawah, bagdho, bukhul, robbah, badkh, ashr, batr, ta’dimul agniya (mengagung-agungkan orang yang kaya/kekayaan), wal fakhru, khuyala, wa tanafus, wa mubahat, wal istiqbar ‘anil haqqi, wa khodimalaya’ni (Suka berbicara yang tidak perlu), wa hubbu katsrotil kalam, wa sorfu, wa tajunil kholqi, wal mudahanah, wal uju, wa istigol an uyubinafsi uyubinnas (lebih senang mengorek kesalah orang lain daripada kesalahan diri sendiri), wa zawalul khuzni ‘anil minal qolbi (tidak punya rasa sedih dalam hatinya),wa khurujul khosya minhu siddtul inti solli nafsi idza annal hadzullu do’ful inti solli haqqi ittikhodu ikhwani ‘alaniyyah ‘ala adawati sirri wal amnu min makillah subhanahuwata’ala fi sarti ma’utiya wal itikal ‘ala tho’ah wal makru (“makru” makar,pemberontakan, melakukan gerakan-gerakan untuk menggulingkan pihak lain supaya kita mempunyai kedudukan tertentu) wal khiyanat wal mukhoda wa thuulil ‘amal (melamun), qoswah (keras), fadhodhoh wal farhu fi dun-ya wal asaf anfawatiha (senang dengan duniawi dan nelangsa kalau tidak memilikinya), wal uzu bil makhluqin wa wahsya anil fuqoro-ihim wal jafa wattais wal ‘ajalah wa qilatul haya (tidak punya rasa malu), dan qilaturrahmah (kurang kasih sayang). Itu semua diantara penyakit-penyakit qolbu kalau dihitung semuanya jutaan, oleh karena itu membersihkannyapun tiada henti. Setiap denyut jantung diisi dengan dzikir khofi, atau setiap ba’da sholat sekurang-kurangnya melaksanakan dzikir jahar.
“Minal masjidil haram ilal masjidil aqsa” dari mesjid ke mesjid, untuk apa ? “Linuriyahu min aayaatinaa” agar Allah memperlihatkan tanda-tanda kebesaran Allah disana.

Semoga apa yang saya sampaikan dapat bermanfaat, semoga kita tetap istiqomah, istiqomahlah, istiqomahlah. Seperti yang telah disampaikan oleh KH. Airf Ichwanie tadi, bahwa Guru kita Mursyid kita adalah Pangersa Abah Anom (Syaikh KH. Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin ra.). Kalau ada yang berbelit-belit berbicara bahwa berguru kepada yang sudah mati berarti berguru kepada yang tiada, berguru kepada yang tiada berarti berguru kepada syetan, itu kalimat dibuat-buat.
Dalam Kitab Anwarul Qudsiyah “Manakala sang Mursyid sudah memperkirakan beliau tidak lama lagi usianya (walaupun secara hakikat mungkin tidak) tapi karena sakit, karena tua, dll, maka Beliau memilih satu atau lebih diantara sekian muridnya. Beliau angkatlah dengan kalimat yang jelas (misal;saya mengangkat kamu nama anu) dengan saksi dan diumumkan sehingga tidak menimbulkan fitnah diketahui oleh ikhwan walaupun tidak semuanya tetapi cukup tawatur/mutawatir mengangkat seseorang. Mana kala sang Mursyid wafat, siapa yang belajar tarekat tidak dibimbing gurunya maka gurunya adalah syetan. Ini dengan mudah ditujukan kepada yang tetap berguru kepada Pangersa Abah dianggap murid syetan.
Dalam Kitab Miftahus Shudur tentang “Syaikhul hayy bahwa murid tarekat harus dibimbing oleh Syaikhul hayy (guru yang masih hidup)”. Dengan mudah kalimat itu ditujukan kepada murid-murid Suryalaya gurunya sudah meninggal berarti tidak punya guru yang masih hidup. 
Saya akan menjawab, perlu diketahui yang disebutkan berguru kepada guru yang masih hidup adalah mengambil talqin kepada guru yang masih hidup. Saya mau bertanya, ibu/bapak waktu menerima talqin dari Pangersa Abah masih hidup atau sudah wafat? Atau menerima talqin dari para Wakil Talqin, para Wakil Talqin tersebut diangkat oleh Pangersa Abah, apakah Abahnya masih hidup atau sudah wafat? Jadi kita sekalian gurunya itu guru yang masih hidup. Walaupun sekarang yang memberi talqinnya sudah wafat yang mengangkat wakil talqinya sudah wafat, tapi kita gurunya, mendapatkan talqinnya waktu Mursyid masih hidup atau diberi talqin dzikir oleh wakil talqin dimana wakil talqin tersebut diangkat sewaktu Mursyid masih hidup, maka berarti kita belajar dzikir itu kepada yang masih hidup. “Wa ana au iyakum” Kami atau Anda yang menjadi murid Syetan itu?
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Sumber: suryalaya.org

DAFTAR NAMA SUSUNAN MENTERI KABINET KERJA

Daftar 34 Nama Susunan Menteri Kabinet Jokowi JK 2014 yang disebut Presiden Jokowi sebagai “Kabinet Kerja” telah diumumkan di Istana Negara, Minggu (26/10/2014) pukul 17.00 WIB. Berikut daftar nama menteri susunan Kabinet Kerja Jokowi terbaru selengkapnya:

Presiden RI : Joko Widodo
Wakil Presiden RI : M Jusuf Kalla

1. Menteri Sekretaris Negara : Pratikno
2. Menteri Perencanaan Pembangunan Negara/Kepala Bappenas: Andrinof Chaniago

3. Menko Bidang Kemaritiman : Indroyono Soesilo
4. Menteri Perhubungan : Ignasius Jonan
5. Menteri Kelautan dan Perikanan: Susi Pudjiastuti
6. Menteri Pariwisata : Arief Yahya
7. Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral: Sudirman Said

8. Menko Bidang Polhukam : Tedjo Edy Purdijatno
9. Menteri Dalam Negeri : Tjahjo Kumolo
10. Menteri Luar Negeri : Retno Lestari Priansari Marsudi
11. Menteri Pertahanan : Ryamizard Ryacudu
12. Menteri Hukum dan HAM : Yasonna H Laoly
13. Menteri Komunikasi dan Informatika: Rudiantara
14. Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi: Yuddy Chrisnandi

15. Menko Bidang Perekonomian: Sofjan Djalil
16. Menteri Keuangan : Bambang Brodjonegoro
17. Menteri BUMN : Rini M Soemarno
18. Menteri Koperasi dan UMKM: Anak Agung Gde Ngurah Puspayoga
19. Menteri Perindustrian : M Saleh Husin
20. Menteri Perdagangan : Rachmat Gobel
21. Menteri Pertanian : Amran Sulaiman
22. Menteri Ketenagakerjaan : Hanif Dhakiri
23. Menteri PU dan Perumahan Rakyat: Basuki Hadi Muljono
24. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan: Siti Nurbaya
25. Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN: Ferry Mursyidan Baldan

26. Menko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan: Puan Maharani
27. Menteri Agama : Lukman Hakim Saefuddin
28. Menteri Kesehatan : Nila F Moeloek
29. Menteri Sosial : Khofifah Indar Parawansa
30. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak: Yohanan Yambise
31. Menteri Kebudayaan dan Pedidikan Dasar dan Menengah: Anies Baswedan
32. Menteri Ristek dan Pendidikan Tinggi : M Nasir
33. Menteri Pemuda dan Olahraga: Imam Nahrawi
34. Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi: Marwan Ja’far

Sebelumnya
Susunan menteri Kabinet Jokowi JK terbaru akan diumumkan pada hari Minggu, 26 Oktober 2014 petang. Demikian yang disampaikan oleh mantan Deputi Tim Transisi, Andi Widjajanto. Sebelumnya sempat muncul isu bahwa pengumuman kabinet Trisakti akan berlangsung pada Rabu (22/10) dan Jumat (24/10) malam.

Diklaim oleh Andi Widjajanto, Jokowi belum mengumumkan kabinetnya karena masih berkutat dengan laporan terbaru KPK terkait rekam jejak beberapa calon menteri. Namun Andi tidak menjelaskan lebih detail apakah masih ada nama calon yang diberi tanda merah atau kuning.
“Pengumuman kabinet tidak (dilakukan) malam ini. Pak Jokowi masih harus melakukan pemikiran dan telaah finalisasi sehubugan analisis yang diberikan pimpinan KPK,” ujar Andi seperti dikutip Kompas pada Sabtu (25/10).
Lebih jauh Andi mengungkapkan, “Akan ada perkenalan kabinet yang diselenggarakan minggu sore jam empat sore di halaman istana, Istana Negara, dan Istana Merdeka.”
Pengumuman pada hari Minggu ini berkesuaian dengan agenda yang disampaikan Jusuf Kalla, yaitu pelantikan Kabinet Trisakti pada Senin (27/10). Nantinya, dalam pengumuman menteri, Jokowi akan menampilkan ‘sesuatu yang berbeda’ dengan memperkenalkan pula istri/suami dan anak-anak para menteri terpilih.
Sebelumnya, wakil presiden Jusuf Kalla membuka kemungkinan pengumuman kabinet akan berlangsung Jumat (24/10) malam. Namun, hingga larut malam sekalipun tidak ada tanda-tanda akan hal tersebut. Ini mengulang kejadian pada Rabu (22/10) ketika Joko Widodo sempat berkata bisa mengumumkan susunan menterinya malam itu juga. Nyatanya, kala itu tidak ada pengumuman apa pun meski sudah ada kegiatan di Tanjung Priok yang diklaim berkaitan dengan acara tersebut.

Sumber: sidomi.com 
foto : bandung.bisnis.com

KALENDER HIJRIYAH DAN KALENDER LAINNYA DI DUNIA

Hampir seluruh umat Islam di seluruh dunia, mengenal sistem kalender Masehi. Bahkan, ketika diminta untuk menyebutkan nama-nama bulan Masehi, mereka dengan mudah mengucapkannya.Sebaliknya, ketika dimintai pendapatnya tentang kalender Islam atau hijriyah, kebanyakan mereka akan menggelengkan kepala, tanda tak tahu. Sungguh sangat memprihatinkan, sebab mereka tidak mengetahui kalendernya sendiri. Bahkan bulan apa yang pertama dari kalender hijriyah, mereka pun tak tahu. Hal ini dikarenakan minimnya sosialisasi keberadaan kalender hijriyah pada umat Islam.
Sistem penanggalan Islam dimulai pada saat Rasulullah S.A.W. berhijrah dari Makkah ke Madinah. Perpindahan (hijrahnya) Rasulullah ini, menunjukkan adanya tujuan dalam menggapai kedamaian bagi umat Islam. Intinya, meninggalkan keburukan menuju pada kebaikan. Seperti diketahui, peristiwa hijrah Rasulullah itu terjadi pada Kamis, bertepatan dengan 15 Juli 622 Masehi. Sejak itulah dihitung sebagai tahun hijriyah. Berbeda dengan tahun Masehi yang dimulai pada 1 Januari, sistem penanggalan Islam diawali pada 1 Muharram. Dan dalam setahun, sama-sama berisi 12 bulan.
Kendati penerapan kalender hijriyah, merujuk pada tahun hijrahnya Rasulullah dari Makkah ke Madinah, namun penanggalan itu baru resmi digunakan setelah 17 tahun kemudian saat sistem pemerintahan Islam dipimpin Khalifah kedua, Umar bin Khattab. Penetapan awal tahun Hijriyah yang dilakukan Khalifah Umar ini, merupakan upaya dalam merasionalisasikan berbagai sistem penanggalan yang digunakan pada masa pemerintahannya. Terkadang sistem penanggalan yang satu tidak sesuai dengan sistem penanggalan yang lain sehingga sering menimbulkan persoalan dalam kehidupan umat.
Bila menilik sejarahnya, sebelum datangnya Islam, bangsa Arab telah menggunakan kalander tersendiri. Hanya saja, mereka belum menetapkan tahun, namun sudah mengenal nama-nama bulan dan hari. Kalau pun harus menggunakan tahun, itu hanya berkaitan dengan peristiwa yang terjadi, seperti tahun gajah yang dinisbatkan pada masa penyerbuan Abrahah ketika akan menghancurkan Ka'bah.
Karena kesulitan dalam menetapkan tahun tersebut dan seiring dengan makin banyaknya persoalan yang ada terkait dengan sistem kalender yang baku, maka Khalifah Umar berinisiatif menetapkan awal hijrah sebagai permulaan tahun Masehi, setelah melakukan musyawarah dengan sejumlah sahabat.
Dari sini disepakati bahwa tahun hijrahnya Nabi Muhammad S.A.W beserta para pengikutnya dari Makkah ke Madinah adalah tahun pertama dalam kalender Islam. Sedangkan nama-nama bulan tetap digunakan sebagaimana sebelumnya, yakni diawali pada bulan Muharram dan diakhiri dengan bulan Dzulhijjah.
Peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad beserta para pengikutnya dari Makkah ke Madinah yang dipilih sebagai titik awal perhitungan tahun, tentunya mempunyai makna yang amat dalam bagi umat Islam. Peristiwa hijrah dari Makkah ke Madinah tersebut, merupakan peristiwa besar dalam sejarah awal perkembangan Islam. Peristiwa hijrah adalah pengorbanan besar pertama yang dilakukan nabi dan umatnya untuk keyakinan Islam, terutama dalam masa awal perkembangannya. Peristiwa hijrah ini juga melatarbelakangi pendirian kota Muslim pertama.
Tahun baru dalam Islam mengingatkan umat Islam tidak akan kemenangan atau kejayaan Islam, tetapi mengingatkan pada pengorbanan dan perjuangan tanpa akhir di dunia ini.

Rotasi Bulan

Hanya saja, bila dalam tahun Masehi terdapat sekitar 365-366 hari dalam setahun, dalam tahun hijriyah hanya berjumlah sekitar 354-355 hari. Menurut Izzudin, perbedaan ini dikarenakan adanya konsistensi penghitungan hari dalam kalender hijriyah.
Rata-rata jumlah hari dalam tahun hijriyah antara 29-30 hari. Sedangkan tahun masehi berjumlah dari 28-31 hari. Inilah yang membedakan jumlah hari antara tahun masehi dengan tahun hijriyah.
Pada sistem kalender Hijriyah, sebuah hari atau tanggal dimulai ketika terbenamnya matahari di tempat tersebut. Kalender Hijriyah dibangun berdasarkan rata-rata silkus sinodik bulan, memiliki 12 bulan dalam setahun. Dengan menggunakan siklus sinodik bulan, bilangan hari dalam satu tahunnya adalah (12 x 29,53059 hari = 354,36708 hari). Hal inilah yang menjelaskan hitungan satu tahun kalender Hijriyah lebih pendek sekitar 11 hari dibanding dengan penghitungan satu tahun dalam kalender Masehi.
Faktanya, siklus sinodik bulan bervariasi. Jumlah hari dalam satu bulan dalam kalender Hijriyah bergantung pada posisi Bulan, Bumi dan Matahari. Usia bulan yang mencapai 30 hari bersesuaian dengan terjadinya bulan baru (new moon) di titik apooge, yaitu jarak terjauh antara bulan dan bumi, dan pada saat yang bersamaan, bumi berada pada jarak terdekatnya dengan matahari (perihelion).
Sementara itu, satu bulan yang berlangsung 29 hari bertepatan dengan saat terjadinya bulan baru di perige (jarak terdekat bulan dengan bumi) dengan bumi berada di titik terjauhnya dari matahari (aphelion). Dari sini terlihat bahwa usia bulan tidak tetap melainkan berubah-ubah (antara 29 hingga 30 hari) sesuai dengan kedudukan ketiga benda langit tersebut (Bulan, Bumi, dan Matahari).
Penentuan awal bulan ditandai dengan munculnya penampakan Bulan Sabit pertama kali (hilal) setelah bulan baru (konjungsi atau ijtimak). Pada fase ini, Bulan terbenam sesaat setelah terbenamnya Matahari, sehingga posisi hilal berada di ufuk barat. Jika hilal tidak dapat terlihat pada hari ke-29, maka jumlah hari pada bulan tersebut dibulatkan menjadi 30 hari. Tidak ada aturan khusus bulan-bulan mana saja yang memiliki 29 hari, dan mana yang memiliki 30 hari. Semuanya tergantung pada penampakan hilal.

Kalender Hijriyah
Umar bin Khattab, ketika menjadi khalifah, bercita-cita menyatukan seluruh umat Muslim di bawah naungan Islam. Salah satu caranya adalah dengan membuat kalender Islam. Maka pada tahun 637 atau tahun ke-16 hijriah, khalifah kedua itu memberlakukan penanggalan baru berdasarkan hijrah Nabi Muhammad S.A.W. Kalender tersebut kemudian populer dengan nama kalender hijriyah atau kalender Islam.
Sebelumnya, masyarakat Arab menggunakan penanggalan berdasarkan peristiwa-peristiwa besar yang terjadi di sekeliling mereka. Salah satu contohnya, peristiwa penyerangan Raja Abrahah terhadap Ka'bah yang disebut Tahun Gajah.
Bagi Umar, seperti diungkapkan oleh Husain Haekal dalam Umar bin Khattab, peristiwa hijrah Nabi S.A.W jauh lebih besar daripada peristiwa-peristiwa bangsa Arab lainnya. Meski demikian, penetapan kalender hijriyah tetap melalui musyawarah dengan para sahabat lainnya. Pada mulanya muncul banyak sekali pendapat dan perdebatan. Ada usulan agar tahun Islam dimulai dengan kelahiran Nabi Muhammad S.A.W.
Usulan itu disetujui oleh banyak sahabat. Karena sebelumnya sering terjadi suatu kelompok menghormati orang yang sangat berpengaruh dengan cara menjadikan hari kelahirannya sebagai permulaan perhitungan tahun atau kalender. Misalnya saja penanggalan Masehi yang dikenal oleh masyarakat Arab dengan istilah tahun miladi. Miladi artinya tahun kelahiran, merujuk pada kelahiran Nabi Isa AS.
Akan tetapi, meskipun banyak sahabat yang setuju dengan usulan tersebut, khalifah Umar menolaknya. Ada pula yang mengusulkan supaya peristiwa Isra Mi'raj menjadi awal kalender hijriyah. Sementara itu, yang lainnya mengusulkan supaya tahun pengangkatan Muhammad menjadi Rasul saat menerima wahyu di Gua Hira, dan lain sebagainya. Semua usulan ini ditolak oleh Umar bin Khattab. Setelah melalui musyawarah yang ketat, Ali bin Abi Thalib mengusulkan supaya kalender Islam dimulai dengan hijrah Rasulullah dari Makkah ke Madinah. Dan usulan ini akhirnya disepakati oleh seluruh sahabat termasuk Umar bin Khattab.
Menurut Cak Nur, sapaan Nurcholish Madjid, hijrah itu suatu kegiatan atau aktivitas. Sedangkan kelahiran bukanlah kegiatan, melainkan sesuatu yang diterima secara pasif. Di samping itu, katanya, memperingati hari kelahiran seseorang di dalamnya terdapat unsur pemujaan terhadap orang itu.
Oleh karena itu, Umar menolak usulan penanggalan Islam dimulai dari kelahiran Nabi SAW. Ia memberikan alasan bahwa Nabi SAW ketika lahir belum menjadi nabi, melainkan manusia biasa. Sejarah membuktikan, prestasi gemilang Rasulullah digapai setelah melakukan hijrah.
Banyak ahli tafsir yang menyatakan, surat ad-Dhuha [93] ayat 5, “Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas,” adalah kemenangan-kemenangan yang dijanjikan Allah setelah hijrah. Dan memang, ketika Nabi wafat pada tahun ke-10 Hijriyah, beliau menjadi Nabi yang paling sukses dalam sejarah umat manusia.
Oleh karena itu, Umar sangat yakin bahwa kalender hijriyah lebih baik daripada kalender Persia dan Rumawi. Letak keistimewaannya jelas, yaitu didasarkan pada peristiwa terbesar dalam sejarah manusia yang mengubah umat jahiliyah menjadi umat beradab. Di dalam hijrah tersebut, menurut Umar, terdapat pertolongan Allah kepada Rasul dan agama-Nya.
Tahun satu penanggalan hijriyah dimulai sejak datangnya Nabi di Madinah, yaitu pada tahun 622 M. Dengan demikian, 622 Masehi disebut sebagai tahun 1 Hijrah. Sebagaimana ditulis oleh John L Esposito dalam Ensiklopedi Dunia Islam Modern, kalender hijriah kemudian menjadi bagian yang prinsip di tengah umat Islam.
Setelah ditetapkan kalender hijriyah persatuan umat Islam kala itu bertambah kuat. Haekal menuturkan pada tahun penetapan kalender hijriah (637 M), pahlawan-pahlawan Islam sedang melakukan penaklukan-penaklukan di berbagai kawasan dan membawa kemenangan. Di antaranya di wilayah Madain dan Baitul Maqdis.

Sistem Penanggalan yang Digunakan di Dunia

Masyarakat dunia mengenal beberapa macam sistem penanggalan dan kalender. Sedikitnya ada empat sistem penanggalan, yaitu kalender Hijriyah, Masehi, Saka, dan Cina. Masing-masing kalender tersebut dibangun menggunakan mekanisme penghitungan yang berbeda satu sama lain.
Kalender Hijriyah atau kalender Islam, misalnya, menggunakan sistem kalender lunar (qomariyah) yang mengacu kepada siklus perputaran bulan. Kalender Masehi menggunakan basis penghitungan kalender solar(syamsiyah) yang mengacu kepada siklus peredaran matahari.
Sementara kalender Saka dan kalender Cina menggunakan sistem penanggalan syamsiyah dan qomariyah atau sering disebut dengan istilah kalender luni-solar.

•    Penanggalan Hijriyah
Dalam menentukan tanggal atau bulan yang berkaitan dengan ibadah atau hari-hari penting lainnya, umat Islam berpatokan pada sistem penanggalan Hijriyah. Bahkan, di banyak negara yang berpenduduk mayoritas Islam, kalender Hijriyah digunakan sebagai sistem penanggalan sehari-hari.
Kalender ini dinamakan kalender Hijriyah, karena pada tahun pertama kalender ini adalah tahun dimana terjadi peristiwa Hijrah-nya Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah, yakni pada tahun 622 Masehi (M). Namun penentuan kapan dimulainya tahun 1 Hijriyah baru dilakukan enam tahun setelah wafatnya Nabi Muhammad S.A.W, atau 17 tahun setelah hijrah, yakni semasa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab.
Namun demikian, sistem yang mendasari penghitungan kalender Hijriyah telah ada sejak zaman pra-Islam, dan sistem ini direvisi pada tahun ke-9 setelah Hijrahnya Nabi SAW. Revisi sistem ini dilakukan setelah turunnya wahyu Allah, ayat 36-37 Surat At-Taubah, yang melarang menambahkan hari (interkalasi) pada sistem penanggalan.

•    Kalender Masehi
Kata Masehi (disingkat M) dan Sebelum Masehi (disingkat SM) biasanya merujuk kepada tarikh atau tahun menurut Kalender Gregorian. Awal tahun Masehi merujuk kepada tahun yang dianggap sebagai tahun kelahiran Nabi Isa al-Masih, karena itu kalender ini dinamakan Masihiyah. Kebalikannya, istilah Sebelum Masehi (SM) merujuk pada masa sebelum tahun tersebut.
Sebagian besar orang non-Kristen biasanya mempergunakan singkatan M dan SM ini tanpa merujuk kepada konotasi Kristen tersebut. Sementara penggunaannya secara internasional dalam bahasa Inggris, istilah Masehi disebut menggunakan bahasa Latin Anno Domini (AD) yang berarti Tahun Tuhan kita, dan Sebelum Masehi disebut sebagai Before Christ (BC) yang bermakna Sebelum Kristus.
Selain itu dalam bahasa Inggris juga dikenal sebutan Common Era (CE) yang berarti 'Era Umum' dan Before Common Era (BCE) yang bermakna 'Sebelum Era Umum.' Kedua istilah ini biasanya digunakan ketika ada penulis yang tidak ingin menggunakan nama tahun Kristen.
Sistem penanggalan yang merujuk pada awal tahun Masehi ini mulai diadopsi di Eropa Barat pada abad ke-8. Sistem ini mulai dirancang tahun 525, namun tidak begitu luas digunakan hingga abad ke-11 hingga ke-14. Pada tahun 1422, Portugis menjadi negara Eropa terakhir yang menerapkan sistem penanggalan ini. Setelah itu, seluruh negara di dunia mengakui dan menggunakan konvensi ini untuk mempermudah komunikasi.
Meskipun tahun ke-1 dianggap sebagai tahun kelahiran Yesus, namun bukti-bukti historis terlalu sedikit untuk mendukung hal tersebut. Para ahli menanggali kelahiran Yesus secara bermacam-macam, dari 18 SM hingga 7 SM.
Sejarawan tidak mengenal tahun 0-1 M adalah tahun pertama sistem Masehi dan tepat setahun sebelumnya adalah tahun 1 SM. Dalam perhitungan sains, khususnya dalam penanggalan tahun astronomis, hal ini menimbulkan masalah karena tahun Sebelum Masehi dihitung dengan menggunakan angka 0, maka dari itu terdapat selisih 1 tahun di antara kedua sistem.

•    Tahun Saka
Kalender Saka adalah sebuah kalender yang berasal dari India. Kalender ini merupakan sebuah penanggalan syamsiyah qomariyah (candra surya) atau kalender luni solar. Tidak hanya digunakan oleh masyarakat Hindu di India, kalender Saka juga masih digunakan oleh masyarakat Hindu di Bali, Indonesia, terutama untuk menentukan hari-hari besar keagamaan mereka.
Sistem penanggalan Saka sering juga disebut sebagai penanggalanSaliwahana. Sebutan ini mengacu kepada nama seorang ternama dari India bagian selatan, Saliwahana, yang berhasil mengalahkan kaum Saka. Tetapi sumber lain menyebutkan justru kaum Saka dibawah pimpinan Raja Kaniskha I yang memenangkan pertempuran tersebut. Peristiwa tersebut terjadi pada bulan Maret tahun 78 Masehi.
Sejak tahun 78 Masehi itulah ditetapkan adanya tarikh atau perhitungan tahun Saka, yang satu tahunnya juga sama-sama memiliki 12 bulan dan bulan pertamanya disebut Caitramasa, bersamaan dengan bulan Maret tahun Masehi. Sejak itu pula kehidupan bernegara, bermasyarakat dan beragama di India ditata ulang. Oleh karena itu peringatan Tahun Baru Saka bermakna sebagai hari kebangkitan, hari pembaharuan, hari kebersamaan (persatuan dan kesatuan), hari toleransi, hari kedamaian sekaligus hari kerukunan nasional.
Mengenai kaum Saka ada yang menyebut bahwa mereka termasuk suku bangsa Turki atau Tatar. Namun ada pula yang menyebut bahwa mereka termasuk kaum Arya dari suku Scythia. Sumber lain lagi menyebut bahwa mereka sebenarnya orang Yunani (dalam bahasa Sansekerta disebut Yavana yang berkuasa di Baktria (sekarang Afganistan).

•    Kalender Cina
Seperti halnya kalender Saka, kalendar Cina juga menggunakan sistem penanggalan //luni solar.// Menurut legenda, kalendar Cina berkembang sejak tahun ketiga sebelum Masehi. Para ahli menyepakati kalendar Cina sebagai patokan penanggalan yang paling lama digunakan di dunia. Kalendar ini dikatakan adalah ciptaan pemerintah Huang Di atau Maharaja Kuning, yang memerintah sekitar 2698-2599 SM.
Bukti arkeologi terawal mengenai kalendar Cina ditemukan pada selembar naskah kuno yang diyakini berasal dari tahun kedua sebelum Masehi atau pada masa dinasti Shang berkuasa, yang memaparkan tahun luni solar yang lazimnya 12 bulan namun kadang-kadang adanya bulan ke-13, lebih-lebih lagi bulan ke-14. Penambahan bilangan bulan dalam tahun kalendar memastikan peristiwa tahun baru tetap dilangsungkan dalam satu musim saja, sebagaimana kalender Masehi meletakkan satu hari tambahan pada bulan Februari setiap empat tahun.
Di negara Cina sekarang, kalendar Cina hanya digunakan untuk menandai perayaan orang Cina seperti Tahun Baru Cina, perayaan Duan Wu, dan Perayaan Kuih Bulan, serta dalam bidang astrologi, seperti memilih tahun yang sesuai untuk melangsungkan perkawinan atau meresmikan pembukaan bangunan baru. Sementara untuk kegiatan harian, masyarakat Cina mengacu kepada hitungan kalender Masehi.

Lain Negara Lain Sistem Kalender
Meski berpenduduk mayoritas Muslim, namun hal itu tidak menjamin sistem penanggalan dan bulan yang digunakan memiliki kesamaan. Kondisi tersebut hingga kini berlangsung di beberapa negara Muslim seperti Libya, Iran, Afganistan, Oman, dan Indonesia.

•    Libya
Negara yang terletak di kawasan Afrika Utara ini salah satu contoh negara yang menerapkan sistem kalender yang berbeda dari yang kita kenal saat ini. Dalam adat kebiasaan yang ada dan yang banyak digunakan, kita mengenal nama-nama bulan Januari, Februari, Maret, April, Mei dan seterusnya. Namun dalam hal ini Libya memiliki nama-nama tersendiri yang tidak dimiliki oleh negara lain. Penggunaan nama-nama lain tersebut memilki alasan tersendiri yaitu untuk menghapus pengaruh Yunani dan Romawi kuno yang dikenal sebagai bangsa pemuja berhala.
Libya menggunakan nama Ayyin Nar sebagai pengganti Januari. An-Nawwar pengganti Februari, Ar-Rabi' (Maret), Ath-Thair (April), Al-Mak(Mei), Ash-shaif (Juni), Nashir (Juli), Hanibal (Agustus), Al-Fatih(September), At-Tumur (Oktober), Al-Harst (November) dan Al-Kanunsebagai pengganti Desember.
Lain bulan lain pula masalah tahun. Dalam penggunaan tahun, Libya juga memiliki corak tersendiri. Ketika semuanya menggunakan tahun Masehi atau tahun Hijriyah, Libya membuat kebijakan lain. Dalam masalah tahun, Libya tidak menggunakan tahun Hijriyah, namun memakai Min wafat Ar-Rasul S.A.W. Hitungan tahun bukan dari hijrah Nabi S.A.W, namun dihitung dari wafat beliau.
Pemimpin Libya Muammar Qadafi pernah menjelaskan bahwa wafatnya Nabi S.A.W merupakan peristiwa yang sangat penting yang harus dicatat dalam sejarah. Kewafatan Nabi Muhammad adalah terputusnya wahyu dari Allah SWT karena tidak ada Nabi setelahnya. Karenanya, menurut Qadafi, kewafatan Nabi S.A.W pantas untuk dikenang dalam sejarah dan dijadikan sebagai patokan tahun.
Walaupun Libya mempunyai nama-nama bulan lain, namun nama-nama bulan Islam seperti Muharram, Safar dan seterusnya tetap dipakai untuk menandai peringatan-peringatan hari besar Islam. Sedangkan mengenai tahun, Libya cuma menggunakan tahun Maeshi dan tahun wafatnya Nabi S.A.W.

•    Oman
Kesultanan Oman menggunakan sistem penanggalan dan bulan berdasarkan kalender Hijriyah yang didasarkan pada perhitungan beredarnya bulan terhadap bumi atau orang Indonesia menyebutnya kalender Qomariyah. Sementara kalender Masehi tetap digunakan, namun terbatas di kalangan kaum imigran atau pendatang dari India atau negara-negara Eropa.

•    Indonesia
Negara di kawasan Asia Tenggara yang penduduknya mayoritas Muslim ini menggunakan sistem penanggalan dan bulan yang mengacu pada kalender Masehi, seperti kebanyakan negara di dunia. Sedangkan kalender Hijriyah digunakan secara tak resmi, yakni hanya digunakan untuk menandai peringatan hari-hari besar Islam pada kalender Masehi.

•    Iran
Meski menggunakan nama Hijriyah, namun sistem kalender di Iran berbeda dengan sistem penanggalan Hijriyah yang kita kenal selama ini. Kalender Iran adalah kalender Hijriyah Solar (kalender Hijriyah dengan perhitungan matahari). Sementara kalender Hijriyah yang kita kenal menggunakan perhitungan bulan (Qomariyah). Selain berlaku di Iran, kalender ini juga dipakai di Afganistan dan Tajikistan sebagai sesama rumpun bangsa Persia.
Kalender Iran diciptakan Raja Cyrus tahun 530 SM, dan dibuat lebih akurat pada awal abad ke-12 oleh ahli matematika dan astronomi yang juga sastrawan, Umar Khayyam (1050-1122). Tahun baru (Nawruz) selalu jatuh pada awal musim semi. Nama-nama bulan adalah Farwardin, Ordibehest, Khordad, Tir, Mordad, Shahriwar, Mehr, Aban, Azar, Dey, Bahman, dan Esfand. Enam bulan pertama 31 hari dan lima bulan berikutnya 30 hari. Bulan terakhir, Esfand, 29 hari (tahun biasa) atau 30 hari (tahun kabisat yang empat tahun sekali).
Dibandingkan dengan kalender solar yang lain, kalender Iran paling cocok dengan musim. Tanggal 1 Farwardin selalu 21 Maret (awal musim semi), tanggal 1 Tir selalu 22 Juni (awal musim panas), tanggal 1 Mehr selalu 23 September (awal musim gugur), dan tanggal 1 Dey selalu 22 Desember (awal musim dingin). Setelah bangsa Iran memeluk agama Islam, tahun hijrah Nabi (622 M) dijadikan Tahun Satu, tetapi kalender tetap berdasarkan matahari.

Sumber: republika.co.id
Oleh Syahruddin El-Fikri
(Wartawan Republika, GM Redaksi, Promosi, dan Produksi Republika Penerbit) 

Top